Sifat-Sifat Khusus Olimpiade: Pengaruh Terhadap Sistem Kekebalan

Saturday, January 16, 2010

Pendahuluan
   
Para ahli imunologi olahraga telah mengetahui bahwa jumlah olahraga yang berlebihan bisa menyebabkan penekanan fungsi kekebalan secara sementara dan dikhawatirkan perubahan seperti ini bisa meningkatkan kerentanan terhadap infeksi virus dan kemungkinan juga kerentanan terhadap bentuk-bentuk kanker tertentu. Infeksi pernapasan dan infeksi virus lainnya memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap kesehatan dan produktivitas populasi umum. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa olahraga dapat meningkatkan virulensi virus tertentu pada mamalia-mamalia kecil dan dengan demikian ada kekhawatiran bahwa jika atlit berkompetisi atau terus melakukan latihan sementara terinfeksi virus, mereka bisa mengalami myokarditis fatal.

   
Telah banyak penelitian epidemiologi yang dilakukan tentang topik ini, tetapi masih relatif sedikit yang melibatkan atlit internasional. Aktivitas fisik  sedang bisa mengurangi kerentanan terhadap infeksi virus dan mengurangi kerentanan terhadap bentuk-bentuk kanker tertentu. Akan tetapi, respon terhadap intensitas aktivitas sedang hanya memiliki sedikit relevansi untuk atlit internasional. Informasi tentang kompetisi keras dan kerentanan terhadap kanker juga sangat terbatas. Makalah kali ini berfokus pada penelitian-penelitian yang mengkaji isu apakah aktivitas fisik yang padat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi pernapasan atas. Sebuah pemeriksaan cermat terhadap literatur yang ada dilakukan, menilai kualitas rancangan penelitian, teknik yang digunakan untuk menilai aktivitas fisik dan infeksi serta seluruh metodologi epidemiologi. Prinsip-prinsip klasik yang disebutkan oleh Bradford Hill kemudian diterapkan untuk menentukan apakah ada bukti yang baik tentang hubungan sebab-akibat antara volume kegiatan fisik yang berlebihan dengan kerentanan yang meningkat terhadap infeksi.

Kualitas rancangan penelitian
   
Banyak penelitian tentang aktivitas fisik dan kerentanan terhadap infeksi yang melibatkan banyak sampel atletik dan, ukuran-ukuran yang dipilih untuk aktivitas fisik dan infeksi pernapasan atas tidak terlalu signifikan. Terkadang penanganan data juga gagal memenuhi kriteria epidemiologi moderen.
Pengukuran aktivitas fisik
   
Sebuah penelitian epidemiologi yang mengaitkan kejadian penyakit vaskular koroner dengan kadar aktivitas fisik yang biasa dilakukan telah menunjukkan tujuh karakteristik untuk tipe pengamatan ini. Karakteristik-karakteristik ini mencakup; (i) definisi operasional dari aktivitas fisik; (ii) instrumen yang valid dan terpercaya untuk pengukuran aktivitas fisik; (iii) kategorisasi perilaku individual ketimbang kelompok; (iv) ketersediaan informasi tentang frekuensi, intensitas dan durasi aktivitas; (v) penentuan tingkat aktivitas fisik sebelum pengamatan; (vi) data tentang kepatuhan terhadap program olahraga yang diteliti; dan (viii) pengumpulan data sistematis dengan metode-metode standar.
   
Banyak data yang telah dikumpulkan oleh para ilmuwan olahraga dan mungkin untuk alasan inilah pengukuran aktivitas fisik pada umumnya mendapatkan skor yang lebih tinggi dibanding penilaian infeksi atau metodologi epidemiologi keseluruhan. Untuk atlit internasional, kelihatannya bahwa penelitian-penelitian di masa mendatang akan terus didasarkan pada indeks-indeks seperti tingkat kompetisi, performa yang dicapai pada event tertentu dan pemeriksaan cermat terhadap schedule latihan.

Bukti infeksi pernapasan atas
   
Bukti infeksi pernapasan atas idealnya didasarkan pada kriteria objektif, seperti pendeteksian virus dalam isolat-isolat atau serokonversi. Akan tetapi, informasi biasanya didapatkan dari catatan-catatan medis atau respon individual terhadap sebuah kuisioner mengenai kejadian 13 – 14 gejala pernapasan. Hanya kadang-kadang gejala-gejala seperti ini dinilai menurut keparahannya. Durasi gejala yang dipertimbangkan dalam laporan tidak memenuhi perjalanan klinis dari infeksi pernapasan atas, yang bisa berlangsung 10-20 hari.
   
Penelitian-penelitian terhadap kondisi fisik dan kerentanan terhadap infeksi dinilai dari segi strandarisasi kriteria diagnostik, ukuran-ukuran diambil dengan mengeluarkan pasien yang memiliki kondisi alergi, objektivitas diagnosa dan adanya kemungkinan pengaruh status aktivitas fisik terhadap pemantauan klinis. Sayangnya, beberapa penelitian bisa diberi skor yang sangat tinggi dalam hal ini. Penelitian lebih lanjut harus diarahkan untuk menghilangkan individu yang memiliki kondisi alergi dan mencakup metode-metode objektif untuk menilai keparahan dan durasi infeksi pernapasan atas.

Metodologi epidemiologi
   
Populasi yang diteliti harus mewakili kelompok target, dan seperti disebutkan sebelumnya, beberapa peneliti memiliki peluang untuk meneliti para atlit internasional. Ada kemungkinan bahwa kompetisi yang sering bisa menyebabkan individu seperti ini mengalami stress yang akan memicu infeksi.
   
Faktor seperti kemungkinan kontak dengan infeksi, jender, usia, tingkat stress, kesehatan umum, status gizi dan penggunaan suplemen makanan bisa mempengaruhi risiko infeksi pernapasan atas. Idealnya, toleransi terhadap pengaruh seperti ini harus dilakukan dengan analisis kovarians atau pencocokan subjek kontrol secara cermat, tetapi ini jarang dicapai sampai sekarang ini.
   
Beberapa penelitian yang tersedia tentang aktivitas fisik dan kerentanan terhadap infeksi pernapasan atas memiliki rancangan retrospektif dan yang lainnya prospektif. Pada pendekatan prospektif, banyak wawancara yang digunakan untuk meneliti apakah kejadian infeksi berubah pada saat merespon terhadap pola-pola aktivitas fisik. Pada beberapa kasus, kejadian infeksi dibandingkan dengan ekspektasi untuk populasi umum.
Kualitas Keseluruhan  Penelitian dan Kesimpulan
   
Kualitas penelitian-penelitian epidemiologi yang direview disini berdasarkan dampak olahraga bagi kerentanan terhadap infeksi sangat bervariasi. Beberapa penelitian memiliki rancangan penelitian yang baik, tetapi yang lainnya hanya memenuhi sedikit kriteria metodologi.
   
Dari tujuh penelitian yang memiliki rating tertinggi, tiga diantaranya memiliki kerentanan yang tinggi terhadap infeksi yang terkait dengan olahraga yang meningkat; ini mencakup atlit dayung universitas dan dua kelompok pelari jarak jauh, tetapi tidak ada atlit internasional. Empat penelitian lainnya menunjukkan tidak ada efek atau ditemukan penurunan kerentanan terhadap infeksi; tak satupun dari kelompok ini yang merupakan atlit khusus.
   
Dari delapan penelitian yang memiliki rating sedang (8-13 poin), lima memiliki peningkatan kerentanan terhadap infeksi; empat dari penelitian ini melibatkan pelari jarak jauh dan satu sampel bauran antara atlit-atlit internasional dimana 19 dari 39 atlit memiliki tanda-tanda kelelahan kronis. Dari tiga penelitian yang memiliki penurunan kerentanan terhadap infeksi pernapasan atas, satu melibatkan olahraga sedang pada subjek lansia dan dua melibatkan pelari jarak jauh, satu merupakan kelompok yang mencakup jarak pelatihan sampai 42 km/pekan.
   
Pada 10 penelitian yang memiliki rating terendah, lima menunjukkan peningkatan infeksi dengan olahraga yang meningkat; ini mencakup para perenang tingkat internasional, orienteers, atlit universitas, perenang rekreasional dan partisipan dalam program pelatihan perang khusus. Temuan negatif mencakup sebuah kelompok atlit dayung internasional, pemain ski lintas negara, pelari maraton, program olahraga sekolah, dan partisipan dalam pelatihan militer dasar.
   
Temuan ini tidak berarti seragam, tetapi kemungkinan temuan peningkatan atau penurunan kerentanan terhadap infeksi kelihatannya tidak begitu dipengaruhi oleh kualitas rancangan penelitian.

Bukti Kausalitas
   
Bradford Hill telah menyebutkan bahwa, setelah menghilangkan hubungan yang samar dan tidak langsung, maka sifat kausal dari sebuah hubungan harus dinilai berdasarkan sembilan kriteria, yaitu: kekuatan, konsistensi, kebenaran temporal dan kespesifikan hubungan, eksistensi gradien biologis, kewajaran biologis, koherensi penjelasan, verifikasi eksperimental dan analogi. Sekarang kami akan menerapkan kriteria-kriteria terhadap temuan berkenaan dengan olahraga, fungsi kekebalan dan infeksi.

Hubungan keliru dan hubungan tidak langsung
   
Hubungan keliru atau hubungan tidak langsung antara aktivitas fisik dan infeksi pernapasan atas bisa muncul melalui pelaporan selektif oleh orang-orang yang terkena, pemeriksaan klinis selektif terhadap yang memiliki performa terbaik, dampak lingkungan dan faktor gaya hidup dan pengaruh psikologis.
Pelaporan selektif dan pemeriksaan klinis selektif
   
Banyak penelitian yang respondennya hanya sedikit yang mengembalikan kuisioner tentang gejala-gejala pernapasan. Dengan diemikian diduga bahwa ada respon selektif dari mereka yang mengalami infeksi pernapasan atas, yang memperburuk kejadian penyakit.
   
Kelemahan lainnya adalah bahwa surveilans medis kemungkinan meningkat selama periode pelatihan intensif dan pada saat-saat kompetisi. Ini selanjutnya dapat meningkatkan kemungkinan diagnosis infeksi pernapasan atas, khususnya pada penelitian-penelitian dimana episode infeksi telah didiagnosa oleh dokter. Sayangnya ada beberapa penilaian objektif untuk infeksi saluran pernapasan atas. Salah satu penelitian yang mengukur berat sekresi mucus nasal menemukan tidak ada pengaruh antara olahraga sedang terhadap jumlah durasi infeksi pernapasan atas.

Efek Lingkungan
   
Gejala-gejala infeksi pernapasan atas yang diduga umumnya mencakup luka kerongkongan dan nasofaring, radang selaput hidung dan batuk dengan demam yang minimal. Respon seperti ini tidak spesifik dan bisa dengan mudah mencerminkan iritasi pernapasan dan bronchospasma yang ditimbulkan oleh peningkatan ventilasi, bernafas dengan mulut dan keterpaparan saluran pernapasan terhadap dingin, kering atau udara yang terpolusi. Lebih lanjut, penghirupan udara yang terpolusi oksidan bisa menimbulkan respon akut dari makrofage-makrofage alveolar, dengan penekanan terhadap respon kekebalan.

Faktor Gaya Hidup
   
Tempat terjadinya kompetisi dan perjalanan yang terkait dengannya bisa menyebabkan atlit terpapar terhadap berbagai mikroorganisme yang belum biasa mereka dapati, sehingga meningkatkan risiko infeksi pernapasan atas, bahkan jika tidak terdapat perubahan apapun untuk kerentanan alami atlit. Periode latihan berat juga bisa menimbulkan kekurangan gizi penting seperti glutamin, arginin, L-carnitin, asam-asam lemak esensial, vitamin B6, vitamin C, vitamin E, asam folat dan unsur-unsur runut. Dampak atlit yang dilatih masih masih kontroversial, tetapi defisiensi jumlah zat ini bisa memiliki efek berbahaya terhadap respon kekebalan dan terhadap kerentanan terhadap infeksi.
   
Besarnya partisipasi sedang dalam aktivitas fisik terkait positif dengan status sosial ekonomi individu. Status sosial ekonomi yang tinggi bisa mengurangi keterpaparan terhadap beberapa faktor yang mempengaruhi respon kekebalan, khususnya merokok dan polutan udara.

Pengaruh psikologis
   
Telah semakin dipahami bahwa ada hubungan antara hipothalamus dan sistem kekebalan yang memodulasi dampak aktivitas fisik terhadap fungsi imun, dan terhadap kerentanan bagi infeksi. Efek aktivitas fisik berat dan tekanan psikologis cenderung memberi tambahan bagi sistem kekebalan seorang atlit yang kemungkinan menghadapi tantang lebih besar dibanding subjek kontrol.

Kekuatan hubungan
   
Intensitas aktivitas fisik sedang terkadang hanya memiliki sedikit pengaruh terhadap kerentanan bagi infeksi pernapasan atas. Akan tetapi, pada peristiwa-peristiwa yang membutuhkan daya tahan tinggi, kekuatan efek terhadap infeksi pernapasan atas sangat relatif dengan kekuatan hubungan yang lain, seperti yang terkait dengan aktivitas fisik kebiasaan dan penyakit jantung ischemik atau kanker usus. Beberapa laporan telah menunjukkan penggandaan risiko dari sebuah infeksi pernapasan atas akibat latihan berat atau kompetisi.

Konsistensi hubungan
   
Sebuah hubungan kausal harus diamati secara konsisten pada berbagai populasi dan lingkungan. Sayangnya, peningkatan kerentanan terhadap infeksi pernapasan atas yang ditimbulkan olahraga tidak diamati secara konsisten. Salah satu review telah menemukan delapan penelitian dimana risiko infeksi meningkat seiring dengan olahraga, empat dimana risiko tidak berubah dan lima berkurang. Bahkan jika perhatian dipusatkan pada atlit yang memerlukan daya tahan lama, kerentanan yang meningkat dari pelari maraton dan ultramaraton sangat berbeda dengan para pemain ski lintas negara dimana tidak ada perubahan risiko yang diamati.

Kecocokan temporal dan hubungan
   
Pertandingan aktivitas fisik atau periode pelatihan berat secara konsisten mendahului episode simptomatologi pernapasan atas. Akan tetapi, aspek-aspek lain dari hubungan dengan waktu tidak memuaskan. Kebanyakan laporan telah memeriksa gejala-gejala selama pekan pertama sampai 10 hari setelah kompetisi berlangsung. Akan tetapi, jika sebuah pertandingan olahraga memiliki efek biologis terhadap kerentanan melalui penekanan sistem kekebalan, infeksi tidak akan mungkin terjadi sampai 24-48 jam masa inkubasi telah lewat.
Kespesifikan hubungan
    Jika hubungan antara aktivitas fisik dan kerentanan cukup spesifik, maka risiko selalunya meningkat seiring dengan volume aktivitas, atau paling tidak harus memenuhi hubungan yang dihipotesiskan. Akan tetapi ini tidak terjadi. Sekurang-kurangnya satu penelitian terhadap pemain ski lintas negara tidak memenuhi kriteria kerentanan yang meningkat dan hanya 16% dari atlit yang menyadari ambang latihan yang dapat meningkatkan infeksi pernapasan atas.

Kewajaran biologis
   
Perubahan respon kekebalan yang ditimbulkan oleh latihan berat dan pertandingan tunggal memberikan beberapa kewajaran bilogis bagi hubungan yang diusulkan antara aktivitas fisik dan kerentanan terhadap infeksi. Akan tetapi, banyak dari perubahan fungsi kekebalan yang disebabkan olahraga akut ini hanya berlangsung singkat (2-24 jam) dan mencerminkan utamanya sebuah redistribusi sel dan bukan penekanan fungsi kekebalan sejati.
   
Itulah sebabnya masih belum jelas apakah setiap penekanan sistem kekebalan yang ditimbulkan olahraga sudah cukup besar dan durasinya untuk memiliki dampak yang signifikan terhadap kerentanan terhadap infeksi virus. Dampak keseluruhan dari berbagai perubahan tampaknya adalah daya respon kekebalan setelah pertandingan aktivitas fisik akut dan pelatihan intensif. Dampak olahraga yang sangat berat terhadap kerentanan terhadap virus-virus pernapasan belum diuji secara eksperimental, tetapi respon terhadap tetanus dan diphtheria toxoid dan terhadap polisakarida pneumokokal berkurang selama beberapa hari setelah partisipasi dalam olahraga angkat besi.

Verifikasi eksperimental
   
Telah ada upaya-upaya yang dilakukan untuk verifikasi hipotesis olahraga secara eksperimental, baik pada subjek manusia maupun pada subjek hewan, walaupun tidak ada yang melibatkan atlit papan atas.
   
Pada satu penelitian terhadap hewan, mencit jantan diinokulasi secara intranasal dengan virus herpes simplex. Waktu kematian berkurang signifikan dan waktu morbiditas menunjukkan kecenderungan yang sama ketika mencit yang kelelahan karena gerakan dibandingkan dengan mencit yang hanya melakukan gerakan sedang. Peneliti lain juga telah menemukan gerak badan yang membuat lelah atau stress meningkatkan mortalitas dari virus tertentu dan mempersingkat waktu kematian.
   
Penelitian eksperimental pada manusia didasarkan pada instilasi virus pernapasan. Mungkin karena partisipan hanya terlibat dalam olahraga intensitas sedang, infeksi eksperimental memiliki sedikit pengaruh terhadap kemungkinan untuk mengalami infeksi atau sedikit pengaruh terhadap durasinya.

Penelitian di masa mendatang
   
Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk sifat-sifat hubungan antara aktivitas fisik dan kerentanan terhadap infeksi pernapasan atas, jika memungkinkan dengan menggunakan metode-metode pengumpulan data yang mutakhir. Diperlukan untuk meneliti kerentanan terhadap infeksi pada berbagai dosis olahraga pada subjek yang sama. Jika ada ambang batas yang diamati, maka pengamatan lebih lanjut akan diperlukan untuk menentukan bagaimana ambang batas ini dipengaruhi oleh usia, jender, kebugaran secara keseluruhan dari individu dan tipe olahraga yang sedang dilakukan. Juga penting untuk meneliti korelasi biologis dari dosis aktivitas fisik yang berlebihan, dalam hal endotokemia yang mungkin, akumulasi prostaglandin atau spesies reaktif dan penipisan gizi-gizi penting. Terakhir, jika sebuah mekanisme biologis yang jelas ditemukan, maka diperlukan untuk menguji seberapa jauh penekanan sistem kekebalan bisa dibalikkan dengan terapi yang sesuai.

Kesimpulan
   
Konsep ahli imunologi olahraga yang ada sekarang adalah bahwa olahraga sedang dapat meningkatkan fungsi imun dan meningkatkan pula resistensi terhadap infeksi virus, sedangkan olahraga yang melelahkan menekan respon kekebalan dan meningkatkan kerentanan. Ini tampaknya beralasan dan sesuai dengan pemahaman kami terhadap seluruh respon stress. Akan tetapi, literatur yang tersedia sekarang ini tentang hubungan antara aktivitas fisik dan kerentanan terhadap infeksi pernapasan atas mengandung banyak kontradiksi.

0 comments:

Post a Comment

BlueDEX Ads
 
Bloggerized by Blogger Template