Sebuah kasus anafilaksis terhadap klorheksidin selama pemeriksaan rektal digital

Friday, January 29, 2010

Abstrak

Klorheksidin banyak digunakan sebagai antiseptik dan disinfektan dalam lingkungan medis dan non-medis. Walaupun tingkat pemekaan (sensitisasi) cukup rendah, namun penggunaannya yang sudah sedemikian luas menimbulkan kemungkinan pemekaan (sensitisasi) pada banyak pasien dan staf perawatan medis. Disini kami memaparkan seorang pasien dengan anafilaksis selama pemeriksaan rektal digital dengan jeli klorheksidin. Urtikaria, angioedema, dyspnea, dan hipotensi terjadi dalam beberapa menit pemeriksaan rektal. Pasien sembuh sempurna setelah pengobatan dengan epinefrin dan kortikosteroid. Uji kulit untuk klorheksidin dilakukan 5 pekan kemudian, yang menunjukkan uji tusukan positif dan uji kulit intradermal yang positif. Dalam 30 menit setelah tes kulit, pasien mengeluhkan sensasi demam, sesak dada, angioedema, dan urtikaria pada wajah dan trunkus. Uji alergosorbent enzim untuk latex menunjukkan hasil negatif. Kami menyajikan kasus ini untuk memperingatkan para dokter tentang hipersensitifitas terhadap klorheksidin yang berpotensi membahayakan jiwa pasien. Kami menyarankan agar klorheksidin harus dijadikan sebagai agen penyebab anafilaksis selama intervensi-intervensi prosedural.

Kata kunci: klorheksidin, anafilaksis, pemeriksaan rektal digital


PENDAHULUAN

Klorheksidin, sebuah antiseptik dan disinfektan bisguanida kationik, merupakan zat yang aktif terhadap berbagai bakteri, mikobakteri, beberapa virus dan beberapa jamur. Dalam lingkungan medis, zat ini digunakan dalam bentuk garam asetat atau glukonat, dan umumnya digunakan dengan antiseptik lain atau anestesi lokal. Disamping itu, zat ini juga digunakan dalam produk-produk non-medis seperti sabun, kosmetik, pasta gigi, dan obat kumur. Pengaplikasian klorheksidin yang sangat luas menimbulkan kemungkinan pemekaan (sensitisasi) pada sebuah populasi umum yang besar.

Sejak diperkenalkannya klorheksidin, berbagai reaksi hipersensitifitas terhadap agen ini telah dilaporkan, termasuk dermatitis kontak, dermatitis fotosensitif, erupsi akibat obat, urtikaria kontak, asma pekerjaan, dan reaksi hipersensitifitas langsung seperti kejut anafilaksis parah, yang cukup jarang tetapi merupakan komplikasi yang membahayakan nyawa pasien. Baru-baru ini, telah banyak yang berfokus pada reaksi-reaksi hipersensitifitas akibat klorheksidin, disebabkan karena meningkatnya laporan kejut anafilaksis imbas klorheksidin. Pada laporan kasus berikut, kami menyajikan sebuah kasus anafilaksis akibat pengaplikasian klorheksidini pada kulit (secara topikal) selama pemeriksaan rektal digital.

LAPORAN KASUS

Seorang laki-laki berusia 45 tahun mendatangi rumah sakit kami untuk memeriksa gejala-gejala saluran kencing bawah. Pasien telah diobati karena diabetes melitus dan telah mengalami hemorroidektomi 2 tahun sebelumnya. Riwayat medisnya tidak begitu berbeda kecuali ada idiosyncrasy akibat zat warna radio-kontras, dan dia tidak memiliki penyakit atopik lain. Pemeriksaan fisik menunjukkan tidak ada hal yang abnormal. Pemeriksaan rektal digital dilakukan dengan 10 mL klorheksidin 0,05% sebagai disinfektan lokal rektal oleh seorang dokter yang mengenakan sarung tangan lateks. Dalam waktu 2 menit pemeriksaan, pasien mengeluhkan rasa pusing dan sesak dada. Ruam urtikaria menyeluruh, pembengkakan wajah, dan pembengkakan bibir selanjutnya terjadi. Tekanan darah pasien berkurang menjadi 75/48 mmHg. Dia langsung dirujuk ke instalasi rawat darurat, dan mendapatkan epinefrin subkutaneous (1:1.000, 0,3 mL), dan klorfeniramin intravena 45 mg dan metilprednisolon 60 mg. Untungnya, tekanan darah ini meningkat menjadi normal kembali beberapa saat setelah pemberian epinefrin, dan lesi-lesi kulitnya mulai sembuh dalam beberapa menit. Pasien tetap diamati selama 5 jam dan dia sembuh total.

Hasil laboratorium mencakup: jumlah sel darah putih 12.000/m3 (eosinofil 0,7%), hemoglobin 15,3 g/dL, jumlah trombosit 261.000/uL, dan total imunoglobulin E 17 kU/L (0-85 kU/L). Reaksi terhadap lateks diduga, tetapi IgE spesifik-lateks tidak ditemukan.

Lima pekan kemudian, uji tusukan kulit terhadap alergen-alergen umum (Dermatophagoides farinae, D. Pteronyssinus, cendawan, dan polen) menunjukkan hasil negatif dan uji kulit dengan 5% klorheksidin dilakukan. Pengenceran klorheksidin 1:100 menunjukkan hasil positif lemah, akan tetapi, pengenceran 1:10 dan 1:1 menunjukkan hasil positif kuat; Disamping uji tusukan kulit, kami juga melakukan tes intradermal dengan 5% klorheksidin. Pengenceran 1:100, 1:10, dan 1:1 semuanya memberikan hasil positif (Tabel 1 dan Gbr. 1). Larutan garam normal dan etilalkohol digunakan sebagai kontrol negatif, dan histamin digunakan sebagai kontrol positif. 30 menit setelah uji tusukan klorheksidin dan uji intradermal, pasien mengeluhkan sensasi demam, sesak dada, pembengkakan wajah, dan ruam kulit pruritus (Gbr. 2). Dia sembuh spontan beberapa jam kemudian.

PEMBAHASAN

Klorheksidin (rumus kimia C22H30Cl2N10-C6H-12O7) merupakan disinfektan yang umum digunakan dalam setting medis dan non-medis. Sebagai sebuah garam asetat atau glukonat, klorheksidin diaplikasikan secara topikal ke kulit atau membran mukosa, luka, lecur, instrumen bedah, dan permukaan. Hanya ada satu laporan kasus tentang kejut anafilaksis akibat klorheksidin di Korea. Pada tahun 2007, Kim dkk., melaporkan reaksi anafilaksis parah setelah penggunaan jeli klorheksidin untuk kateterisasi uretral selama anestesia, yang menunjukkan tes positif untuk klorheksidin. Kami memaparkan seorang pasien yang menderita anafilaksis berbahaya selama sebuah pemeriksaan rektal digital. Pada awalnya, reaksi disalahartikan terkait dengan lateks karet alami pada sarung tangan dokter. Akan tetapi, uji IgE spesifik-lateks menunjukkan hasil negatif, sehingga menimbulkan kecurigaan adanya agen penyebab alternatif, seperti klorheksidin. Karena uji tusukan kulit dan uji intradermal positif untuk klorheksidin, maka kasus ini merupakan laporan kedua tentang anafilaksis klorheksidin yang dikuatkan dengan tes kulit. Akibat tingginya penggunaan klorheksidin, kejut anafilaksis yang terkait dengan agen ini kemungkinan dilaporkan terlalu rendah. Kami bermaksud memperingatkan tentang risiko-risiko yang terkait dengan penggunaan antiseptik ini.

Sekarang ini, semakin banyak laporan anafilaksis yang disebabkan oleh klorheksidin. Sebuah penelitian terdahulu melaporkan antibodi-antibodi IgE spesifik terhadap klorheksidin. Ada beberapa laporan bahwa pasien dengan pemekaan (sensitisasi terdahulu) terhadap klorheksidin dan dengan dermatitis kontak yang relatif ringan bisa berisiko meningkat untuk mengalami reaksi tipe langsung yang parah.

Reaksi-reaksi yang membahayakan nyawa umumnya terkait dengan keterpaparan mukosa atau paranteral. Klorheksidin bisa menyebabkan anafilaksis melalui rute mukosa pada konsentrasi yang jaluh lebih rendah dibanding tempat lainnya, umumnya hanya 0,05%. Akibatnya, sebelumnya telah disarankan bahwa klorheksidin tidak boleh digunakan pada permukaan-permukaan mukosa. Sebuah kasus reaksi anafilaksis parah selama anestesi yang terkait dengan penggunaan kateter vena sentral yang mengandung klorheksidin baru-baru ini dilaporkan. Pemeriksaan radioisotop telah menunjukkan bahwa klorheksidin bisa menembus kulit yang tidak rusak. Gejala-gejala lokal dan sistemik telah disebutkan dalam setting ini.

Jika sebuah reaksi anafilaksis diidentifikasi atau diduga, tindakan-tindakan resusitatif mendasar harus dilakukan. Akan tetapi, juga penting agar beberapa uji diagnostik harus dilakukan setelah penyembuhan untuk mengidentifikasi agen penyebab. Uji tusukan kulit merupakan tes utama ketika reaksi hipersensitifitas diduga. Ini harus dilakukan oleh dokter yang berkualifikasi menurut kriteria yang telah ditentukan. Jika memungkinkan, disarankan agar semua agen penyebab yang potensial ditelusuri. Pada pasien yang mengalami kejadian alergi yang tidak diketahui penyebabnya selama prosedur bedah atau intervensional, klorheksidin harus dipertimbangkan sebagai sebuah agen penyebab yang potensial. Laporan kami menunjukkan bahwa klorheksidin bisa bertindak sebagai sebuah pemeka (sensitizer) dan dengan demikian kejut anafilaksis yang mengancam nyawa bisa terjadi bahkan jika diaplikasikan ke mukosa pada konsentrasi yang dianjurkan (0,05%).

Pengaplikasian klorheksidin ke membran mukosa bisa menyebabkan reaksi-reaksi anafilaksis parah. Hipersensitifitas terhadap klorheksidin cukup jarang, tetapi potensinya untuk menyebabkan kejut anafilaksis selama prosedur rumah sakit kemungkinan diperkirakan terlalu rendah. Kami menganjurkan klorheksidin harus digunakan dengan hati-hati sehingga harus dipertimbangkan secara rutin sebagai agen penyebab dalam reaksi-reaksi fatal yang tidak diketahui penyebabnya yang terkait dengan prosedur-prosedur medis.

Judul Asli : A Case of Anaphylaxis to Chlorhexidine during Digital Rectal Examination

Penulis : Yun-Jeong Bae, Chan Sun Park, Jae Keun Lee, Eunheui Jeong, Tae-Bum Kim, You Sook Cho, dan Hee-Bom Moon
Alih Bahasa : Masdin (http://linguist.co.nr)
Tahun : 2008
Sumber : J Korean Med Sci 2008; 23; 526-8.Kata kunci:

0 comments:

Post a Comment

BlueDEX Ads
 
Bloggerized by Blogger Template