Pembalutan Luka Bedah

Saturday, January 16, 2010

Pembalutan luka merupakan sebuah bagian tak terpisahkan dari seluruh perawatan bedah seorang pasien. Pembalutan bedah memberikan beberapa fungsi penting (Tabel 35-1).

Tabel 35-1. Balutan Bedah

Fungsi:
Menutupi luka
Menyerap cairan luka
Memberikan tekanan
Menahan daerah bedah agar tidak bergerak
Mempertahankan lingkungan yang lembab


Manfaat:
Mengurangi kontaminasi, mengurangi trauma
Mengurangi infeksi
Hemostasis meningkat, hematoma menurun
Hemostasis meningkat, mengurangi robek jahitan
Meningkatkan laju penyembuhan, meningkatkan kebaikan penampilan

Rancangan pembalutan bedah yang tepat seringkali melibatkan penggunaan banyak lapisan (Tabel 35-2). Walaupun tidak semua pembalutan memerlukan semua komponen lapisan ini, namun prinsip pengaplikasian pembalutan tertentu berkaitan dengan semua balutan.

Tabel 35-2. Komponen-komponen pembalutan luka

Lapisan     Material
Salep        Basitrasin
        Eritromisin
        Garamisin
        Petrolatum

Lapisan Kontak    Alas tidak lengket (Telfa, Release, N-terface)
        Pembalut hidrokoloid (Duoderm, Ultec)
        Film (Op-Site, Tegaderm)
        Hidrogel (Vigilon, Nu-Gel)
       
Lapisan Penyerap    Alas kain kasa

Lapisan Pengkontur    Dental roll, gulungan kapas, alas kain kasa

Lapisan Pengaman    Plaster
            Gulungan kain kasa elastis (Kerlix, Kling)
            Kain kasa tubular (X-span)
            Perban lengket tidak berjalin
            (Cover Roll Strecth, Hypafix)

Balutan harus diaplikasikan dengan tekanan kuat dan menahan daerah yang ditutupi agar tidak bergerak tetapi tidak boleh terlalu kencang atau oklusif sehingga sirkulasi darah terganggu atau muncul masalah-masalah lain (Tabel 35-3). Perban harus datar dan tidak bergulung terhadap daerah luka dan tetap dijaga kekencangannya tanpa membiarkan ada kerutan yang akan memberikan tekanan yang tidak semestinya pada daerah tertentu. Pasien diinstruksikan untuk menyelidiki dan melaporkan jika terjadi kepucatan, kehitaman kulit, mati rasa, rasa dingin, atau pembengkakan. Jika tempat tinggal pasien jauh, bisa disarankan agar pasien menunggu sampai anestesi lokal hilang dan disarankan untuk memeriksa daerah distal ke balutan jika terjadi mati rasa sebelum pasien meninggalkan rumah sakit.

Tabel 35-3. Komplikasi Pembalutan Luka

Masalah pembalutan
Tekanan balutan yang berlebihan
Tekanan yang tidak cukup atau
lapisan pengkontur tidak efektif
Oklusi berlebihan
Lapisan kontak tidak sesuai
Reaksi plaster perekat

Komplikasi
Bula, kegagalan flap/graf
Risiko perdarahan/hematima yang meningkatkan
Infeksi  gram negatif, infeksi Candida
Nyeri dan perdarahan saat penggantian balutan
Iritan/dermattis kontak alergi

Balutan bedah pascabedah standar mencakup satu lapis salep antibiotik, bantalan tidak lengket, beberapa lapis bantal kasa, dan perban lengket. Untuk meningkatkan daya rekat perban, khususnya apabila bedah dilakukan pada bagian yang bergerak atau bagian sebasea, maka daerah bedah bisa diawalemakkan (degreased) dengan aseton atau alkohol dan diberi cairan adhesif (Mastisol). Daerah yang berambut yang akan dipasang perban di atasnya harus dicukur, tetapi hindari mencukur atau memotong bulu mata. Setelah 24 jam, jika tidak ada perdarahan signifikan yang terjadi, balutan ringan yang terdiri dari satu lapis antibiotik, satu bantal tidak lengket, dan pita perekat digunakan dan diganti setiap hari sampai masa pelepasan jahitan. Balutan khusus bisa dimodel untuk tempat-tempat anatomi tertentu, termasuk kulit kepala, hidung, telinga, dan jejari (Gbr. 35-1 sampai 35-7).

0 comments:

Post a Comment

BlueDEX Ads
 
Bloggerized by Blogger Template