Mortalitas Anak Akibat Infeksi Nosokomial: Sebuah Pendekatan Kritis

Friday, January 1, 2010

Abstrak

Infeksi nosokomial merupakan sebuah kejadian yang sering dengan dampak yang berpotensi mematikan. Kami mereview literatur tentang faktor-faktor prediktir untuk mortalitas yang terkait dengan infeksi nosokomial pada anak-anak. Pencarian literatur dengan Internet dalam bahasa Inggris, Spanyol dan Portugis di database PubMed/MEDLINE, LILACS dan Cochrane Collaboration dilakukan, dengan berfokus pada penelitian-penelitian yang telah diterbitkan dari tahun 1996 sampai 2006. Kata kunci yang digunakan untuk pencarian adalah: infeksi nosokomial dan mortalitas dan pediatrik/neonatus/newborn/anak/remaja. Faktor-faktor risiko yang ditemukan terkait dengan mortalitas adalah: infeksi nosokomial itu sendiri, leukemia, limfopenia, neutropenia, terapi kortikosteroid, gagal organ ganda, terapi antimikroba sebelumnya, durasi penggunaan kateter, candidemia, kanker, bakteremia, usia diatas 60 tahun, prosedur invasif, ventilasi mekanis, transport keluar dari unit perawatan intensif anak, infeksi Staphylococcus aureus yang resisten methicillin, Pseudomonas aeruginosa, dan Burkholderia, skor fisiologi akut dan evaluasi keseatan krois (APACHE) II diatas 15. Diantara faktor-faktor ini, satu-satunya yang bisa diminimalisir adalah perawatan antimikroba yang tidak memadai, yang telah terbukti sebagai salah satu kontributor penting bagi mortalitasi rumah sakit pada pasien yang sakit kritis. Ada peluang untuk penelitian prognosis lebih lanjut tentang topik ini dalam menentukan perbedaan-perbedaan lokal. Penelitian seperti ini akan memerlukan desain epidemiologi yang tepat dan analisis statistik sehingga kematian anak akibat infeksi nosokomial bisa dikurangi dan kualitas perawatan kesehatan membaik di rumah sakit-rumah sakit anak.

Kata kunci: Infeksi nosokomial, mortalitas, prognosis, kualitas perawatan kesehatan, rumah sakit anak.


-

Infeksi nosokomial merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang penting di Brazil: dengan 11 juta perujukan ke rumah sakit per tahun dan laju infeksi nosokomial sekitar 5% sapai 10%, kami memproyeksikan 550.000 sampai 1.100.000 kasus, dengan semua kerugian terkait, termasuk finansial, penderitaan pasien dan mortalitas. Yang menjadi fokus sekarang ini adalah peningkatan efektifitas biaya perawatan kesehatan, bersama dengan laporan-laporan tentang pengendalian infeksi nosokomial yang sukses dan menstimulasi para pengurus rumah sakit, tim-tim pengendalian ifeksi dan penelitian-penelitian untuk mencoba memahami situasi lokal mereka sendiri untuk memperbaiki program perawatan kesehatan. Pengetahuan tentang prognosis mortalitas yang terkait dengan infeksi nosokomial akan memungkinkan intervensi-itervensi cepat dan program pengendalian infeksi yang lebih tertargetkan dan lebih efektif. Haley dan rekan-rekannya mengindikasikan bahwa infeksi nosokomial merupakan salah satu diantara 10 penyebab utama kematian di Amerika Serikat.

Dari perspektif global, pengakuan bahwa infeksi nosokomial benar-benar terjadi dan sehingga banyak dari infeksi ini yang dapat dicegah merupakan sebuah persyaratan utama untuk perbaikan pengendalian infeksi di setiap negara. Para profesional pengendalian infeksi memerlukan pelatihan dan pengalaman tentang berbagai penyakit infeksi, epidemiologi, mikrobiologi, biostatistik, informatika, manajeen kesehatan, praktik perawatan pasien, pendidikan dewasa dan sains perilaku.

Para pekerja perawatan kesehatan selalu merasa kahwatir tentang infeksi nosokomial, dan sehingga begitu juga dengan perwakilan dan organisasi hukum. Infeksi nosokomial tidak akan bisa dikurangi menjadi nol, tetapi banyak penyebabnya yang terkait dengan kurangnya pengaplikasian metodologi yang memadai untuk mengendalikannya. Infeksi nosokomial dan angka kematian terkait merupakan indikator kualitas perawatan kesehatan yang penting. Perawatan kesehatan berbasis bukti merupakan penggunaan bukti-bukti terbaik yang ada sekarang secara sadar, eksplisit, dan penuh pertimbangan yang diperoleh dari penelitian perawatan kesehatan dalam pembuatan keputusan yang cocok dengan keadaan dan keinginan pasien atau kelompok.

Regulasi pusat Brazil yang dipublikasikan pada tahun 1992 dan 1992 mewajibkan untuk melaporkan angka letalitas dan mortalitas dalam program pengendaian infeksi nosokomial; akan tetapi, ini dilakukan tanpa mengatur metodologi yang seragam dan terpercaya. Sisitem Surveilans Infeksi Nosokomial Nasional (NNIS) meminta para rumah sakit untuk memberikan data yang berkualitas tinggi tentang infeksi nosokomial. Agen pemerintah ini memiliki definisi spesifik sendiri dan juga menerapkan definisi-definisi CDC-Atlanta.

Untuk membuat peraturan yang memadai dan untuk mendukung program peningkatan kualitas perawatan kesehatan, sangat penting untuk mendapat data dan indikator tentang infeksi nosokomial dan mortalitas terkait dengan penelitian yang dirancang dengan baik yang akan diterima oleh komunitas ilmiah. Kami mereview literatur tentang faktor-faktor prediktif untuk mortalitas yang terkait dengan infeksi nosokomial pada anak, dengan berfokus pada penelitian-penelitia yang diterbitkan mulai dari than 1996 sampai 2006.

Cara Pencarian Literatur

Pencarian di Internet dalam bahasa Inggris, Spanyol, dan Portugis terhadap database PubMed/MEDLINE, LILACS dan Cochrane Collaboration dilakukan, dengan berfokus penelitian-penelitian yang telah dipublikasikan mulai dari tahun1996 sampai 2006. Kata kunci yang digunakan adalah: infeksi nosokomial dan mortalitasi dan pediatri/neonatus/newborn/anak/bayi, remaja.
Penelitian-Penelitian

Sebuah peneitian prospektif terhadap anak-anak yang terlibat di 374 episode bakteremia Gram-negatif yang didapat dari rumah sakit dan dari komunitasi di pusat medis anak perawatan tersier di Israel melaporkan angka kematian kasar 11,4%. Mortalitas yang meningkat ini sangat terkait dengan leukemia akut, neutropenia, infeksi yang didapat di rumah sakit dan terapi kortikosteroid sebelumnya (berturut-turut dengan nilai p = 0,03, 0,003, 0,006 dan 0,01) dan perawatan antimikroba yang memadai serta syok (p = 0,001). Analisis statistik dilakukan dengan menerapkan uji Chi-square dan Wilcoxon. Sebuah penelitian follow-up deskriptif terhadap pasien dewasa dan pasien pediatri (204.598 luaran), mulai dari 1991 sampai 1995, menemukan angka kematian yang terkait dengan NI sebesar 7,5% dan angka kematian keseluruhan 0,3%.

Selama periode 22-bulan, sebuah penelitian observasional multi-senter dalam sebuah kohort yang terdiri dari 145 pasien dengan candidemia (didefinisikan sebagai pertumbuhan spesies Candida dari sekurang-kurangnya satu kultur darah yang diambil dari vena perifer) menemukan faktor-faktor risiko berikut untuk kematian, berdasarkan analisis univariat: usia diatas 64, retensi kateter, candidemia akibat sepsis selain Candida parapsilosis, hipotensi, status kinerja yang buruk, dan tidak ada perawatan anti-jamur. Berdasarkan analisis multivariat regresi logistik, usia yang lebih tua (OR 1,02; p = 0,02), dan pemasangan kateter vena sentral secara terus menerus (OR: 4,81; p < 0,0001) merupakan satu-satunya faktor yang terkait dengan risiko kematian yang meningkat.

Berdasarkan analisis prospektif satu-tahun, maka dilakukan evaluasi terhadap data dari semua pasien yang mengalami bakteremia Staphylococcus aureus (SAB) yang didapat di rumah sakit dimana pasien-pasien dirujuk ke empat rumah sakit di Copenhagen Countuy, Denmark, dari 1 Mei 1994 sapai 30 April 1995. Keberadaan kateter vena sentral (OR = 6,9; 95% interval kepercayaan [CI]:2,8-17,0), anemia (OR:3,3;95%CI:1m4-7,6), dan hiponatremia (OR:3,3;95%CI:1,3-13,0) memiliki risiko yang jauh lebih tinggi untuk SAB yang didapat di rumah sakit dibadning dengan kontrol. Keberadaan SAB yang didapat di rumah sakit meningkatkan angka kematian 2,4 kali lipat (95%CI:1,1-5,2). Model regresi Cox diterapkan, dan hasi menunjukkan bahwa SAB yang didapat di rumah sakit dan usia di atas 60 tahun meningkatkan angka kematian secara independen. Rasio angka kematian untuk kanker adalah 1,7 (95%CI:0,8-3,5). Akan tetapi, ini tidak berbeda signifikan dari angka kematian awal (p = 0,14).

Sebuah penelitian prospektif selama 6 bulan di Eropa yang menggunakan kriteria CDC, yang ditujukan untuk menentukan kejadian infeksi nosokomial pada berbagai unit berdasarkan tempat infeksi dan epidemiologi bakteri, menemukan bahwa mortalitas akibat infeksi nosokomial adalah 10% (0 sampai 27,3%) di unit-unit perawatan intensif anak (PICU), 17% pada unit-unit neonatal dan 1,5% untuk anak-anak yang terganggu sistem kekebalannya. Variabel-variabel dievaluasi dengan menggunakan uji Pasti Fisher atau Chi-Square untuk variabel-variabel kategori dan uji Mann-Whitney untuk variabel kontinyu. Mereka menemukan perbedaan frekuensi infeksi-nosokomial dan epidemiologi bakteri dan menyimpulkan bahwa pemantauan klinis infeksi-nosokomial dan profil resistensi bakteri diperlukan pada semua unit pediatri.

Sebuah studi kasus-kontrol berbasis populasi terhadap 277 kematian bayi post-neonatal yang disebabkan oleh diare dan pneumonia meneliti bagaimana faktor-faktor risiko terkait dengan kualitas bantuan medis. Analisis regresi logistik multiple menunjukkan faktor-faktor berikut terkait independen dengan risiko kematian post-neonatal yang eningkat: imunisasi tertunda (OR:2,48;95%CI:1,17-5,23), sakit kiritis saat dirujuk ke rumah sakit (OR:10,94; 95%CI:4,91-24,34), prosedur rumah sakit yang tidak dilaksanakan (OR:10,08;95%CI:1,42-9,07). Para peneliti berkesimpulan bahwa kualitas bantuan medis yang rendah merupakan faktor risiko yang penting pada penyebab-penyebab kematian post-neonatal yang tidak dapat dihindari.

Sebuah studi kohort prospektif dilakukan di Rumah Sakit Anak St. Louis, sebuah pusat perawatan tersier berkapasitas 235 ruang perawatan dengan kombinasi PICU bedah dan medis 22 ruang perawatan; semua subjek adalah pasien yang dirujuk ke PICU antara 1 September 1999 sampai 31 Mei 2000, apabia angka infeksi aliran darah yang tinggi diidentifikasi (BSI = 13,8 per 1.000 hari kateter vena sentral). Pada analisis regresi logistik ganda, pasien-pasien dengan BSI lebih besar kemungkinannya menggunakankateter vena-sentral ganda (aOR:5,7;95%CI:2,9-10,9), kateter arterial (aOR:5,5;95%CI:1,8-16,3), prosedur invasif yang dilakukan dalam PICU (aOR:4,0;95%CI:2,0-7,8), dan dikeluarkan dari PICU (aOR:3,4;95CI:1,8-6,7) ke ruangan radiologi atau oprasi. Apabila keparahan penyakit diukur saat perujukan, dengan skor PRISM, maka penyakit yang mendasari dan pengobatan tidak terkait dengan peningkatan risiko utuk BSI nosokomial. Para peneliti menyimpulkan bahwa faktor-faktor risiko terkait lebih banyak dengan proses perawatan kesehatan dibanding keparahan penyakit dan sehingga penelitian tambahan diperlukan untuk mengembangkan intervensi-intervensi agar dapat mengurangi BSI nosokomial pada anak.

Sebuah penelitian di Brazil yang mereview data-data epidemiologi dari pasien-pasien yang dirujuk ke PICU rumah sakit universitas, dengandata yang dikumulkan dari semua pasien yang dirujuk antara 1978 sampai 1994, menunjukkan angka kematian umum 7,4%. Data disajikan sebagai persentase dan dibandingkan dengan menggunakan uji Chi-square. Para peneliti menyimplkan bahwa mortalitas lebih tinggi pada anak-anak yang kekurangan gizi (RR:2,98;95%CI:2,64-3,36;p<0,0001), pada mereka yang berusia kurang dari 12 bulan (RR:1,86;95%CI:1,65-2,10;p0,0001) dan bahwa sepsis merupakan penyebab kematian yang paling utama.

Penelitian deskriptif lainnya di Brazil mereview data dari 69 kematian yang terjadi dalam 48 jam setelah perujukan di tahun 1993 untuk meneliti hubungan yang mungkin antara infeksi nosokomial dan angka kematian. Infeksi nosokomial dianggap sebagai penyebab sekunder pada 51% kematian dan penyebab utama pada 30% kematian, kebanyakan pada mereka yang sakit kritis saat dirujuk.

Dalam sebuah penelitian terhadap baktereia S. aureus  nosokomial pada pasien-pasien yang berusia di atas 14 tahun, para peneliti mengembangkansebuah model prediktif mortalitas, dengan membandingkan awal (39%), dan pertengahan (33%) tahun 1990an. Mereka tidak menemukan perbedaan signifikan dalam hal angka kematian. Berdasarkan regresi logistik, syok septik, sumber bakteremia dan resistensi metisilin ditemukan terkait positif dengan mortalitas selanjutnya.

Sebuah penelitian untuk mengevaluasi kekuatan prediktif dari skor PRISM untuk terjadinya infeksi nosokomial dikalangan 341 pasien yang dirujuk dari Juni 1998 sampai Desember 2000 di sebuah PICU Brazil dengan menggunakananalisis regresi logistik bertahap menemukan bawa prediktor terbaik untuk infeksi nosokomial adalah rasio pemanfaatan alat (OR:4,64;95%CI:2,7-7,9; p<0,001) dan terapi antimikroba sebelumnya (OR:1,26;95%CI:1,2-1,4;p<0,001), dan sehingga skor PRISM tidak bermanfaat untuk memprediksikan infeksi nosokomial. Sebuah makalah dari Departemen Kedokteran Perawatan Kritis, Universitay of Pittsburgh School of Medicine melaporkan bahwa limfopenia yang berkepanjangan (jumlah limfosit absolut < 1.000 selama > 7 hari) terkait independen dengan infeksi nosokomial (OR:5,5,95%CI:1,7-17,p<0,05), kematian (OR:6,8,95%CI:1,3-34, p<0,05), dan hiposelularitas splenic dan kelenjar getah bening (OR:42, 95%CI:3,7-473, p<0,05).
Kekurangan Penelitin-Penelitian yang Ada

Dalam review literatur yang kami lakukan, kami tidak menemukan ada penelitian yang hanya berfokus pada pasien anak, dan metodologi yang digunakan juga bervariasi, sehingga perbandingan cukup sulit dilakukan. Kebanyakan penelitian adalah penelitian deskriptif untuk angka kematian atau berfokus pada perjangkitan populasi neonatal, yang bukan merupakan target penelitian kami. Pada beberapa dari penelitian ini, analisis multivariat dilakukan dengan menggunakan regresi logistik, tetapi ini digunakan untuk mencari risiko-risiko untuk infeksi nosokomial, dan bukan analisis faktor prognostik kelangsungan hidup atau mortalitas yang terkait.

Beberapa penelitian meneliti infeksi nosokomial yang terkait dengan tempat infeksi tertentu atau agen etiologi tertentu. Yang lainnya berfokus pada infeksi PICU atau infeksi bakteri yang resisten. Deskripsi penggunaan anti-mikroba yang pertama di USA pada unit perawatan intensif neonatal (NICU) dan PICU melaporkan prevalensi penggunaan anti-mikroba yang tinggi dikalangan pasien-pasien ini; para peneliti menyimpulkan bahwa strategi-strategi penilaian yang menargetkan penggunaan antimikroba pada pasien anak diperlukan.

Karakteristik 42 episode bakteremia B. cepacia pada 40 pasien yang dirujuk ke Taipei Veterans General Hospital antara Januari 1997 sampai Desember 1999 dianalisis secara retrospektif. Kebanyakan pasien mengalami penyakti serius, seperti diabetes melitus, keganasan, gagal jantung kongestif, dan penyakit paru obstruktif kronis. Angka kematian secara keseluruhan adalah 29% (12/42), dan 44% (12/27) dari semua kematian terkait langsung dengan bakteremia B. cepacia.

Kebanyakan penelitian dilakukan di unit-unit rumah sakit, dimana populasi mencakup anak-anak berbagai usia serta orang dewasa, dengan heterogeneitas penyakit yang signifikan, mulai dari neonatus dengan atau tanpa kelainan bawaan, sampai remaja dengan atau tanpa trauma dan pasien yang terganggu sistem kekebalannya. Dengan demikian, pasien-pasien yang telah dirujuk ke rumah sakit atau PICU/NICU yang sama bisa memiliki faktor risiko yang berbeda, karena faktor risiko intrinsiknya. Ini cukup jelas, misalnya, di sebuah penelitian University of Pittsburgh School of Medicine; limfopenia berkepanjangan dan penyusutan organ-organ limfoid terkait apoptosis memegang peranan dalam kematian terkait sepsis-nosokomial pada anak-anak yang sakit kritis.

Untuk membandingkan faktor-faktor risiko yang berbeda, telah ada beberapa upaya yang dilakukan untuk membakkan skor-skor risiko untuk mortalitas; tetapi belum ada kesepakatan tentang cara yang terbaik untuk melakukan ini. Menurut sebuah studi kohort yang dilakukan di Potificia Universidade Catolica do Rio Grande do Sul, Hospital Sao Lucas PICU, skor Pediatric Risk of Mortality (PRISM) dan Pediatric Index of Mortalitiy (PIM) keduanya menawarkan kapasitas yang baik untuk membedakan antara pasien yang bertahan hidup dan pasien yang akan meninggal.

Dengan mempertimbangkan bahwa PICU berbeda-beda dalam hal kriteria perujukan, dalam penelitian lain, para peneliti menyimpulkan bahwa skor PRISM tidak bermanfaat untuk memprediksikan NI dan sehingga tindakan preventif harus berfokus pada induksi piranti-piranti invasif dan terapi antimikroba. Faktor-faktor risiko untuk BSI lebih sering terkait dengan proses perawatan-kesehatan dibanding dengan keparahan penyakit dikalangan pasien-pasien PICU.

Data dari penelitian surveilans USA (Surveillance and Control of Pathogens of Epidemiological Importance [SCOPE]), salah satu dari penelitian multi-senter terbesar yang dilakukan sampai sekarang ini, digunakan untuk meneliti trend-trend epidemiologi dan mikrobiologi BSI nosokomial. Penelitian ini mendeteksi 24.179 kasus BSI nosokomial pada 49 rumah sakit selama periode lebih tujuah tahun dari Maret 1995 sampai September 2002 (60 kasus per 10.000 perujukan rumah sakit). Angka kematian kasar adalah 27%. Para peneliti menyimpulkan bahwa proporsi BSI nosokomial akibat organisme-organisme yang resisten antibiotik semakin meningkat di rumah sakit-rumah sakit USA.

Tren sama bisa terjadi di Brazil, tetapi kami tidak menemukan data tentang Brazil. Penelitian di Amerika Utara lainnya untuk mengevaluasi hubungan antara perawatan antimikroba yang tidak memadai untuk infeksi (baik yang didapat dari komunitas maupun infeksi nosokomial) dan mortalitas ruah-sakit untuk pasien yang memerlukan perujkan ICU menemukan bahwa angka kematian yang terkait infeksi untuk pasien-pasien terinfeksi yang mendapatkan perawatan antimikroba tidak memadai (42%) secara signifikan lebih besar dibadning angka kematian yang terkait infeksi (17,7%) pasien terinfeksi yang mendapatkan perawatan antimikroba memadai (RR:2.37;95%CI: 1,83-3,08, p<0,001). Penentu independen lainnya untuk mortalitas rumah sakit mencakup jumlah gangguan sistem-organ yang didapat, penggunaan agen vasopressor, keberadaan keganasan, peningkatan skor APACHE II, usia yang meningkat, dan diagnosis non-bedah pada saat perujukan ke ICU. Kumpulan data lainnya menunjukkan bahwa pemberian perawatan antimikroba yang tidak memadai terhadap pasien yang sakit kritis dengan BSI terkait dengan kematian di rumah-sakit yang lebh besar dibanding dengan perawatan antimikroba BSI yang memadai dan sehingga upaya-upaya klinis harus ditujukan untuk mengurangi pemberian perawatan antimikroba yang tidak memadai pada pasien dengan BSI yang dirawat inap, khususnya individu-individu yang terinfeksi dengan bakteri yang resisten-antibiotik dan spesies Candida.

Sebuah trial terkontrol-acak-prospektif di Italia yang dilakukan di sebuah NICU perujukan tersier berkapasitas 20 tempat tidur membandingkan efektifitas dosis tunggal dan dosis profilaksis antibiotik 3 hari dalam mencegah infeksi-infeksi bakteri pada neonatus yang berisiko tinggi. Tidak ada perbedaan signifikan yang ditemukan antara kedua kelompok neonatus dalam hal berat lahir rata-rata, usia kehamilan atau usia post-natal saat perujukan. Kejadian infeksi vertikal cukup irip diantara kedua kelompok (16/67, 24% berbanding 14/63, 22%). Diantara 130 bayi baru lahir, 29 (22%) mendapatkan sekurang-kurangnya infeksi nosokomial selama tinggal di NICU; total infeksi yang didapatkan di rumah sakit, yang dihitung sebagai kepadatan kejadian infeksi (jumlah episode infektif dibagi dengan jumlah hari tinggal dalam NICU), kurang sering dikalangan bayi baru lahir yang mendapatkan pengobatan tiga-hari dibanding yang mendapatkan bous tunggal (rasio risiko [RR]:0,69). Perbedaan ini, walaupun tidak signifikan, dipengaruhi oleh  kepadatan kejadian infeksi nosokomial yang telah dibuktikan dibanding dengan infeksi yang diduga (RR:0,59;95%CI 0,32-1,09; p=0,1). Tidak ada perbedaan signifikan antara kedua kelompok dalam hal angka kematian secara keseluruhan. Administrasi bolus tunggal pada perujukan dengan demikian kemungkinan sama efektifnya dengan pengobatan profilaksis antibiotik selama 3-hari dalam mencegah inifeksi bakteri pada bayi-bayi berisiko-tinggi yang dirujuk ke NICU.

Sebuah penelitian retrospektif terhadap 56 neonatus yang dirujuk ke sebuah unit perawatan intensif neonatus dari 1996 sampai 2000 yang memiliki satu atau lebih kultur darah positif untuk Candida spp. meneliti durasi candidemia pada bayi-bayi baru lahir dan kejadian candidemia dapatan rumah sakit yang tersu menerus dan kesakitan serta kematian yang terkait dengannya dibanding dengan candidemia yang tidak terus-menerus. Para peneliti menyimpulkan bahwa candidemia neonatal yang terus-menerus (persisten) tidak terkait dengan angka kematian yang meningkat.

Sebuah penelitian surveilans prospektif longitudinal selama 11 tahun di Australia dan Selandia Baru untuk menentukan kejadian dan mortalitas akibat infeksi basilus Gram-negatif pada unit-unit neonatal menemukan bahwa 702 dari 3.113 (22.5%) episode sepsis onset akhir pada 681 bayi disebabkan oleh basilus Gram-negatif. Angka kematian keseluruhan adalah 21% (142 dari 681 bayi), dan ini terkait signifikan dengan maturitas, berat bayi, dan organisme penginfeksi. Mortalitas adalah sebesar 25% untuk bayi yang berusia kurang dari 30 pekan dibanding dengan 11,5% untuk bayi yang lebih dari atau sama dengan 30 pekan (p<0,0001). Infeksi oleh P. aeruginosa terkait dengan angka kematian 52% (46 dari 88 bayi), yang secara signifikan lebih tinggi dari fatalitas 14% sapai 24% akibat basilus Gram-negatif (p<0,0001). Selama surveilans, tingkat infeksi basilus Gram-negatif onset akhir tetap stabil pada 1,14 per 1.000 kelahiran hidup (kisaran 0,87 – 1,5). Demikian juga, mortalitas tidak berubah, yakni 0,25 per 1000 kelahiran hidup (kisaran 0,12-0,43). Para peneliti menyimpulkan bahwa basilus Gram-negatif merupakan penyebab pentng untuk sepsis neonatal onset akhir, khususnya dikalangan bayi berat lahir sangat rendah dan memicu mortalitas yang tinggi, khususnya infeksi Pseudomonas aeruginosa.

Dalam sebuah penelitian prospektif di sebuah rumah sakit universitas di Turki, 93 infeksi yang didapat di ICU pada 131 pasien ICU dievaluasi. Tingkat infeksi ditemukan sebesar 70,9 per 100 pasien dan 56,2 per 1.000 pasien-hari. Pneumonia (35,4%) dan BSI (18,2%) merupakan infeksi yang paling umum: S. aureus (30,9%) dan Acinetobacter spp. (26,8%) merupakan mikroorganisme yang paling sering diisolasi. Hasil dari analisis regresi logistik multivariat yang memperkirakan faktor-faktor risiko untuk infeksi yang didapatkan di ICU adalah sebagai berikut: lama tinggal di ICU (>7 hari) (OR:7,02;95%CI:2,80-17,56), gagal pernapasan sebagai penyebab utama perujukan (OR:3,7; 95%CI:1,41-9,70), pengobatan sedatif (OR:3,34;95%CI:1,27-8,79) dan bedah (sebelum atau setelah perujukan ke ICU; OR:2,56;95%CI:1,06-6,18). Pada analisis regresi logistik, usia (>60 tahun; OR:3,65;95%CI:1,48-9,0), skor APACHE II > 15 (OR:4,67;95%CI:1,92-11,31), intubasi (OR:3,60;95%CI:1,05-12,39) dan kateterisasi vena sentral (OR:7,85;95%CI:1,61-38,32) ditemukan sebagai faktor risiko signifikan untuk mortalitas. Perbedaan angka kematian antara pasien-pasien dengan infeksi yang didapat di ICU dan pasien yang tidak terinfeksi tidak signifikan (angka kematian: 42,3 dan 45,6%, masing-masing). Kejadian infeksi nosokomial yang tinggi juga ditemukan, dan faktor risiko untuk infeksi yang didapat di ICU dan mortalitas ditentukan.

Laporan dari Brazil cukup jarang, khususnya yang terkait dengan pola-pola kerentanan antimikroba selain data lokal. Masing-masing rumah sakit mengetahui agen lokal yang paling sering. Pseudomonas dan Acinetobacter telah memiliki pola resistensi yang terus meningkat. Frekuensi patogen dan pola-pola resistensi (termasuk rumah sakit-rumah sakit di Brazil) telah diteliti, dan ringkasan hasil telah dipublikasikan; meskipun demikian, data terbaru masih kurang.

Surat-berita pertama dari ANVISA (agens pemantauan obat dan kesehatan brazil) melaporkan pola nasional infeksi nosokomial dan tentang agen-agen etiologi serta berbagai laboratorium yang berpartispasi belum memiliki kendali kualitas. ANVISA menekankan kebutuhan untuk menggunakan metodologi yang memadai dan pengembangan prosedur di setiap rumah sakit.

Temuan-temuan ini dan variasi kemampuan laboratorium-laboratorium Amerika Latin untuk mendeteksi pola-pola resistensi antimikroba adalah alasan mengapa data internasional mendominasi dalam publikasi-publikasi di Brazil. Perspektif global di Brazil merupakan tangan besar.
Kesimpulan

Artikel yang kami review disini menunjukkan bahwa telah ada kemajuan-kemajuan upaya untuk mencegah dan mengontrol infeksi-infeksi nosokomial. Jumlah laporan dalam literatur Internasional telah meningkat dalam 10 tahun terakhir. Desain epidemiologi dan analisis statistik juga memiliki perbaikan kualitas selama tahun-tahun ini, mulai dari penelitian deskriptif sampai penelitian analitik. Meskipun demikian, beberapa data yang bersilangan juga ditemukan, khususnya pada pasien anak dan mortalitas yang terkait dengan infeksi nosokomia. Faktor-faktor risiko bervariasi dari faktor intrinsik sampai faktor ekstrinsik, tergantung pada dimana penelitian telah terjadi; ini mencakup infeksi nosokomial itu sendiri, leukemia, limfopenia, neutropenia, terapi kortikosteroid, kegagalan organ ganda, terapi antimikroba sebelumnya, durasi pemasangan kateter, candidemia, kanker, bakteremia, usia diatas 60, prosedur-prosedur invasif, ventilasi mekanis, transport keluar unit perawatan intensif-anak, S. aureus yang resisten methicillin, infeksi basilus Gram-negatif, P. aeruginos, B. cepacia, skor Fisiologi akut dan evaluasi kesehatan kronis (APACHE) II lebih dari 15.

Yang paling penting, penekanan diberikan untuk menghindari perawatan antimikroba yang tidak memadai untuk pasien-pasien yang sakit kritis. Diantara semua faktor risiko, satu-satunya yang normalnya bisa dimanipulasi adalah perawatan antimikroba yang tidak memadai, yang telah terbukti sebagai penentu penting angka kematian di rumah sakit pada pasien-pasien yang sakit kritis. Konsekuensinya, penting untuk mengidentifikasi agen infeksi etiologi dengan cepat untuk melakukan pengobatan antimikroba secara cepat berdasarkan hasil kultur dan perjalanan klinis pasien. Masih ada ruang untuk penelitian prognosis lebih lanjut di bidang ini, yang meneliti skenario lokal dan internasional, untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang masalah kematian anak yang terkait dengan infeksi nosokomial.

0 comments:

Post a Comment

BlueDEX Ads
 
Bloggerized by Blogger Template