Keakuratan rasio protein:kreatinin spot urin dalam penegakan diagnosis proteinuria pada wanita-wanita hamil hipertensif: review sistematis

Saturday, January 9, 2010

Abstrak

Tujuan: Untuk mereview rasio protein:kreatinin spot dan rasio albumin:kreatinin sebagai uji diagnostik untuk proteinuria pada wanita-wanita hamil hipertensif.

Desain: Penelitian ini merupakan sebuah penelitian review sistematis.

Metode Review: pencarian literatur (1980-2007) untuk artikel-artikel rasio protein:kreatinin spot atau rasio albumin:kreatinin pada kehamilan hipertensif, dengan 24 jam proteinuria sebagai pembanding.

Hasil: 13 penelitian tentang rasio protein:kreatinin spot (1214 wanita dengan sebagian besar hipertensi gestasional). Sembilan penelitian melaporkan sensitifitas dan spesifitas untuk delapan nilai batas, nilai median 24 mg/mmol (rentang 17-57 mg/mmol; 0,15-0,50 mg/mg). Uji-uji laboratorium tidak dipaparkan dengan baik. Karakteristik-karakteristik uji diagnostik dihitung kembali untuk nilai penggal 30 mg/mmol/ Tidak ada heterogeneitas signifikan untuk nilai batas yang ditemukan antara semua penelitian pada rentang proteinuria. Nilai yang digabungkan memberikan sensitifitas 83,6% (95% interval kepercayaan 77,5% sampai  89,7%), spesifitas 76,3% (72,6% sampai 80,0%), rasio kemungkinan positif 3,53 (2,83 sampai 4,49), dan rasio kemungkinan negatif 0,21 (0,13 sampai 0,31) (sembilan penelitian, 1003 wanita). Dua penelitian tentang rasio albumin:kreatinin spot (225 wanita) menemukan nilai batas optimal 2 mg/mmol untuk albuminuria. Baik untuk pendeteksian proteinuria 0,3 g/hari atau lebih pada kehamilan hipertensif. Informasi tentang penggunaan rasio albumin:kreatinin pada wanita-wanita ini tidak mencukupi.


PENDAHULUAN

Para penyedia perawatan obstetri harus terbiasa dengan diagnosis pre-eklampsia, kondisi hipertensi yang terkait dengan risiko tertinggi komplikasi maternal dan perinatal berbahaya dan kondisi yang mengenai 2-5% kehamilan. Inklusi komplikasi organ akhir dari pre-eklampsi menurut definisinya masih kontroversial. Akan tetapi, disepakati bahwa wanita dengan hipertensi kehamilan dan proteinuria baru memiliki pre-eklampsi. Demikian juga, penilaian ada atau tidak adanya proteinuria signifikan (≥0,3 g/hari) menunjukkan sebuah komponen penting dalam evaluasi wanita hamil yang mengalami hipertensi yang dilakukan oleh penyedia perawatan obstetri dan peneliti.

Pengumpulan sampel urin dalam 24 jam dianggap sebagai pembanding tradisional untuk penghitungan proteinuria pada kehamilan, apabila proteinuria signifikan didefinisikan sebagai proteinuria 0,3 g/hari atau lebih. Urin memerlukan refrigerasi dan pengumpulannya cukup rumit, memakan waktu, dan berpotensi menyesatkan jika dikumpulkan secara tidak akurat. Selain itu, juga bisa tidak mungkin untuk melengkapi pengumpulan urin ketika kelahiran terjadi, yang mengarah pada status proteinuria yang tidak ditentukan dan diagnosis pre-eklampsia yang tidak tepat; kurang dari setengah wanita yang dirujuk dengan pre-eklampsi memiliki sampel urin 24 jam yang dikirim untuk analisis. Pengumpulan sampel yang memiliki jangka waktu menunda diagnosis klinis dan bisa menghasilkan waktu inap yang lama di rumah sakit apabila sebuah gangguan hipertensif kehamilan sedang diteliti, sehingga meningkatkan kecemasan pasien dan biaya perawatan kesehatan.

Karena kekurangan pengumpulan sampel urin 24 jam, maka alternatif-alternatif untuk diagnosis proteinuria pada kehamilan telah dipertimbangkan. Ini mencakup dipstick urin, pengumpulan sampel urin dalam periode waktu singkat, rasio protein:kreatinin spot, dan rasio albumin:kreatinin spot urin. Dipstick cukup murah, mudah digunakan, dan memberikan hasi yang cepat tetap telah ditunjukkank memiliki sensitifitas dan spesifitas yang rendah untuk ekskresi protein urin dalam 24 jam. Beberapa penelitian (dan panduan-panduan dari program pendidikan tekanan darah tinggi nasional) telah mengusulkan penggunaan pengumpulan urin dengan waktu yang leih pendek (dua, empat, delapan, atau 12 jam) untuk mendiagnosa proteinuria pada kehamilan. Akan tetapi, pengumpulan yang lebih singkat, memiliki beberapa kekurangan dan pertimbangan yang terkait dengan pengumpulan sampel unrin 24 jam.

Rasio protein:kreatinin spot dan rasio albumin:kreatinin spot telah dikaji dengan baik dan digunakan selin pada kehamilan. Yayasan Ginjal Nasional sekarang merekomendasikan uji-uji ini (daripada pengumpulan urin 24 jam) untuk mendiagnosa proteinuria pada kebanyakan situasi, tanpa sebutan spesifik untuk kehamilan. The Australia Society for the Study of Hypertension in Pregnancy dan International Society for the Study of Hypertension in Pregnancy telah mengusulkan penggunaan rasio protein:kreatinin spot urin sebagai sebuah alternatif bagi pengumpulan urin 24 jam. Dari kesan kami bahwa rasio protein:kreatinin spot urin tidak banyak digunakan untuk diagnosis proteinuria pada wanita-wanita hamil yang mengalami hipertensi.

Kami melakukan sebuah review sistematis untuk menilai keakuratan rasio protein:kreatinin dan rasio albumin:kreatinin spot yang dibandingkan dengan pengumpulan urin 24 jam untuk pendeteksian proteinuria signifikan pada wanita-wanita hamil yang hipertensif.

METODE

Kami mencari literatur dalam database Medline dan Embase (Januari 1980 sampai Mei 2007) dengan menggunakan kata kunci “spot protein-creatinin”, atau “protein-to-creatinin ratio”, atau “pengumpulan albumin 24 jam”, atau “mikroalbuminuria”, atau “mikroalbumin urin”, atau “pengumpulan urin 24 jam”, atau “proteinuria,” dan judul subjek “kehamilan”, “preeklapsia”, atau “toksemia”. Kumpulan data dibatas pada “manusia dan wanita”. Kami mulai mencari literatur yang dipublikasikan dari 1980 karena rasio protein:kreatinin spot dan rasio albumin:kreatinin tidak digunakan sebelum masa ini. Sumber-sumber lain mencakup Cochrane Library, daftar referensi dari artikel-artikel utama dan panduan nastional dan internasional untuk hipertensi kehamilan, dan komunikasi pribadi dengan para ahli dalam disiplin ilmu ini.

Kami memasukkan penelitian-peneltian diagnostik yang membadningkan rasio protein:kreatinin spot urin atau rasio albumin:kreatinin dengan ekskresi protein urin selama 24 jam (24 jam proteinuria), diantara wanita-wanita hamil yang mengalami hpertensi (sekurang-kurangnya 80% populasi penelitian). Kami mengeluarkan penelitian-penelitian yang mengevaluasi rasio protein:kreatinin spot pada wanita yang mengalami kondisi-kondisi medis selain hipertensi (utamanya diabetes mellitus), yang digunakan sebagai uji referensi selain pengumpulan urin 24 jam (termasuk rasio protein:kreatinin 24 jam), yang menggunakan bahasa selain bahasa Inggris dan Perancis, atau hanya dalam bentuk abstrak.

Penilaian validitas

Karena kami tidak mengantisipasi skor yang diterbitkan untuk menilai kualitas kajian uji diagnostik, maka kami menggunakan beberapa kriteria baku yang dipenuhi oleh masing-masing paper pada QUADAS (quality assessment of studies of diagnostic accuracy in systemic review).
Abstraksi data dan karakteristik penelitian

Dua penelaan secara independen mengabstraksi data (AMC dan EL, atau AMC dan LM) dan ketidakcocokan mereka diatasi dengan kesepakatan. Kami mencatat karakteristik penelitian (penulis, jurnal, tahun publikasi, negara, desain penelitian, tujuan, tipe pusat medis, dan periode atau durasi penelitian); karakteristik partisipan (populasi penelitian, metode seleksi, kriteria inklusi dan eksklusi, apakah kasus-kasus konsekuentf, jumlah partisipan, jumlah partisipan yang dikeluarkan dan alasan dikeluarkan, karakteristik personal dan karakteristik medis wanita-wanita yang mendaftar, pasienr awat inap dibanding dengan pasien rawat jalan, tingkat aktivitas); informasi tentang bagaimana uji diagnostik dilakukan dan hasilnya (penentuan waktu rasio protein:kreatinin spot atau rasio albumin:kreatinin dibanding dengan pengumpulan urin 24 jam, metode penilaian untuk kelengkapan pengumpulan urin 24 jam, jumlah pengumpulan yang tidak lengkap, prevalensi proteinuria signifikan, rentang proteinuria, metode labroatorium untuk pengukuran protein dan kreatinin, dan hasil uji diagnostik); dan metode-metode untuk menilai keakuratan diagnostik uji dan hasil (sensitifitas, spesifitas, rasio kemungkinan positif, rasio kemungkinan negatif, metode kesepakatan (contoh, plot Bland-Altman), kurva karakteristik operasi penerima, daerah di bawah kurva, dan nilai penggal diagnostik yang diusulkan untuk proteinuria signifikan, dengan menggunakan faktor konversi 1,13 untuk mentransformasi hasil untuk rasio protein:kreatinin spot yang dilaporkan dalam mg protein/mg kreatinin menjadi unit SI mg/mmol). Apabila rasio kemungkinan positif dan negatif tidak tersedia maka kami menghitung dari sensitifitas dan spesifitas sebagai berikut: rasio kemungkinan positif = sensitifitas/(1-spesfitas) dan rasio kemungkinan negatif=(1-sensitivitas)/spesifitas. Kami tidak mengabstraksi koefisien korelasi atau nilai prediktif (positif dan negatif), karena koefisien korelasi tidak mencerminkan kesepakatan antara kedua metode dan nilai prediktis berbeda-beda menurut prevalensi kondisi yang diteliti. Kami menghubungi penulis jika ada informasi yang tidak ditemukan pada jurnal.
Sintesis data kuantitatif

Untuk masing-masing penelitian kami secara deskriptif menganalisis sensitifiras, spesiitas, rasio kemungkinan dan daerah dibawah kurva untuk kurva operasi reseiver, menurut nilai penggal yang dilaporkan. Untuk mengeksplorasi apakah keakuratan diagnostik berbeda signifikan antara penelitian-penelitian maka kami memilih nilai penggan 30 mg protein/mmol kreatinin. Dari data yang disediakan dalam badan artikel, tabel atau grafik, kami menggunakan tabel kontingensi untuk menghitung ulang karakteristik uji diagnostik dari sensitifitas, spesifitas, dan rasio kemungkinan untuk sederkat mungkin ke nilai penggal 30 mg/mmol. Jika prevalensi proteinuria yang signifikan tidak tersedia, maka kami menggunakan prevalensi median dari penelitian-penelitian yang dipublikasikan untuk menghasilkan tabel kontingensi.

Untuk memungkinan variasi ambang-batas diagnostik kami menilai heterogeneitas statistik diantara penelitian-penelitian dengan menggunakan metode regresi Littenberg dan Moses. Analisis dilakukan dengan menggunakan Microsoft Excel (2002) dan software GraphPad PRISM 4.

HASIL

Pencarian yang dilakukan menghasilkan 1416 kutipan (Gambar). Salah satu publikasi, tentang rasio protein:kreatinin spot yang tidak berbahasa Inggris atau Perancis dikeluarkan. Sebanyak 24 penelitian diambil untuk pemeriksaan lebih lanjut. Ini mencakup 13 penelitian tentang rasio protein:kreatinin spot (225 wanita), yang diterbitkan antara 1996 dan 2007. Sembilan penelitian dikeluarkan karena mendaftarkan populasi campuran dari wanita hamil yang tidak sebagian besar hipertensif (n = 3), yang mendaftarkan hanya wanita yang mengalami proteinuria, yang timpang tindih dengan penelitian yang lebih baru lainnya, mengevaluasi rasio protein:kreatinin dari sebuah pengumpulan yang berbasis waktu (n=1), hanya melaporkan korelasi antara rasio albumin:kreatinin spot dan albumin urin 24 jam, atau tidak meneliti rasio protein:kreatinin atau rasio albumin:kreatinin. Tidak ada artikel tambahan yang diambil setelah menyelidiki daftar referensi dan setelah menghubungi para ahli.

Rasio protein:kreatinin spot

Penilaian validitas

Skor penilaian kualitas berkisar antara 7 sampai 12 (tabel 1); skor yang lebih rendah menunjukkan deskripsi yang tidak lengkap dari kriteria seleksi, spektrum penyakit, atau bagaimana uji diagnostik dilkukan. Kebanyakan dari penelitian ini adalah penelitian prospektif (n=10) dan cross sectional (n=11). Tak satupun yang menyebutkan berapa banyak wanita memenuhi syarat yang dilibatkan, dan hanya dua yang menyatakan perekrutan wanita yang memenuhi syarat. Sepuluh penelitian menyatakan alasan pemberhentian atau eksklusi dari analisis. Pasangan tes yang tidak lengkap untuk analisis berkisar antara 11-32% sampel. Alasan-alasan yang dinyatakan untuk pengumpulan yang tidak lengkap mencakup prosedur dan penyaluran pengumpulan sampel yang tidak memadai.

Karakteristik penelitian dan partisipan

Penelitian-penelitian tentang rasio protein:kreatinin spot menganalisis sampel dari 30-220 wanita (median 75). Wanita mengalami hipertensi gestasional (lima penelitian), hipertensi gestasional dengan proteinuria (suspek pre-eklampsia; n = 5), atau gangguan hipertensif kehamilan (n=3). Sepuluh penelitian mendaftarkan wanita yang dirujuk ke rumah sakit. Dua penelitian mengeluarkan wanita yang perlu istirahat di tempat tidur. Enam penelitian mengeluarkan wanita yang mengalami penyakit medis tertentu seperti hipertensi yang telah ada, diabetes, atau penyakit ginjal dan enam penelitian mengeluarkan wanita yang mengalami infeksi saluran kencing atau bakteriuria.

Uji diagnostik

Prevalensi proteinuria signifikan (≥0,3 g/hari) bervariasi mulai dari 21% sampai 83% (nilai median 55%, n=11; tabel 2). Kisaran proteinuria 24 jam bervariasi dari normal hingga nefrotik: 0-26,5 g/hari (n=11). Kisaran untuk rasio protein:kreatinin spot berbeda-beda dari 0-2991 mg/mmol (n=9).

Penentuan waktu rasio protein:kreatinin spot yang relatif terhadap pengumpulan urin 24 jam bervariasi: sebelum (n=9), setelah (n=1), sebelum atau setelah (n=1), atau selama (n=2). Sembilan penelitian menyatakan bahwa rasio protein:kreatinin tidak didasarkan pada sampel yang pertama dikeluarkan pada siang hari. Pada empat penelitian kelengkapan pengumpulan urin 24 jam dinilai dengan ekskresi kreatinin urin atau dengan menanyai para wanita. Dalam salah satu penelitian, urin dikumpulkan dengan kateter oley pada 89% (196/220) wanita karena perdarahan vaginal (post partum), pekerja aktif, atau perawatan dengan magnesium sulfat

Protein dan kreatinin urin diukur dengan banyak metode laboratorium (berbagai reagen, metode manual atau otomatis). Sekurang-kurangnya luma metode analitis digunakan untuk protein (Biuret, reaksi merah pyrolgallol, asam sulfosalisilat, asam trikloroasetat, metode turbidimetri, dan benzethonium klorida) dan sekurang-kurangnya dua digunakan untuk kreatinin.

Hasil uji diagnostik

Dua penelitian hanya melaporkan koefisien korelasi dan dikeluarkan dari tabel 3. Area di bawah kurva dilaporkan oleh sembilan dari 11 penelitian lainnya dan berkisar antara 0,82 sampai 0,97. Nilai batas untuk rasio protein:kreatinin spot yang memaksimalkan sensitifitas dan spesifitas bisa diidentifikasi untuk sembilan dari 11 penelitian. Tidak ada konsistensi yang ditemukan pada bagaimana nilai-niai batas ini dilaporkan, dan satuan-satuan yang digunakan berbeda (mg/mmol, mg/g, mg/mg, dan g/g). Delapan nilai batas digunakan, dengan median 24 mg/mmol dan kisaran 17 sampai 57 mg/mmol (0,15-0,5 mg/mg). Sensitifitas rata-rata adalah 91% (kisaran 41-100%). Rasio kemungkinan positif rata-rata adalah 9,1 (kisaran 1,54 sampai tidak terbatas) dan nilai median rasio kemungkinan negatif adalah 0,14 (kisaran 0,04 – 0,37). Salah satu penelitian menunjukkan plot Bland-ALtman untuk menilai kecocokan antara rasio protein:kreatinin spot dan proteinuria 24 jam dan menemukan kecocokan yang baik, khususnya untuk kisaran rendah proteinuria (<0,5 g/hari).

Sintesis data kuantitatif

Sembilan penelitian memiliki data yang diperlukan untuk penentuan nilai batas 30 mg/mmol (tabel 4). Sensitifitas dan spesifitas kelihatannya tidak terkait dengan prevalensi proteinuria signifikan, atau kisaran proteinuria (Tabel 2). Tidak ada perbedaan signifikan yang ditunjukkan antara penelitian-penelitian untuk ukuran baru keakuratan diagnostik bagi nilai batas 30 mg/mmol (P=0,94): dalam perhitungan, 0,99 digunakan untuk spesifitas apabila spesifitas yang dilaporkan adalah 1,00.

Rangkuman ukuran untuk keakuratan diagnostik adalah: sensitifitas 83,6% (95% interval kepercayaan 77,5% sampai 89,7%), spesifitas 76,3% (72,6% sampai 80,0%), rasio kemungkinan positif 3,53 (2,83 sampai 4,99), dan rasio kemungkinan negatif 0,21 (0,13 sampai 0,31) (1003 wanita). Ketika prevalensi proteinuria signifikan bervariasi antara 0,25 sampai 0,75 untuk satu penelitian tanpa prevalensi yang diketahui, sensitifitas dan spesifitas tidak berbeda. Eksklusi salah satu penelitian yang menggunakan kateter untuk pengumpulan urin menghasilkan sensitifitas gabungan 84,8% (78,7%saampai 90,8%) dan spesifitas gabungan 79,1% (75,3% sampai 82,8%); hasilnya cukup mirip (809 wanita). Uji-uji yang digunakan untuk mengukur protein atau kreatinin tidak disebutkan secara rinci untuk memungkinkan analisis imbas metode laboratorium terhadap hasil.

Rasio albumin:kreatinin spot

Dua penelitian rasio albumin:kreatinin yang dimasukkan dianggap memiliki kualitas yang baik ketika alat untuk kualitas penelitian tentang uji diagnostik digunakan. Sebanyak 225 wanita dirujuk ke sebuah unit obstetri dengan hipertensi kehamilan. Sebanyak 77 (45%) wanita mengalami proteinuria 0,3 g/hari atau lebih. Ekskresi albumin urin 24 jam berkisar antara 0-11,2 g/hari dan rasio albumin:kreatinin spot dari 0,3-640 mg/mmol. Keakuratan diagnostik untuk rasio albumin:kreatinin spot sangat baik ketika dibandingkan dengan proteinuria atau dengan albuminuria 24 jam. Tidka memungkinkan untuk mengelompokkan hasil penelitian untuk rasio albumin:kreatinin spot karena standar berbeda yang digunakan untuk perbandingan.

DISKUSI

Penghitungan proteinuria sangat penting bagi pengamatan wanita hamil hipertensif. Panduan-panduan di Australia dan Internasional yang relevan mendukung penggunaan rasio protein:kreatinin spot. Uji ini tersedia dari semua laboratorium yang menentukan konsentrasi protein dan konsentrasi kreatinin pada pengumpulan urin 24 jam.

Kami mengidentifikasi 13 penelitian (1214 wanita) terhadap rasio protein:kreatinin spot yang digunakan pada wanita hamil hpertensif. Delapan nilai batas berbeda dipublikasikan, yang kelihatannya sedikit berbeda, sebagian karena variabilitas unit yang digunakan untuk nilai batas untuk protein urin dan kreatinin urin: mg/mmol. mg/g, mg/mg, dan g/g. Ini lebih dipersuit oleh populasi wanita hamil yang berbeda, yang mencakup wanita normotensif. Adalam review ini kami memasukkan penelitian-penelitian yang hanya berfokus pada wanita-wanita yang mengalami gangguan hipertensi pada kehamilan, yang mana kami yakin bahwa rasio protein:kreatininnya memiliki kegunaan yang paling potensial.

Sensitifitas dan spesifitas dalam penelitian rasio-penelitian rasio protein:kreatinin spot berbeda-beda, seperti yang diharapkan. Kami membandingkan hasil-hasil keakuratan diagnostik dengan menggunakan nilai batas 30 mg/mL untuk rasio protein:kreatinin spot, seperti direkomendasikan dalam panduan-panduan yang telah diterbutkan. Hasil yang dikelompokkan tidak sensitif untuk kisaran proteinuria atau metode pengumpulan urin. Secara keseluruhan, rasio kemungkinan positif adalah dari buruk hingga cukup. Akan tetapi, rasio kemungkinan negatif adalah cukup sampai baik, sehingga menunjukkan bahwa rasio protein:kreatinin spot yang kurang dari 30 mg/mmol merupakan uji yang cukup baik untuk proteinuria 0,3 g/hari atau lebh.

Uji-uji spesifik albumin digunakan secara ekstensif di luar kehamilan untuk pendeteksian “mikroalbuminuria” - yakni, 0,03-0,3 g/hari – karena uji-uji albumin lebih spesifik dibanding protein urin total untuk penyakit ginjal sebagai akibat dari diabetes melitus atau hipertensi. Kami menemukan dua penelitian (225 wanita) yang memeriksa penggunaan rasio albumin:kreatinin spot pada kehamilan. Uji ini sangat baik dalam mendiagnosa proteinuria atau abuminuria 0,3 g/hari atau lebih tetapi data yang ada sangat terbatas untuk mendukug penggunaantes ini pada kehamilan.

Kekuatan dan kelemahan review

Kekuatan review kami mencakup fokusnya pada wanita hamil hipertensif dan wanita hamil yang dirujuk ke rumah sakit (baik sebagai pasien rawat inap atau pasien rawat jalan dalam unit penilaian sehari) yang mencerminkan mereka yang ditemui pada praktik klinis untuk pemeriksaan proteinuria. Wanita-wanita ini memiliki kisaran proteinuria yang luas dan spektrum hipertensi kehailan yang ditemukan dalam praktik klinis. Kami melaporkan karakteristik tes diagnostik yang mendukung untuk nilai batas 30 mg/mmol, sebagaimana direkomendasikan oleh masyarakat Internasional. Salah satu penelitian tidak menemukan perubahan signifikan dalam hal hasil ketika spesimen urin dianalisis dalam 24 jam.

Review kami memiliki kekurangan. Pertama, kami mengeluarkan satu artikel yang diterbitkan dalam bahasa selain bahasa Inggris atau Perancis. Kedua, kami mengeluarkan abstrak karena tidak mungkin memberikan rincian yang cukup untuk review. Ketiga, kami telah membahas fokus penelitian-penelitin yang dimasukkan tentang pasien rawat-jalan; pelaporan kelengkapan yang tidak memadai untuk pengumpulan urin 24 jam dan penggunaannya sebagai pembanding tradisional untuk diagnosis proteinuria; dan uji-uji laboratorium variabel untuk protein urin, albumin, dan kreatinin (khususnya untuk urin dari wanita hamil yang memiliki protein spesifik yang bisa mengganggu imunoasai). Meskipun dengan kekurangan-kekurangan ini kami tidak menemukan heterogeneitas antara penelitian-penelitian dalam hal keakuratan diagnostik rasio protein:kreatinin spot, Terakhir, ketika kami menilai kualitas penelitian kami sering menemukan deskripsi yang tidak memadai tentang kriteria seleksi, spektrum penyakit, dan bagaimana uji diagnostik dilakukan.

Kami tidak mampu mengidentifikasi adanya evaluasi ekonomi formal tentang rasio protein:kreatinin spot atau rasio albumin:kreatinin pada gangguan hipertensif kehamilan. Walaupun pengukuran albumin umumnya lebih mahal dibanding pengukuran protein, namun teknik-teknik telah dikembangkan untuk mengukur albumin dalam setting klinis. Diantara pasien-pasien rawat jalan yang hamil dengan penyakit ginjal pengurangan empat kali lipat dilaporkan dengan penggunaan rasio protein:kreatinin spot dan formula Cockcroft-Gault (untuk memperkirakan bersihan kreatinin, yang tidak divalidasi untuk kehamilan) dibandingkan dengan pengumpulan urin 24 jam untuk proteinuria dan bersihan kreatinin. Biaya-biaya potensial lainnya untuk pengumpulan urin 24 jam mencakup perujukan ke rumah sakit, waktu penanganan di laboratorium, dan pengawasan keperawatan yang lebih besar.

Mungkin kekurangan paling penting literatur yang kami review adalah dijadikannya status pengumpulan urin 24 jam sebagai standar terhadap mana uji proteinuria lain dibandingkan. Selain kehamilan pengumpulan urin 24 jam telah menemukan masalah dengan kelengkapan, batas waktu, dan kinerja. Akan tetapi, pada kehamilan, masalah ditingkatkan oleh dilasi fisiologis ureter dan pengosongan kandung empedu yang tidak lengkap sebagai akibat dari uterus yang membesar, keduanya bisa menyebabkan kesalahan pengumpulan sampel yang signifikan. Kesalahan-kesalahan ini bisa dihindari dengan hidrasi yang memadai untuk mempertahankan aliran urin dan standardisasi teknik pada awal dan akhir pengumpulan sampel. Idealnya sebuah kateter urin akan dipasang, yang tidak praktis, realtif invasif, dna bisa mengarah pada infeksi.

Arti review

Hasil dari review kami ini menunjukkan bahwa rasio protein:kreatinin spot merupakan sebuah uji diagnostik yang baik untuk proteinuria 0,3 g/hari atau lebih, diantara wanita sehat dengan hipertensi kehamilan dengan atau tanpa proteinuria. Walaupun kami mengeluarkan wanita yang mengalami penyakit ginjal, namun dua penelitian relevan, dimasukkan dalam sebuah review 2003 yang menguji kehamilan sebagai sebuah sub-kelompok, dan memberikan kesimpulan yang serupa. Dari 13 penelitian yang dimasukkan dalam review kami, sembilan tidak menggunakan sampel urin yang pertama kali dikeluarkan untuk rasio protein:kreatinin spot, sehingga menandakan bahwa uji ini bermanfaat selama siang hari. Walaupun sampel di pagi hari setelah spesimen urin yang pertama dikeluarkan telah dibuktikan lebih besar kemungkinannya mencerminkan proteinuria 24 jam di luar kehamilan, namun penelitian-penelitian tentang kehamilan tidak konsisten temuannya tentang variasi diurnal proteinuria, dan tidak ada efek signfikan dari waktu pengambilan sampel urin seperti yang ditemukan pada kehamilan jika sampel berurutan untuk rasio protein:kreatinin dianalisis selama lebih dari 24 jam.

Rasio protein:kreatinin mudah dan tepat waktu ketika laboratorium melakukan analisis harian terhadap proteindan kreatinin. Wanita juga bisa mampu menghindari perujukan ke rumah sakit untuk penilaian proteinuria dan dinilai ulang dengan mudah jika ada pertimbangan klinis rekuren tentang evolusi penyakit. Akan tetapi, proteinuria merupakan salah bagian dari tahapan diagnostik untuk pre-eklampsia yang diduga, yang mana terdapat kriteria diagnostik lain dan pertimbangan klinis lain. Selain itu, komplikasi serius, bisa terjadi tanpa adanya proteinuria.

Kami tidak mendukung penggunaan rasio protein:kreatinin urin atau rasio albumin:kreatinin untuk pemantauan atau penghitungan proteinuria pada kehamilan. Rasio protein:kreatinin spot belum menjadi metode yang terpercaya untuk menghitung proteinuria baik di luar atau selama kehamilan.
Pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab dan penelitian di masa mendatang

Sejak akhir 1990an banyak penelitian yang telah mendukung rasio protein:kreatinin spot dengan proteinuria 24 jam, tetapi rasio protein:kreatinin spot belum banyak diadopsi dalam praktik obstetri. Alasan-alasan untuk untuk kebutuhan ini masih diselidiki. Alasannya bisa mencakup: sembilan nilai batas yang diterbitkan di empat unit; baha hanya International and Australian Societies untuk penelitian hipertensi pada kehamilan yang telah menerbtkan nilai batas 30 mg/mmol untuk diagnosis proteinuria yang signifikan; dan perspektif konservatif dan medikolega penyedia perawatan obstetri yang tidak harus kehilangan diagnosis pre-eklampsia dan dengan demikian akan resisten untuk melarang pembanding tradisional tanpa bukti yang kuat.

Kami masih memerlukan informasi tambahan tentang validitas nilai batas protein:kreatinin spot 30 mg/mmol utnuk pendeteksian hasil kehamilan, diantara pasien rawat inap dan rawat jalan dengan pre-eklampsia yang diduga. Penelitian lebih lanjut juga harus membahas imbas terhadap kinerja uji dari penentuan waktu rasio protein:kreatinin spot dan penggunaan berbagai uji protein dan kreatinin untuk urin kehamilan, serta akurasi formula untuk estimasi bersihan kreatinin pada kehamilan dengan penurunan penggunaan pengumpulan sampel urin 24 jam.

0 comments:

Post a Comment

BlueDEX Ads
 
Bloggerized by Blogger Template