Penilaian Kuantitatif Kombinasi Resimen Mandi dan Resimen Pelembap Terhadap Hidrasi Kulit pada Dermatitis Atopi

Saturday, January 9, 2010

Abstrak

Rekomendasi-rekomendasi standar untuk perawatan kulit bagi pasien-pasien yang mengalami dermatitis atopi menitikberatkan peranan hidrasi kulit dan pengaplikasian pelembap. Akan tetapi, data-data objektif untuk memandu rekomendasi-rekomendasi tentang metode-metode praktik yang optimal untuk resimen mandi (bathing) dan pengaplikasian pelembap (emolien) masih sangat langka. Penelitian ini mengukur status hidrasi kutaneous setelah berbagai kombinasi antara resimen mandi dan resimen pelembapan. Empat resimen mandi/pelembapan dievaluasi pada 10 pasien, lima pasien anak dengan dermatitis atopi dan lima subjek dengan kulit sehat. Resimen-resimen ini terdiri dari resimen mandi saja tanpa pengaplikasian emolien, resimen mandi ditambah pengaplikasian emolien langsung, resimen mandi ditambah pengaplikasian emolien tertunda, dan pengaplikasian emolien saja. Masing-masing resimen dievaluasi pada semua subjek, dengan memanfaatkan sebuah desain sling-silang (crossover). Hidrasi kulit dinilai dengan pengukuran kapasitans standar. Pada pasien dermatitis atopi, resimen emolien saja menghasilkan hidrasi rata-rata yang lebih besar (p < 0,05) setelah 90 menit (206,2% hidrasi awal) dibanding resimen mandi ditambah emolien langsung (141,6%), diikuti dengan resimen mandi ditambah emolien tertunda (141%), dan resimen mandi saja (91,4%). Kombinasi antara resimen mandi dan pengaplikasian emolien menunjukkan nilai hidrasi pada 90 menit yang tidak lebih besar secara signifikan dari nilai awal. Pasien dermatitis atopi mengalami penurunan hidrasi rata-rata jika dibandingkan dengan subjek yang berkulit normal. Mandi tanpa pelembap bisa mengganggu hidrasi kulit. Mandi yang diikuti dengan pengaplikasian pelembap memberikan manfaat hidrasi sedang, meskipun lebih kecil dari pengaplikasian pelembap saja.


Secara historis, telah ada banyak perbedaan “rekomendasi ahli” untuk praktik-praktik mandi yang optimal dalam penatalaksanaan dermatitis atopi (AD). Pada tahun 1872 Hebra merekomendasikan agar sering mandi tiga sampai empat kali sehari, sebagai sebuah intervensi untuk ekzema. Pada tahun 1946 Scholtz mengembangkan konsep bahwa mandi bisa berdampak negatif terhadap pasien yang mengalami dermatitis atopi. “Resimen Scholtz”-nya menyarankan menghindari mandi dan pengaplikasian losion bebas lipid sekurang-kurangnya sekali sehari sesuai keinginan pasien.

Panduan-panduan dermatitis atopi belum memberikan rekomendasi yang konsisten tentang frekuensi mandi yang optimal dan frekuensi pengaplikasian emolien yang optimal. Sebuah konferensi tentang dermatitis atopi anak merekomendasikan mandi setiap hari dengan pengaplikasian langsung obat-obatan topikal diikuti dengan emolien setelah mandi, dan panduan-panduan Canada menitikberatkan mandi sekurang-kurangnya satu kali sehari dan juga merekomendasikan pengaplikasian pelembab langsung setelah mandi. Sebuah konferensi internasional merekomendasikan pengaplikasian emolien sekurang-kurangnya dua kali sehari tetapi tidak membahas tentang mandi. The National Institute for Health and Clinical Excellence merekomendasikan “emolien dalam jumlah banyak dan frekuensi tinggi, khususnya setelah mandi atau mencuci badan” tetapi tidak memberikan rekomendasi mandi. Panduan The American Academy of Dermatology tidak menyinggung mandi walaupun “emolien merupakan sebuah standar perawatan, bebas steroid, dan bermanfaat untuk terapi pencegahan dan terapi penjagaan”.

Konsep “rendam dan oleskan” telah dibahas oleh Gutman dkk, yang mendukung mandi setiap hari diikuti dengan pengolesan langsung salep steroid topikal selama terapi intensif dan sebuah emolien selama terapi penjagaan. Rekomendasi Gutman tentang mandi setiap hari dan larangan Scholtz untuk mandi telah dilaporkan sangat efektif menurut perspektif masing-masing ahli ini. Yang perlu dicatat bahwa kedua penelitian ini tidak ada yang menggunakan kontrol dan subjek-subjek yang digunakan adalah pasien baru, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang apakah perbaikan kondisi pasien yang dicapai disebabkan oleh asumsi perawatan oleh dokter baru yang terampil atau intervensi mandi itu sendiri.

Telah ada beberapa penelitian yang menyinggung tentang pengukuran objektif intervensi-intervensi pada kulit. Yang terutama, Grove menunjukkan bahwa subjek-subjek yang memiliki kulit normal mempertahankan peningkatan hidrasi kulit hingga sampai 12 jam pasca pengaplikasian emolien. Voegelu melaporkan bahwa mencuci kulit mengurangi hidrasi. Akan tetapi, penelitian sebelumnya tidak ada secara kuantitatif menganalisis efek mandi dan pemakaian emolien setelah mandi terhadap hidrasi kulit atau meneliti efek terhadap subjek-subjek dermatitis atopi. Penelitian kali ini mencoba untuk memberikan bukti objektif tentang efek hidrasi dari resimen-resimen seperti ini, melengkapi pengalaman klinis yang telah dipublikasikan, dan memandu rekomendasi-rekomendasi tentang strategi resimen mandi optimal dan pengaplikasian emolien yang optimal.

BAHAN DAN METODE

Subjek Penelitian

Sepuluh relawan (enam perempuan dan empat laki-laki) berpartisipasi dalam penelitian ini. Lima diantara subjek anak memiliki riwayat dan temuan fisik yang konsisten dengan dermatitis atopi ringan sampai sedang (rentang umur: 11-16 tahun). Lima memiliki riwayat dan temuan pemeriksaan fisik yang menunjukkan kulit sehat (rentang umur: 8 – 30 tahun). Pengukuran-pengukuran dilakukan antara April sampai Juni dalam sebuah ruangan ber-AC (23,2 ± 1,6oC, kelembapan relatif 42 ± 2,4). Suhu mandi adalah 33,9 ± 1,2oC. Tidak ada subjek yang mandi, mengaplikasikan pelembap, atau mengaplikasikan obat selama sekurang-kurangnya 3 jam sebelum pengukuran dilakukan.

Protokol penelitian disetujui oleh Badan Review Institusional University of California, San Diego dan Rady Children's Hospital San Diego. Subjek dewasa memberikan izin. Subjek anak dan orang tuanya memberikan informasi persetujuan dan izin.

Instrumen

Alat Nova Dermal Phase Meter (DPM) 9003 (Nova, Gloucester, MA) mencapai pembacaan kapasitans berbasis impedansi dengan memadukan pengukuran-pengukuran dari berbagai frekuensi arus bolak-balik. Layar menampilkan nilai-nilai hidrasi dalam satuan Nova acak, yang secara langsung terkait dengan kapasitans. Ini ditentukan pada mode pengukuran dl0, sehingga memberikan pembacaan instan ketika probe bersentuhan dengna kulit. Koefisien variasi rata-rata adalah ~20%.

Semua pengukuran diulangi dengan alat Scalar MY-707S Moisture Checker (Scalar Corp., Tokyo Jepang) yang mengukur konduktansi kulit superfisial.

Prosedur Tes

Penelitian ini merupakan penelitian saling-silang (crossover). Pada dua kunjungna, pasien mendapatkan empat resimen perawatan (Tabel 1), satu resimen yang dipilih secara acak untuk masing-masing kelompok setiap hari. Subjek-subjek diukur dengan interval minimal satu hari diantara kunjungan.

Tiga resimen mencakup mandi selama 10 menit, diikuti dengan pengeringan dengan lap handuk, dan kemudian pengaplikasian pelembab secara langsung, pengaplikasian pelembab yang ditunda 30 menit kemudian, atau tidak ada pengaplikasian pelembab. Resimen perawatan ke-empat terdiri dari periode tanpa intervensi “tanpa mandi” selama 10 menit diikuti dengan pelembapan langsung.

Periode pengamatan untuk masing-masing resimen perawatan adalah 120 menit setelah intervensi dengan mandi atau tidak-mandi. Mandi dilakukan dengan memasukkan seluruh tangan dalam wadah besar, yang diisi dengan air kran dengan ketinggi sekitar 5 cm diatas siku. Tidak ada produk mandi yang digunakan. Emolien (pelembap) komersial digunakan, yang diaplikasikan dengan sarung tangan nitril, mulai dari tangan sampai 5 cm di atas siku. Panduan-panduan untuk pengukuran hidrasi stratum korneum diikuti dengan subjek yang beristirahat selama 20 menit sebelum pengukuran awal dilakukan pada sepertiga lengan-atas volar.

Waktu dibatasi menurut pertimbangan-pertimbangan praktis penggunaan fasilitas penelitian secara efisien dan kesabaran pasien, dengan subjek yang teta duduk dalam ruangan selama periode penelitian. Ini memberikan hasil pasca-intervensi yang berlangsung 120 menit untuk tiga dari empat resimen. Akan tetapi, resimen mandi dan pelembab tertunda hanya memiliki data 90 menit pasca-intervensi karena fakta bahwa pelembapan tidak dilakukan saampai 30 menit pasca-mandi. Sehingga, meskipun data lengkap ditunjukkan pada Gbr. 1, namun analisis data hanya dilakukan selama periode waktu 90 menit pasca-intervensi dimana pada waktu ini semua resimen memiliki data.

HASIL

Hasil ditunjukkan pada Tabel 2. Persen hidrasi awal versus waktu dibuatkan grafi untuk subjek dermatitis atopi dan subjek berkulit normal. Grafik-grafik batang membanding resimen-resimen perawatan berdasarkan hidrasi rata-rata setelah 90 menit (Gbr. 2) dan hdirasi akhir pada 90 menit (Gbr. 3).

Pada subjek dermatitis atopi, mandi tanpa pelembapan menghasilkan penurunan kandungan hidrasi, yang diukur sebagai kapasitans, selama periode observasi, dengan nilai hidrasi akhir 87% dari nilai awal Semua resimen yang menggunakan pelembap, baik langsung setelah mandi, 30 menit setelah mandi, atau diaplikasikan pada kulit kering, meningkatkan hidrasi pada semua titik waktu. Pengaplikasian emolien tanpa mandi menghasilkan hidrasi rata-rata (206%) dan hidrasi puncak (329%) yang secara signifikan lebih besar  dibanding semua resimen lainnya (p < 0,05). Disamping itu, nilai hidrasi akhir pada 90 menit (186%) secara signifikan leih besar (p < 0,05) dibanding mandi tanpa pengaplikasian emolien, walaupun tidak berbeda signifikan dari kedua resimen kombinasi mandi dan pelembap, dengan menggunakan uji t berpasangan.

Pengaplikasian pelembab segera setelah mandi, dibandingkan dengan pengaplikasian 30 menit kemudian, menunjukkan tidak ada perbedaan nilai mean atau nilai hidrasi akhir yang signifikan menurut statistik.

Nilai rata-rata hidrasi dan hidrasi akhir untuk subjek-subjek dermatitis atopi berbeda signifikan dari nilai kelompok normal (p < 0,05; data tidak ditunjukkan). Hasil dengan menggunakan peranti konduktif Scalar sejalan dengan Nova DPM 9003.

PEMBAHASAN

Penelitian ini menunjukkan bahwa berbagai resimen mandi dan resimen pelembap mempengaruhi status hdirasi kulit, dan sehingga efeknya bersifat dinamis selama 90 menit periode pengamatan. Mandi tanpa pengaplikasian pelembab terbukti menurunkan hidrasi kulit dibawah nilai awal, seperti yang dilaporkan sebelumnya. Pada subjek atopi, mandi yang diikuti dengan pengaplikasian emolien meningkatkan status hidrasi, yang pada awalnya sampai level tinggi, meskipun kemudian berkurang dari waktu ke waktu  sehingga pada 90 menit pasca-pengaplikasian tidak lagi lebih besar secara signifikan dibanding nilai awal. Pengaplikasian emolien saja memberikan manfaat hidrasi rata-rata tertinggi untuk pasien yang mengalami dermatitis atopi.

Penelitian ini tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan menurut statistik untuk status hidrasi rata-rata antara resimen pelembapan langsung dan yang tertunda beberapa menit setelah mandi meskipun telah mengikuti panduan-panduan yang merekomendasikan pengaplikasian cepat pelembab setelah mandi. Hidrasi jangka pendek mencapai puncak pada 5 menit setelah pelembapan cepat yang mana tidak terjadi pada pelembapan yang ditunda beberapa menit. Akan tetapi, pengukuran puncak hidrasi bisa dirancukan oleh senyawa-senyawa ionk dalam air atau emolien yang kemungkinan tetap ada pada permukaan kulit karena peranti Nova DPM 9003 memanfaatkan kapasitans berbasis impedansi. Ini diminimalisir melalui pengeringan setelah mandi dan pengaplikasian emolien, sebelum pengukuran dilakukan. Disamping itu, Grove menunjukkan bahwa emolien tidak mempertahankan konduktivitas setelah pengeringan selama 1 jam.

Individu yang mengalami dermatitis atopi memiliki hidrasi kutaneous yang terganggu dibanding dengan individu normal ketika kulit mereka dirawat dengan cara yang sama. Dengan mengevaluasi kombinasi resimen mandi dan resimen pelembapan, subjek-sujek dermatitis atopi memiliki manfaat hidrasi rata-rata yang berkurang dibanding dengan subjek yang memiliki kulit normal. Bahkan subjek-sujek dermatitis atopi tidak mempertahankan kelembapan serta individu yang memiliki kulit normal, dan pada akhir periode 90 menit memiliki manfaat hidrasi yang lebih kecil dari resimen mandi dan pelembapan. Penelitian-penelitian terbaru yang menunjukkan mutasi-mutasi filagrin sebagai sebuah penyebab ichthyosis vulgaris dan faktor risiko untuk dermatitis atopi menimbulkan pertanyaan tentang apakah perbedaan genotipik bisa mengganggu respon terhadap resimen-resimen perawatan berbeda.

Penelitian ini memiliki keterbatasan-keterbatasan yang bisa membatasi relevansi kesimpulan yang dibuat untuk dijadikan pertimbangan dalam rekomendasi praktik mandi yang optimal pada individu yang mengalami dermatitis atopi, termasuk salah satunya yaitu ukuran sampel yang kecil. Penelitian-penelitian di masa mendatang mungkin perlu membandingkan subjek-subjek non-atopi, karena kelompok atopilah yang paling memerlukan panduan dari profesional medis. Instrumen yang digunakan untuk mengukur hidrasi kutaneous adalah Nova DPM yang mengukur kapasitans berbasis impedansi, dengan hasil-hasil yang sama dengan Scalar Moisture Checker yang mengukur konduktans. Ukuran fungsi stratum korneum lainnya seperti kehilangan air transepidermal bisa menghasilkan wawasan lebih lanjut. Penelitian ini hanya mengukur hidrasi kulit dan tidak dirancang untuk menganalisis manfaat klinis dari resimen mandi dan emolien selain status hidrasi. Penelitian ini hanya menggunakan satu krim emolien. Emolien-emolien yagn mengandung lipid-lipid stratum korneum seperti seramida dan komponen-komponen lain bisa menghasilkan hidrasi kulit yang bahkan lebih besar. Resimen mandi bisa memiliki efek kutaneous selain hidrasi, seperti berkurangnya antigen kutaneous dan mikroba yang bisa berkontribusi bagi inflamasi dan pruritus. Disamping itu, ini bisa mempengaruhi penetrasi obat-obatan anti-inflamasi.

Penelitian ini mencoba untuk menghadirkan basis bukti terhadap pengambilan keputusan pada resimen-resimen perawatan kulit untuk individu-individu yang mengalami dermatitis atopi. Penelitian ini menunjukkan manfaat yang jelas dari pengaplikasian emolien pada hidrasi kulit, baik setelah mandi, atau tanpa mandi. Mandi yang diikuti dengan pengaplikasian emolien tidak mengurangi hidrasi kulit, berbeda dengan mandi tanpa pengaplikasian emolien. Panduan-panduan yang menitikberatkan pengaplikasian emolien langsung setelah mandi, meskipun cukup beralasan untuk kenyamanan dan kemudahan resimen perawatan kulit, namun kelihatnanya tidak secara signifikan meningkatkan hidrasi kulit dibanding pengaplikasian pelemban yang ditunda. Rekomendasi-rekomendasi untuk mengaplikasian emolien dengan frekuensi tinggi, termasuk pengaplikasian pada saat-saat selain setelah mandi kelihatannya bisa dilakukan.

Akan bermanfaat untuk meneliti efek penggunaan resimen mandi dan emolien selama periode waktu yang lama, dengan menilai titik-titik waktu pasca-intervensi yang lebih lama, dan efek emolien-emolien berbeda atau resimen-resimen mandi/pelembab. Penggunaan skoring objektif dan subjektif untuk keparahan dermatitis atopi dalam mengukur dampak resimen-resimen perawatan kulit ini yagn dikombinasikan dengan resimen-resimen resep baku akan bermanfaat.

0 comments:

Post a Comment

BlueDEX Ads
 
Bloggerized by Blogger Template