Perbandingan Efek Terapeutik Gel dan Tablet Finasterida dalam Pengobatan Alopecia Andogenetik

Wednesday, January 27, 2010

Abstrak

Latar belakang: Finasterida, sebuah inhibitor 5α-reduktase selektif-tipe II, sebagai sebuah agen penyebab penurunan kadar dihidroksi testestrone (DHT), efektif dalam pengobatan alopecia androgenik pria.

Tujuan: Kami membandingkan finasterida lokal dan finasterida oral dalam pengobatan alopecia androgenik.

Metode: Penelitian ini merupakan sebuah penelitian trial klinis acak tersamarkan-ganda terhadap 45 pasien pria, yang dirujuk dengan alopecia ke klinik-klinik dan departemen-departemen swasta di Rumah Sakit Boo-Ali Sina, di Sari. Pasien-pasien yang mengalami alopecia androgenik dipilih berdasarkan pemeriksaan riwayat dan pemeriksaan fisik. Pasien-pasien secara acak dibagi menjadi dua kelompok yaitu: finasterida topikal (A) dan finasterida oral (B). Kelompok finasterida topikal (kelompok A) mendapatkan gel topikal finasterida 1% dan tablet plasebo, sedangkan kelompok finasterida oral (kelompok B) mendapatkan tablet-tablet finasterida (1 mg) dan basis gel (tanpa obat) sebagai plasebo selama 6 bulan. Pasien ditindaklanjuti dengan pengamatan klinis dan pencatatan efek-efek samping sebelum perawatan dan pada akhir pekan pertama, dan kemudian dengan follow-up setiap bulan. Ukuran area kebotakan, jumlah total rambut, dan rambut terminal (terminal hair) diteliti. Data dianalisis dengan uji statistik deskriptif dan Chi-square.

Hasil: Durasi rata-rata kerontokan rambut adalah 18,8±23,10 bulan. Setiap bulannya rambut terminal, ukuran area kebotakan dan jumlah rambut diantara kedua kelompok dibandingkan. Tidak ada perbedaan signifikan antara kedua kelompok ditinjau dari ketebalan rambut, jumlah rambut dan ukuran daerah kebotakan. Pengukuran beruntun menunjukkan peningkatan jumlah rambut dan jumlah rambut-terminal yang signifikan diantara kedua kelompok.

Kesimpulan: Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa efek terapeutik gel finasterida dan tabet finasterida relatif mirip satu sama lain.

Kata kunci: Alopecia androgenetik, finasterida, gel topikal


PENDAHULUAN

Kerontokan rambut dan alopecia merupakan masalah yang paling umum dalam masyarakat modern sekarang ini, yang menimbulkan banyak efek ekonomi dan psikologi. Belum lama ini, banyak upaya yang telah dilakukan untuk mengobati kerontokan rambut dan alopecia, dimana beberapa diantaranya berhasil. Salah satu tipe paling umum dari alopecia adalah kebotakan dan alopecia androgenetik. Jenis alopecia ini dikenali dengan penipisan rambut dalam vertex dan daerah fronto-temporal kulit kepala, pada orang-orang yang memiliki potensi genetik. Alopecia memiliki sifat yang dapat diwariskan dan terbentuk akibat reseptor testosteron yang tinggi dalam kulit kepala orang yang bersangkutan. Dihidroksi testosteron merupakan sebuah bentuk aktif dari testosteron yang dihasilkan oleh enzim tipe II, 5-α reduktase dari testosteron. Testosteron mempengaruhi folikel rambut, menghasilkan penipisan batang rambut, pemendekan fase anagen dan pemanajangan fase telogen. Pengobatan yang paling dianjurkan untuk alopecia androgenik terdiri dari minoxidil lokal, terapi hormonal seperti anti-androgen lokal atau oral atau produk-produk yang mengandung progesteron lokal. Finasterida merupakan sebuah obat yang efektif untuk pengobatan alopecia pria yang bisa digunakan baik secara oral maupun lokal. Obat ini mengurangi kerontokan rambut dengan menghambat aktivitas enzim 5-α reduktase, yang mengubah testosteron menjadi bentuk aktifnya, yaitu di-hidrotestosteron yang merupakan penyebab utama kerontokan rambut pola pria. Finasterida topikal 0,005% digunakan untuk mengobati alopecia pria. Terapi obat jangka panjang dengan finasterida dibutuhkan untuk pengobatan alopecia pria; rute oralnya terkait dengan komplikasi seperti libido yang berkurang, disfungsi ereksi, dan penurunan volume ejakulasi, depresi dan gynekomastia. Dalam penelitian ini, kami mencoba untuk membandingkan efek gel finasterida lokal terhadap kulit kepala, targetnya dan untuk mengukur komplikasi-komplikasi dengan finaseterida tipe oral, dalam pengobatan alopecia androgenik pada pria. Jika bentuk topikal efektif, maka ini akan mencegah efek samping sistem yang tidak diinginkan dari obat ini. Disamping itu, ini akan menjadi pengobatan yang cocok untuk masalah sosial ini, khususnya pada remaja dan kelompok usia muda dimana perlindungan rambut, sebagai sebuah kosmetik, penting untuk mereka.

METODE

Penelitian ini merupakan sebuah penelitian trial klinis samar ganda. Jumlah sampel (menurut penelitian sebelumnya) adalah 45 pria dewasa muda. Mereka dipilih diantara pasien-pasien yang dirujuk ke klinik-klinik swasta dan departemen Dermatologi di Kota Sari, selama Juli 2003 sampai Februari 2005. Semua subjek mengalami alopecia andogenetik, berdasarkan pemeriksaan riwayat dan pemeriksaan klinis. Mereka dimasukkan dalam penelitian setelah menyetujui surat perizinan.

Kriteria inklusi adalah sebagai berikut: pria berusia dibawah 30 tahun, durasi kerontokan rambut kurang dari 5 tahun; kepadatan rambut maksimum 20 rambut/cm2; diameter maksimum area kebotakan kurang dari 10 cm; dan memiliki kesehatan fisik dan psikologis yang baik. Kriteria eksklusi adalah pasien dengan alopecia pria yang sedang menjalani pengobatan, dan pasien dengan penyakit lain yang menyebabkan kerontokan rambut.

Metode preparasi gel finasterida

karena kelarutan gel Finesterida dalam air sangat rendah, maka pada awal penelitian, kelarutan obat ini harus ditingkatkan. Untuk alasan inilah digunakan bantuan pelarut. Bantuan pelarut merupakan pelarut organik yang dapat dicampur air, yakni dengan mengurangi kelarutan, dan dengan tensi permukaan air, akan menyebabkan peningkatan kelarutan material non-polar dalam air. Etanol secukupnya untuk meningkatkan kelarutan ditentukan dengan beberapa pemeriksaan dan dengan menetapkan kelarutan obat dalam persentase air-etanol yang berbeda. Setelah menetapkan dan mempersiapkan pelarut yang cocok untuk melarutkan finasterida, beberapa pemeriksaan untuk memilih polimer terbaik dilakukan dengan material-material berbeda. Untuk alasan ini, pertama-tama polimer yang dipilih dituangkan ke atas permukaan gelas, yang mengandung sistem pelarutan obat yang memadai, dan disimpan dalam suhu lab selama 24 jam. Selanjutnya, sistem penerima dicampur dengan mixer listrik dengan kecepatan 600 siklus per menit, sampai benar-benar murni. Hasilnya menunjukkan bahwa 40% air dan 60% etanol merupakan sistem pelarut terbaik, dan hidroksil proil metil selulosa (HPMC) merupakan polimer yang paling baik. Penyiapan obat ini tidak memerlukan bahan pengawet. Stabilitas fisik obat dari segi deposisi atau opassits pada suhu 4oC dalam refrigerator dievaluasi. Karena interval waktu antara produksi obat dan konsumsi adalah sekitar satu pekan, maka tidak diperlukan penilaian kimiawi. Selain itu, gel plasebo tanpa obat dibuat dengan sistem yang sama. Karena, finasterida 1% memiliki obsorpsi dermal terbanyak, dengan demikian, dalam penelitian ini gel finasterida 1% dibuat dan digunakan.

Metode

Kuisioner yang terdiri dari 2 bagian dipersiapkan dalam penelitian ini. Bagian pertama terkait dengan karakteristik demografis, dan bagian kedua terkait dengan informasi mengenai kerontokan rambut (ukuran daerah kebotakan, jumlah rambut-terminal, dan rambut vellus).

Pasien-pasien dimasukkan dalam penelitian berdasarkan kriteria inklusi, dan dibagi kedalam 2 kelompok secara acak; Kelompok A (gel finasterida dan table plasebo), dan Kelompok B (Tablet finasterida dan gel plasebo). Tablet dan gel finasterida, serta tablet dan gel plasebo dengan ukuran, bentuk dan warna yang sama dibuat oleh perusahaan farmasi Mazandaran Medical Center, dan diberikan ke peneliti dengan sebuah kode, yang tidak diketahui sampai selesainya penelitian.

Metode terapeutik

Pasien-pasien dalam kedua kelompok mendapatkan satu tablet setiap hari (Finasterida atau plasebo), yang terkait dengan gel lokal (plasebo atau finasterida). Pasien disarankan untuk menggunakan gel dua kali sehari dengan memijat secara perlahan kulit kepala mereka. Durasi pengobatan adalah enam bulan. Untuk mengevaluasi efektifitas obat, prognosis dan efek samping, pasien-pasien dikunjungi sebelum penelitian dan akhir pekan pertama perawatan, dan kemudian ditindaklanjuti setiap bulan. Untuk menilai respons terapeutik, shoblon yang telah dibuat sebelumnya dengan ukuran 10 cm2 digunakan. Kemudian shoblon ditempatkan pada cacat dan sekurang-kurangnya 3 bentuk persegi dari area tersebut dipilih secara acak, dan ukuran daerah kebotakan, jumlah total rambut dan jumlah rambut terminal dihitung dengan mata telanjang. Nilai mean dihitung, dan terakhir, jumlah hasil dicatat dalam bentuk tersebut.

Variabel-variabel untuk respons terapeutik dikategorikan sebagai luas daerah kebotakan: jumlah total rambut; dan jumlah rambut-terminal. Untuk mengevaluasi total respons terhadap perawatan, deksripsi-deskripsi berikut ditentukan: ukuran area kebotakan per cm (8,1-9,5 cm: poin 1, 6.6-8 cm: poin 2, 5.1-6.5 cm : poin 3, 3,5-5 cm: poin 4); total jumlah rambut(100-124 : poin 1, 125-149: poin 2, 150-174 : poin 3, 175-200 : poin 4), dan jumlah rambut terminal (65-89 : poin 1, 90-114 : poin 2, 115-139 : poin 3, 140-165 : poin 4). Skor yang dihasilkan dirangkumkan: skor 3-6 dianggap sebagai respons buruk, skor 7-9 respons sedang, dan skor 10-12 respons baik terhadap pengobatan. Terakhir, analisis dilakukan dengan pendekatan deskriptif dan pendekatan statistik Chi-square.

HASIL

Dari 45 pasien alopecia andogenetik yang terdaftar, 7 dikeluarkan dari penelitian karena periode penelitian total yang tidak lengkap atau berhenti. Usia rata-rata pasien berkisar antara 22,8±3,3 tahun. Waktu rata-rata kerontokan rambut pada pasien, adalah 23,10±18,8 bulan. Sebanyak tujuh (18,4%) telah menikah dan 31 (81,6%) belum menikah. Diantara pasien yang dirujuk, 31 (81,6%) memiliki riwayat alopecia positif dalam keluarga dan 7 (18,4%) negatif. Sebanyak 19 pasien masuk kedalam kelompok A, dan 19 pada kelompok B secara acak.

Rata-rata total jumlah rambut, jumlah rambut terminal dan ukuran daerah kebotakan pada kedua kelompok masing-masing merupakan awal dan akhir pengobatan seperti ditunjukkan pada Tabel 1.

Tidak ada perbedaan statistik yang signifikan untuk rambut terminal, ukuran area alopecia dan jumlah rambut diantara kedua kelompok.

Pada kelompok A (gel finasterida dan tablet plasebo), jumlah rambut terminal yang meningkat diamati pada bukan ke-tiga perawatan (P = 0,001), tetapi peningkatan jumlah rambut terminal ditunjukkan pada bulan ke-dua untuk kelompok B (tablet Finasterida dan gel plasebo) (P = 0,015). Selama periode terapeutik, ukuran area alopecia tidak berubah signifikan pada kelompok A, tetapi pada kelompok B, perubahan ukuran ara alopecia signifikan pada bulan ke-empat perngobatan (P = 0,027). Jumlah rambut yang meningkat pada kedua kelompok signifikan pada 4 bulan perawatan (P = 0,001, pada kelompok A dan P = 0,000 pada kelompok B). Respons terapeutik selama periode terapeutik pada kelompok A dan B dievaluasi dengan sistem skoring yang ditunjukkan pada Tabel 2.

Hanya sari dari pasien yang mengeluhkan eritema pada tempat yang terkena sebagai sebuah komplikasi penggunaan gel finasterida loka yang sembuh dengan cepat setelah penghentian gel. Salah satu pemakai tablet finasterida melaporkan libido yang menurun.

EMBAHASAN

Hasil penelitian ini menunjukkan respons terapeutik sedang, tetapi tidak ada respons baik, pada kedua kelompok. Perbandingan gel finasterida 1%, dengan tablet finasterida (54,5% berbanding 56%) menunjukkan respons terapeutik yang relatif mirip, yang tidak signifikan menurut statistik (P=0,643). Enzim 5α-reduktase menyebabkan konversi testosteron menjadi di-hidrotestosteron. Efek terapeutik inhibitor enzim terhadap alopecia andogenetik seperti finasterida oleh dosis 1 mg oral, telah terbukti pada beberapa penelitian. Disamping itu, dalam penelitian ini, pengukuran beruntun terhadap jumlah rambut dan peningkatan rambut terminal menunjukkan peningkatan total jumlah rambut dan total rambut terminal pada kedua kelompok terapeutik yang signifikan antara awal dan akhir penelitian. Seperti penelitian-penelitian lain, total rambut pada kedua kelompok, gel finasterida dan tablet finasterida, menunjukkan perbedaan signifikan antara perujukan pertama dan 6 bulan setelah terapi (P = 0,000), ini menandakan efikasi terapeutik dari kedua obat. Rambut terminal pada kelompok gel finasterida selalu lebih dari kelompok tablet finasterida, sampai bulan ke-tiga terapi. Akan tetapi, mereka mirip pada kedua kelompok selama bulan ke-empat perawatan. Pada bulan ke-5 dan ke-6, jumlah rambut terminal lebih banyak pada kelompok yang mendapatkan tablet, sehingga menjelaskan efikasi tablet selama periode terapeutik. Ukuran daerah kebotakan pada kelompok tablet dan kelompok gel mengalami penurunan signifikan pada bulan ke-empat, yang menandakan tidak adanya perubahan pada kelompok gel, yang menandakan efek terapeutik yang lebih besar untuk tablet dibanding gel. Walaupun, total pertumbuhan rambut pada kedua kelompok cukup signifikan selama bulan ke-empat, pada kelompok gel, kami tidak menemukan penurunan ukuran luas daerah alopecia dan semakin penampilan orang tersebut.

Secara keseluruhan, dalam penelitian kali ini, dengan membandingkan kelompok tablet dan kelompok gel finasterida dengan satu sama lain, ditemukan bahwa pada bulan ke-dua, ke-tiga dan ke-empat setelah perujukan pasien, respons terapeutik pada kelmpok tablet lebih baik dibanding kelompok gel, tetapi pada bulan ke-lima dan ke-enam perawatan, respons terapeutik pada kedua kelompok tidak berbeda.

Dalam penelitian-penelitian terdahulu, efikasi tablet finasterida dimulai setelah bulan ke-tiga sampai ke-enam terapi dan jika pasien tidak menunjukkan respons setelah 12 sampai 24 bulan, pelanjutan penggunaan kemungkinan tidak efektif. Dalam penelitian kami, tidak ada respons terapeutik positif yang signifikan pada kedua kelompok; salah satu alasannya bisa jadi adalah dursai perawatan yang hanya selama 6 bulan, sehingga jika durasi perawatan lebih lama, hasilnya bisa menunjukkan efek terapeutik yang lebih baik.

Seperti penelitian-penelitian lainnya, hasil-hasil ini menunjukkan gel finasterida lokal, memiliki efikasi yang lebih baik dan jika digunakan untuk pasien alopecia pria, yang mengalami kerontokan rambut dalam beberapa tahun belakangan, akan menjadi pengganti terapi oral yang baik, khususnya pada mereka yang khawatir tentang komplikasi obat oral.

Terakhir, kami menganjurkan penelitian lain dengan lebih banyak sampel, dengan periode yang lebih lama dan penilaian kepuasan pasien setelah pengobatan.

0 comments:

Post a Comment

BlueDEX Ads
 
Bloggerized by Blogger Template