KERATOSIS SEBORHEIK

Sunday, December 27, 2009

Sifat-Sifat Penting

  • Makula, papula, plak atau lesi polipoid yang sangat umum, biasanya mengenai orang yang berusia diatas 30 tahun; jumlahnya terus meningkat seiring dengan bertambahnya usia.
  • Sering tampak seperti kutil (verrucous) atau melekat pada kulit.
  • Cenderung terjadi pada wajah, leher dan trunkus
  • Bisa terjadi dimana saja kecuali membran mukosa, telapak tangan, atau telapak kaki
  • Banyak variannya dan bisa berbeda-beda warnanya mulai dari putih sampai hitam.
  • Sangat jarang tanda Leser-Trelat, sebuah proliferasi atau peningkatan ukuran dan jumlah keratosis seborheik multiple, bisa menjadi penanda tumor ganas internal.

Pendahuluan

Keratosis seborheik merupakan lesi jinak yang sangat umum pada kulit, yang banyak ditemukan pada orang-orang yang lebih tua. Terkadang letaknya terpencil, lesi-lesi ini tampak sebagai banyak papula atau plak coklat (Gbr. 110.1). Lesi-lesi ini sering mengganggu penampilan pasien, dan bisa menjadi gatal atau teriritasi. Keratosis seborheik juga bisa disalahartikan sebagai melanoma, khususnya apabila berpigmen gelap. Penglihatan dan pendengaran bisa terganggu jika lesi terdapat pada kelopak mata atau auditory meatus eksternal.

   
Banyak varian klinis dan histologis dari keratosis seborheik yang telah dilaporkan dan, walaupun keratosis seborheik biasanya mudah dikenali secara klinis, beberapa diantaranya sulit didiagnosa dengan pemeriksaan saja sehingga biopsi untuk pemeriksaan histopatologi mungkin diperlukan. Ini khususnya berlaku apabila terdapat riwayat perubahan terbaru atau jika terjadi inflamasi. Tanda Leser-Trelat, kenampakan secara tiba-tiba atau ekspansi ukuran dan jumlah keratosis seborheik multiple secara besar-besaran, khususnya jika disertai dengan pruritus, telah diketahui sebagai sebuah penanda kutaneous untuk tumor-ganas internal.

Sejarah

Tanggal penemuan pertama keratosis seborheik tidak pasti. Pada tahun 1927, Frudenthal menjabarkan gambaran klinis dan histologisnya.

Epidemiologi

Terdapat predisposisi familial dengan kemungkinan pewarisan dominan autosomal untuk terjadinya keratosis seborheik. Ada beberapa data statistik tentang prevalensi, kecenderungan jender, ras, atau distribusi geografis. Hampir semua penelitian epidemiologi menemukan penyakit ini sebagai temuan yang tidak disengaja. Lesi-lesi ini dilaporkan lebih umum pada populasi kaukasoid dan mengenai pria dan wanita dengan tingkat kejadian yang sama. Keratosis seborheik tidak lazim pada orang yang berusia dibawah 30 tahun, dan jika sudah mulai terjadi, lesi-lesi baru terus muncul seumur hidup orang yang bersangkutan. Lesi-lesi bisa berjumlah sedikit, walaupun ada yang bisa mencapai ratusan, khususnya pada orang lanjut usia.
Patogenesis

Walaupun tidak umum dianggap sebagai penyebab keratosis seborheik, karena lesi yang terjadi umum pada bagian-bagian yang tertutupi pakaian, keterpaparan terhadap sinar matahari telah disebutkan sebagai sebuah faktor risiko untuk terjadinya keratosis seborheik karena lesi-lesi keratosis seborheik terjadi lebih dini dan diamati lebih sering pada mereka yang tinggal di daerah beriklim tropis. Sebuah penelitian di Australia menunjukkan prevalensi keratosis seborheik yang lebih tinggi pada bagian-bagian yang terpapar sinar matahari, seperti leher dan kepala, berbeda dengan bagian-bagian yang tertutupi pakaian dari orang yang sama. Mereka juga melaporkan subjek yang lebih muda dan prevalensi lesi lebih tinggi jika dibandingkan dengan penelitian di Inggris, kemungkinan karena frekuensi keterpaparan sinar matahari pada populasi-populasi ini.

Walaupun keratosis seborheik sering tampak seperti kutil (verrucous) secara klinis, namun virus HPV telah sesekali dideteksi, khususnya pada lesi-lesi di daerah genital yang kemungkinan menunjukkan condyloma acuminata. Pada kasus dimana HPV ditemukan pada bagian tubuh yang lain, pertanyaan juga muncul seperti apakah lesi-lesi yang diteliti benar-benar verrucae.

Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa lesi bersumber dari monoklonal pada lebih setengah keratosis seborheik yang dievaluasi, sehingga menandakan asal-usul neoplastis bukan hyperplastis. Keratosis seborheik kemungkinan berasal dari sebuah proliferasi keratinosit infundibular folikular, dan telah dianggap sebagai salah satu bentuk tumor folikular. Perubahan distribusi reseptor faktor pertumbuhan epidermis juga telah diusulkan sebagai mekanisme penyebab, atau setidak-tidaknya sebagai mekanisme tambahan. Apoptosis telah terbukti memegang peranan dalam diferensiasi skuamous pada keratosis seborheik yang mengalami iritasi.

Gambaran Klinis

Keratosis seborheik hanya terjadi pada kulit yang ditumbuhi rambut, dan selalu tidak mengenai permukaan-permukaan mukosal, telapak tangan, dan telapak kaki. Wajah, leher, dan trunkus – khususnya punggung atas, dan esktremitas – umum terkena. Lesi biasanya berbatas tegas, dan mencakup makula, papula, atau plak, tergantung pada stadium perkembangannya. Lesi biasanya berwarna coklat terang (lihat Gbr. 110.1) tetapi bisa juga tampak kuning berlilin sampai hitam kecoklatan. Terkadang pasien mengalami keratosis berwarna putih pada batang tubuhnya. Lesi-lesi ini biasanya datar saat pertama kali ditemukan, tetapi dari waktu ke waktu, lesi-lesi ini menjadi verrucous, polipoid atau pedunculated. Sumbatan keratotik dengan tonjolan folikular menghasilkan permukaan yang berbintik atau halus dan memberikan kenampakan seperti “melengket”, yang biasanya membantu dalam membedakan keratosis seborheik dari lesi-lesi berpigmen lainnya. Lesi-lesi individual bisa tumbuh lebih dari 5 cm, tetapi kebanyakan lesi biasanya hanya berukuran 0,5-1 cm diameternya. Lesi-lesi bisa menjadi inflamasi akibat pecahnya pseudocyst horn kecil atau trauma. Infeksi dengan mikroorganisme seperti Staphylococcus aureus tidak lazim terjadi. Lesi yang terinflamasi atau trauma sering eritematosa dan berkerak, dan bisa terasa nyeri atau pruritus. Kebanyakan keratosis seborheik bersifat asimptomatik, kecuali untuk kenampakan kosmesisnya.

Penyembuhan spontan, walaupun biasa diamati, tidak merupakan ciri yang umum dari keratosis seborheik, bahkan setelah inflamasi. Kondisi-kondisi yang terkait dengan suar (flare) spontan yang diikuti dengan kemunduran lesi mencakup kehamilan, dermatosis inflamasi yang terjadi bersamaan (khususnya eritroderma), dan tumor ganas. Kemunduran lesi biasanya terjadi ketika kondisi yang bersangkutan diobati atau sembuh. Alasan yang diusulkan untuk kemunduran lesi ini mencakup faktor virus, perubahan faktor-faktor pertumbuhan, dan stimulus lokal.

Kondisi-kondisi yang dianggap sebagai varian keratosis seborheik mencakup dermatitis papulosa nigra, stucco keratosis, dan keratosis folikular terinversi. Ini akan dibahas pada bagiannya masing-masing.
Patologi

Ada sekurang-kurangnya enam tipe histologis dari keratosis seborheik, yaitu: acanthotik, hiperkeratotik, reticulated, clonal, teriritasi, dan melanoacanthoma. Tipe-tipe berbeda sering timpang-tindih dalam lesi yang sama sehingga menghasilkan kenampakan yang beragam, tetapi kebanyakan lesi menunjukkan derajat hiperkeratosis, acanthosis, dan papillomatosis yang berbeda-beda. Pseudocyst horn, produk invaginasi epidermis iris-melintang, juga dianggap sebagai ciri penting.

Umumnya, dasar lesi keratosis seborheik terletak pada bidang horizontal datar yang diapit oleh epidermis normal pada kedua sisinya. Acanthosis karakteristik adalah akibat dari akumulasi sel basaloid dan sel skuamous jinak, yang lazimnya menonjol keluar dan keatas dengan cara yang tidak beraturan. Batas tegas dari dasar kebanyakan lesi disebut sebagai “tanda benang”. Kemungkinan ada dominasi sel-sel skuamous  yang lazimnya ditemukan dalam epidermis. Lesi-lesi lain memiliki sel-sel basaloid yang kecil dan seragam, dengan inti yang hiperchromatik dan sitoplasma yang jarang dibanding dengan nukleus. Atypia sitologi tidak lazim sebagai ciri keratosis seborheik, berbeda dengan keratosis aktinik. Atypia ringan hingga sedang dan figur mitotik, jika ada, biasanya terkait dengan lesi-lesi yang teriritasi atau terinflamasi.

Keratosis seborheik acanthotic merupakan tipe histologis yang paling umum, yang biasanya tampak sebagai sebuah papula atau plak yang berbentuk seperti kubah dan memiliki permukaan halus. Keratosis seborheik biasanya lebih mudah disalahartikan sebagai melanocytic nevus. Terdapat sangat sedikit hiperkeratosis dan papillomatosis, meskipun epidermis yang menebal lazimnya mengandung banyak sel basaloid (Gbr. 110.2). Papillae bisa berukuran sempit pada beberapa lesi, sedangkan yang lainnya bisa tersusun atas agregat-agregat sel epitelium yang saling terjalin mengelilingi sebuah jaringan konektif dalam pola retiformis. Pseudocyst horn yang terinvaginasi paling prevalen pada varian ini. Irisan melintang epidermis sering menandakan kenampakan cystic juga.

Secara kuantitatif, melanin sering meningkat dalam tipe achantotik keratosis seborheik. Ini utamanya terpusat pada keratinosit dan ditransfer dari melanosit-melanosit tetangga. Melanosit pada keratosis seborheik terdapat utamanya pada pertemuan dermis-epidermal pada dasar lesi serta pada pertemuan antara saluran-saluran epitelium dan stroma dermal. Lesi-lesi yang berpigmen dalam juga mengandung melanin yang melimpah dalam sel-sel basaloid.

Tipe hiperkeratotik dari keratosis seborheik, yang juga dikenal sebagai keratosis seborheik digitated, serrated, atau papillomatous, hampir memiliki morfologi yang berkebalikan dari tipe acanthotic. Pada lesi-lesi ini, terdapat acanthosis tetapi ada hiperkeratosis dan papillomatosis yang lebih menonjol. Lebih banyaknya sel-sel skuamous relatif terhadap sel-sel basaloid juga ditemukan. Pigmentasi yang signifikan tidak lazim. Pseudocyst yang berkerationisasi juga tidak sering. Tip hiperkeratotik merupakan varian yang sering disebutkan memiliki proyeksi-proyeksi epidermal yang menyerupai “menara gereja”, sebuah temuan yang juga ditemukan pada acrokeratosis verruciformis.

Tipe keratosis seborheik reticulated, yang umum disebut tipe adenoid (walaupun tidak glandular), ditandai oleh rantai-rantai epitelium rumit yang membentang mulai dari epidermis (Gbr. 110.3). Ini tersusun atas baris ganda atau lebih sel-sel basaloid yang bisa berhiperpigmentasi. Pseudocyst horn kurang umum pada keratosis seborheik reticulated. Tipe keratosis seborheik ini dianggap kemungkinan timbul akibat lentigo surya pada beberapa kasus.

Sebuah infiltrat inflamasi sering dominan dalam dermis keratosis seborheik yang terinflamasi atau teriritasi. Infiltrat ini bisa perivaskular, difus, atau lichenoid. Spongiosis sering terdapat dalam lesi-lesi yang terinflamasi, dan disini bisa menjadi diskeratosis. Squamous eddie merupakan temuan yang umum pada keratosis seborheik teriritasi. Ada lingkaran-lingkaran keratinosit eosinofilik (Gbr. 110.4). Keratosis seborheik yang teriritasi sering tidak memiliki dasar horizontal berbatas-tegas seperti yang ditemukan pada kebanyakan keratosis seborheik.

Tipe klonal, atau tipe nested dari keratopsis seborheik ditandai dengan kumpulan-kumpulan sel dalam epitelium, yang menyerupai pola Borst-Jadassohn seperti yang diamati pada beberapa contoh penyakit Bowen. Kumpulan-kumpulan sel ini sebagian besar tersusun atas keratinosit-keratinosit dengan berbagai ukuran yang sering lebih pucat dibanding sel-sel di sekitarnya. Sel-sel ini bisa mengandung melanosit. Jembatan antar-sel terdapat diantara keratinosit-keratinosit, tetapi terkadang sulit diamati. Keratosis seborheik klonal bisa dianggap sebagai tipe khusus dari keratosis seborheik teriritasi.

Melanoacanthoma pada awalnya dijelaskan oleh Bloch dan disebut “non-nevoid melano-epithelioma, tipe 1”. Melanoacanthoma sekarang ini dianggap sebagai sub-tipe histologis dari keratosis seborheik, yang disebut sebagai keratosis berpigmen tetapi terkadang masih dikenal sebagai melanoacanthoma. Melanosit-melanosit biasanya tersebar di seluruh lesi dan, walaupun keratinosit-keratinosit mengandung beberapa melanin, pigmen sebagian besar terdapat dalam melanosit yang sangat dendritus. Melanoacanthoma berbeda dari tipe-tipe keratosis seborheik lain yakni dalam hal melanin pada tipe keratosis seborheik lain hampir hanya terdapat dalam keratinosit, dan tidak ada peningkatan jumlah pigmentasi melanosit secara signifikan. Pigmentasi berat meanoacanthoma telah dijelaskan dengan pemblokiran transfer melanin ke keratinosit. Mekanisme kerusakan masih belum jelas.

Melanoacanthoma intraoral atau melanoacanthosis pertama kali dilaporkan pada tahun 1979. Lesi-lesi ini memiliki kemiripan klinis dengan tipe keratosis seborheik melanoacanthoma. Secara histologis, lesi-lesi ini berbeda dari varietas kutaneous, karena memiliki sedikit hiperplasia epitelium. Gambaran histologinya paling mirip dengan lentigo berpigmen simpleks dengan proliferasi melanosit dendritus dalam lapisan basal epitelium.

Diagnosis Banding

Kebanyakan keratosis seborheik dapat diidentifikasi secara klinis dengan mudah, walaupun ada entitas-entitas yang mungkin memiliki kenampakan yang mirip. Diagnosis banding klinis utamanya mencakup acrochordon, verruca vulgaris, condyloma acuminatum, acrokeratosis verruciformis, tumor infundibulum follicular, poroma ekrin, penyakit Bowen, karsinoma sel skuamous invasif, lentigo surya, nevus melanocytic, dan melanoma. Dari sudut pandang patologi, kondisi-kondisi papillomatous lain bisa dipertimbangkan, tetapi ini pada umumnya sangat berbeda jika ditinjau dari basis klinis. Pertimbangan-pertimbangan mencakup acanthosis nigricans, epidermal nevus, papillomatosis confluent dan reticulated Gougerot dan Carteaud.

Diagnosis banding untuk berbagai proliferasi epitelum dalam bab ini digambarkan pada Gambar 110.5. Acrochordon paling umum pada kelopak mata, leher, aksila, inguinal, atau dibawah payudara. Keratosis seborheik bisa ditemukan pada lokasi-lokasi tersebut juga, tetapi lebih acanthotic dan kurang tepat untuk disebut tipe pedunculated. Epidermal nevus bisa menyerupai keratosis seborheik, tetapi biasanya muncul pada saat lahir atau selama awal-awal masa anak-anak, dan memiliki konfigurasi linear atau melingkar.

Verrucae vulgaris cenderung lebih menyukai lutut, tangan, dan jari, sedangkan condyloma acuminata memiliki kecenderungan pada daerah genital. Verruca vulgaris dan condyloma acuminata mengandung virus HPV. Koilositosis, gundukan parakeratosis, hipergranulosis, dan kapiler dermal yang membesar bisa menjadi temuan yang membentu, tetapi temuan-temuan ini tidak selamanya terlihat. Bukti infeksi HPV bisa memerlukan teknik-teknik molekuler, tetapi kajian-kajian DNA tidak digunakan secara rutin. Virus HPV telah dilaporkan pada beberapa lesi anogenital dengan gambaran klinis dan histologis keratosis seborheik, walaupun sangat mungkin lesi-lesi ini adalah condyloma acuminata dengan gambaran morfologi keratosis seborheik dan bukan keratosis seborheik yang terjadi akibat infeksi virus.

Keratosis seborheik makular tampak hampir identik dengan lentigo surya tetapi berbeda dalam hal kurangnya sisik dan penonjolan. Pemeriksaan dari dekat terhadap keratosis seborheik makular sering menunjukkan sedikit penonjolan diatas makula datar sesungguhnya. Lentigo surya terkadang dianggap mewakili tipe keratosis seborheik teretikulasi. Dari waktu ke waktu, lesi-lesi ini dianggap berkembang menjadi keratosis seborheik ketika tunas-tunas sel basaloid berpigmen menjadi lebih tebal dan terdapat acanthosis yang lebih besar. Lentigo surya, keratosis seborheik teretikulasi, dan keratosis seborheik yang berpigmentasi dalam terkadang sulit dibedakan dari lentigo maligna secara klinis, dan pada kasus-kasus seperti ini, dermoskopi bisa bermanfaat dalam memungkinkan pembedaan diantara keduanya.

Keratosis seborheik (khususnya keratosis seborheik acanthotic) bisa disalahartikan sebagai melanocytic nevus secara klinis, khususnya apabila kenampakan “melengket” tidak jelas. Pemeriksaan histologis selanjutnya memungkinkan pembedaan yang mudah. Yang sulit adalah pembedaan klinis antara keratosis seborheik dan verrucous melanoma. Sebuah review terbaru terhadap 20 pasien yang mengalami tipe melanoma ini menemukan bahwa 50% lesi dianggap merupakan keratosis seborheik secara klinis. Lebih lanjut, diagnosis histopatologi nevus jinak terkadang salah diinterpretasi pada 10% pasien. Gambaran karakteristik melanoma mencakup proliferasi melanosit atipikal, melanosit pagetoid, dan figur mitotik.

Pembedaan antara beberapa kasus keratosis seborheik teriritasi, karsinoma sel skuamous in situ (penyakit Bowen), dan karsinoma sel skuamous invasif (SCC) sering memerlukan pemeriksaan histopatologi. Keratosis seborhoik yang teriritasi bisa salah didiagnosa sebagai tumor ganas jika terdapat atypia. Walaupun squamous eddies bisa melimpah pada keratosis seborheik teriritasi atau SCC, namun tidak boleh ada perluasan sampai ke dalam dermis pada keratosis seborheik teriritasi. Penyakit Bowen menunjukkan banyaknya keratinosit atypikal, yang mendekati nukleus, mitosis yang melimpah, dan parakeratosis yang menonjol. Epitelium adneksal juga terlibat. Secara klinis, penyakit Bowen bisa berwarna coklat kemerahan, dan keratosis seborheik teriritasi atau terinflamasi bisa menunjukkan gambaran klinis serupa sehingga, pada lesi yang tidak dapat dipastikan, biopsi diperlukan. Terkadang, penyakit Bowen bisa ditemukan berkembang dalam keratosis seborheik yang telah ada.

Keratosis seborheik acanthotic bisa menyerupai poromas eccrine secara histologis. Kenampakan klinis biasanya agak berbeda dari keratosis seborheik. Poromas paling umum pada telapak kaki dan kulit kepala, dan merupakan papula atau plak kemerahan yang rapuh yang bisa pedunculated dan multilobular, sering dengan “parit” di daerah sekitarnya. Secara histologis, poroma terdiri dari sel-sel basofil kecil yang seragam dan homogen (sel-sel poroid) dengan koneksi ke epitelium permukaan dan stroma fibrovaskular yang rumit. Kunci untuk membedakan dari keratosis seborheik adalah keberadaan ductal lumina sempit dengan kutikel eosinofilik, positif-PAS, dan resisten diastase. Walaupun poroma tidak ganas, namun terkadang bisa mengalami degenerasi ganas menjadi porokarsinoma yang bisa disalahartikan sebagai keratosis seborheik teriritasi.

Tumor pada infundibulum follikular, sebuah neoplasma follikular yang tidak umum, biasanya terdapat sebagai papula di kepala dan leher pada individu usia paruh-baya sampai usia lanjut. Secara histologis, tumor infundibulum ditandai dengan proliferasi epitelium mirip plat-superfisial yang terdiri dari keratinosit pucat sampai basaloid yang menjembatani antara folikel-folikel disekitarnya atau rete ridges. Tipe keratosis seborheik reticulated memiliki pola serupa, tetapi kekurangan struktur mirip-plat.

Melanoacanthoma oral juga bisa menstimulasi melanoma secara klinis. Ini terkait dengan trauma oral dan terjadi hampir hanya pada individu kulit hitam. Kondisi ini lebih umum ditemukan pada wanita, dan biasanya terjadi antara dekade ke-dua dan ke-empat masa hidup. Kondisi ini bisa mengalami kemudnuran setelah trauma penyebab berkurang. Secara histologi, melanoacanthoma oral menunjukkan melanosit dendritus yang menonjol dalam epitelium acanthotic mukosa mulut.

Hiperkeratosis nevoid puting merupakan kondisi langka dimana terdapat penebalan areola yang berhiperpigmentasi. Ini merupakan temua tersendiri yang tidak terkait dengan kondisi lain. biopsi identik dengan keratosis seborheik, khususnya varietas reticulated.

Keratosis Seborheik dan Tumor Ganas

Hubungan antara tumor ganas kulit yang muncul baik didalam maupun disekitar sebuah keratosis seborheik belum dipahami dengan baik, walaupun terkadang diamati. Karsinoma sel basal (BCC), in situ, SCC invasif, keratoacanthoma, dan melanoma semua telah ditunjukkan berhubungan dengan keratosis seborheik. Karsinoma sel basal merupakan neoplasma paling umum yang ditemukan dalam kaitannya dengan keratosis seborheik, walaupun baru satu penelitian prospektif yang mengidentifikasi hanya SCC in situ ketika 1310 kasus yang dikelompokkan sebagai keratosis seborheik klinis dievaluasi secara histologis. Karsinoma sel skuampus in situ ditemukan secara histologis pada 60 dari spesimen ini (1,4%). Teori “tubrukan”, yang mengusulkan bahwa proses jinak dan proses ganas terpisah terjadi pada tempat sama, telah dianggap sebagai penyebab kejadian ini, khususnya karena prevalensi kedua lesi ini yang terjadi secara independen. Akan tetapi, yang lain menyebutkan bahwa BCC dan keratosis seborheik keduanya berasal dari bagian infundibular folikel rambut yang bisa berkembang menjadi neoplasma. Pada beberapa kasus keduanya bisa terjadi bersamaan.

Tanda Leser-Trelat pertama kali ditemukan pada tahun 1990 dan, walaupun banyak yang menganggapnya sebagai penanda yang terpercaya untuk tumor ganas internal, namun validitasnya telah ditentang karena frekuensi neoplasia dan keratosis seborheik pada orang lanjut usia. Disamping itu, beberapa penelitian yang menyelidiki keratosis seborheik dan hubungannya dengan tumor ganas internal banyak yang tidak konklusif. Dalam salah satu review retrospektif terhadap 1752 pasien dengan diagnosis keratosis seborheik, 62 didiagnosa dengan tumor ganas internal 1 tahun sebelum atau setelah diagnosis keratosis seborheik. Dari jumlah ini, enam memiliki hasil pemeriksaan yang konsisten dengan tanda Leser-Trelat. Akan tetapi, kelompok kontrol yang disesuaikan menurut usia dan jender menunjukkan temuan-temuan yang serupa. Mereka yang mendukung tanda Leser-Trelat sebagai tanda tumor-ganas internal menyebutkan bahwa pada beberapa kasus ini terkait dengan acanthosis nigrican ganas, dan adenokarsinoma gastrik, tumor ganas yang paling umum dideteksi, relatif tidak umum dalam populasi. Neoplasma-neoplasma terkait lainnya mencakup karsinoma payudara, adenokarsinoma colonic, dan lymphoma. Beberapa orang mengklaim bahwa tanda ini penting dalam mendeteksi dan mengobati tumor ganas pada stadium awal pada pasien yang asimptomatik.

Patogenesis tanda Leser-Trelat tidak pasti, tetapi telah dipostulasikan disebabkan oleh sekresi faktor pertumbuhan oleh neoplasma yang pada gilirannya mengarah pada hiperplasia epitelium. Temuan-temuan pada kulit umumnya disertai dengan perkembangan neoplasma, seringkali pulih ketika diobati atau dieksisi dan muncul kembali dengan rekurensi atau metastasis. Evaluasi seorang pasien dengan tanda Leser-Trelat tergantung pada temuan-temuan klinis, tetapi cukup bijak untuk melakukan pemeriksaan endoskopi gastrointestinal lengkap disamping riwayat lengkap dan pemeriksaan fisik, hematologi dan kimiawi, radiograf dada dan mammogram.

Pengobatan

Pengobatan keratosis seborheik sebagian besar dilakukan untuk alasan kosmetik. Jika terdapat pruritus terkait, perdarahan atau inflamasi, penghilangkan dianggap sesuai. Jika ada pertanyaan tentang diagnosis klinis, pemeriksaan histopatologis sangat penting. Ini khususnya benar pada lesi-lesi yang telah berubah, tampak terinflamasi, atau atipikal kenampakannya. Pengobatan biasanya dengan pengangkatan yang bersifat destruktif atau dengan bedah termasuk eksisi gunting. Modalitas destruktuf yang umum mencakup krioterapi, elektrodesikasi, dan ablasi laser karbon dioksida.

0 comments:

Post a Comment

BlueDEX Ads
 
Bloggerized by Blogger Template