Korelasi antara Diare dan Perilaku Kesehatan Pada Anak-Anak di Salvador, Brazil

Saturday, January 16, 2010

PENDAHULUAN
   
Diare terus menjadi salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas yang penting pada anak-anak di negara-negara berkembang. Di Brazil, penyakit ini masih memberikan beban yang besar bagi morbiditas dan mortalitas anak di beberapa daerah. Penatalaksanaan kasus yang baik telah mengurangi angka kematian dalam beberapa tahun terakhir tetapi belum memiliki dampak yang besar terhadap diare. Tindakan-tindakan untuk mencegah penyebaran diare masih dibutuhkan.

   
Persediaan air dan sanitasi untuk pencegahan penyakit diare pada anak belum cukup selama tidak disertai dengan perubahan perilaku kesehatan. Juga semakin disadari bahwa penggunaan survei kuisioner tidak tepat untuk meneliti perilaku yang berkaitan dengan masalah kesehatan dan lebih tepat jika digunakan pengamatan yang terstruktur. Masyarakat juga menunjukkan kereaktifan, dengan mengubah perilaku mereka menjadi lebih baik jika mereka mengetahui bahwa mereka sedang diamati. Meski demikian, pengamatan terstruktur tampaknya kurang subjektif terhadap bias dibanding pendekatan kuantitatif lainnya untuk menilai perilaku.
   
Kami melakukan sebuah penelitian epidemiologi terhadap hubungan antara diare dan perilaku kesehatan, dengan menggunakan pengamatan-pengamatan terstruktur yang dikumpulkan selama periode satu tahun dengan biaya yang sedang. Pengamatan dilakukan secara oportunis selama kunjungan rumahtangga dua kali sepekan yang berlangsung singkat dengan tujuan utama untuk mencatat diare pada anak-anak yang masih kecil. Untuk menguji manfaat dari pendekatan ini, kami mengevaluasi peranan fasilitas-fasilitas sanitasi dan perilaku kesehatan dalam penentuan penyakit diare.

BAHAN DAN METODE

Populasi penelitian
   
Rumahtangga yang akan diteliti diseleksi dari 30 daerah pengambilan sampel yang dipilih untuk mewakili seluruh kondisi sosial-ekonomi dan kondisi lingkungan di kota Salvador (jumlah penduduk 2,4 juta) di Brazil bagian timurlaut. Sebuah sensus terhadap 20.000 rumahtangga di daerah ini dilakukan. Rumahtangga yang memiliki anak-anak dibawah 3 tahun dipilih secara acak dari daftar rumah tangga lengkap.

Jadwal pengamatan
   
Sebanyak 23 perilaku spesifik diseleksi. Perilaku ini dianggap mungkin ditemukan selama kunjungan ke rumahtangga dan perilaku ini juga mengandung risiko penyebaran penyakit diare. Pengalaman tim pengamat, yang mencakup komentar pewawancara selama fase pendahuluan pengamatan dan pengamatan oleh antropologist, dan temuan penelitian sebelumnya digunakan sebagai dasar untuk seleksi perilaku ini. Daftar perilaku mencakup perilaku anak dan ibu atau orang lain dalam keluarga.

Pengamat dan implementasi
   
Kelima belas pengamat lapangan yang digunakan dalam penelitian ini memiliki pendidikan yang diperlukan. Mereka diseleksi berdasarkan kinerja yang ditunjukkan dalam uji coba yang telah dilakukan. Pengamatan dilakukan dua kali sepekan selama kunjungan follow-up ke rumah mulai dari pekan ke-18 sampai pekan ke-70 penelitian epidemiologi, yakni, dari 30 Maret 1998 sampai 29 April 1999. Data mencakup 942 dari 1.153 anak dalam penelitian utama – total sekitar 90.000 kunjungan rumah.

Analisis data
   
Analisis diprioritaskan untuk perilaku yang terkait langsung dengan perlindungan atau keterpaparan anak terhadap diare, sehingga beberapa perilaku dikeluarkan dari analisis karena merupakan perilaku ibu atau pengasuh anak yang tidak memiliki pengaruh terhadap diare anak. Dari beberapa perilaku yang tersisa, ada yang digabungkan; sehingga, untuk analisis, 33 kemungkinan dipertimbangkan.
   
33 kemungkinan ini dibagi menjadi 15 perilaku “negatif” yang kemungkinan mendukung penyebaran penyakit lewat mulut atau feses dan 18 perilaku “positif” yang kemungkinan dapat membantu mencegah penyebaran diare. Jika perilaku diamati satu kali atau beberapa kali, maka ditambahkan 1 skor untuk perilaku positif. Demikian juga, jika perilaku negatif diamati sekurang-kurangnya 1 kali, satu poin ditambahkan ke skor perilaku negatif dari anak tersebut.
   
Selanjutnya kami menjumlahkan semua skor perilaku positif dan dibagi dengan 18 untuk mendapatkan skor baku antara 0 sampai 1 untuk masing-masing anak. Demikian juga, skor untuk perilaku negatif dijumlahkan dan dibagi dengan 15. Skor baku ini dibulatkan menjadi 1 desimal. Terakhir, anak-anak dibagi menjadi tiga kategori, yaitu: 1) yang memiliki skor baku “negatif” lebih besar dari skor positif; 2) yang memiliki skor baku positif yang lebih besar dari skor negatif; dan 3) yang memiliki skor negatif dan positif yang sama.
   
Kejadian diare dan prevalensi longitudinal digunakan sebagai tolak ukur hasil. Analisis data dilakukan dengan program Stata. Analisis regresi Poisson digunakan untuk memperkirakan efek perilaku terhadap prevalensi longitudinal dan kejadian diare, dan uji X2 digunakan untuk uji signifikansi dalam tabel probabilitas.

HASIL
   
Beberapa perilaku diamati jauh lebih sering dibanding perilaku lainnya. Mandi sebelum makan siang misalnya, mewakili lebih dari sepertiga dari semua pengamatan yang dicatat untuk anak-anak dan hampir setengah dari yang dicatat untuk ibu. Perilaku ibu yang berkaitan dengan diri mereka sendiri juga berbeda dengan apa yang mereka praktekkan untuk anaknya. Anak-anak terlihat dimandikan atau dicuci tangannya sebelum makan pada 3.246 kejadian, tetapi ini hanya ditemukan pada 356 kunjungan.
   
Dari total 942 anak-anak yang diteliti, sebanyak 222 memiliki skor positif yang dominan, sedangkan skor dari 124 tetap negatif. Untuk 596 anak (63,3 persen), skor positif dan negatif tidak berbeda. Untuk 520 dari anak-anak ini, skor positif dan negatif tidak berarti. Mereka ini adalah anak-anak yang tidak ada perilaku positif atau negatifnya yang dilaporkan. Tidak ada korelasi signifikan yang diamati antara skor anak dan jumlah pengamatan yang dilakukan terkait dengan anak tersebut dan pengasuhnya.
   
Diantara anak-anak yang memiliki skor kesehatan dominan positif, prevalensi diare adalah 6,4 hari per tahun, sedangkan untuk anak-anak yang skor kesehatannya dominan negatif adalah 14,2 hari per tahun. Anak-anak yang tidak mendapatkan pengamatan mengalami prevalensi sedang. Perbedaan antara kelompok positif dan negatif sangat signifikan. Setelah data dikontrol untuk tujuh faktor pembaur yang potensial, termasuk keberadaan air kran dan toilet di rumah, maka risiko relatif berkurang menjadi 1,95 tetapi masih tetap tinggi. Kejadian diare adalah 2,4 episode per tahun diantara anak-anak yang memiliki skor dominan positif dan 4,1 episode per tahun diantara anak-anak yang memiliki skor dominan negatif.
   
Diantara rumahtangga yang memiliki jamban yang memadai, terdapat 2,2 kali lebih banyak anak-anak yang memiliki skor positif dibanding yang memiliki skor negatif tetapi hanya 1,2 kali lebih banyak pada rumahtangga yang tidak memiliki jamban layak. Juga ada sedikit hubungan yang diamati dengan persediaan air rumahtangga, dan tidak ada hubungan yang diamati dengan keberadaan jamban terbuka di sekitarnya. Pembuangan kotoran dan perilaku terkait independen dengan diare. Tidak ada perbedaan distribusi yang signifikan diantara kelompok apabila rumah tangga yang memiliki air kran dan yang tidak dibandingkan.

PEMBAHASAN
   
Observasi terstruktur telah digunakan hanya pada beberapa penelitian epidemiologi diare, karena pengimplementasian pengamatan terstruktur sangat mahal, memerlukan waktu yang banyak untuk melatih staf. Observasi selama periode waktu yang lebih lama akan mengurangi tingkat kereaktifan ketika orang sudah terbiasa dengan kedatangan pengamat, meski ini akan lebih menambah biaya yang dipakai. Juga ada perbedaan perilaku kesehatan  masing-masing individu dari waktu ke waktu.
   
Dalam penelitian ini, pengamatan-pengamatan terstruktur dilakukan sebagai bagian dari kunjungan dua mingguan ke rumahtangga-rumahtangga untuk mengumpulkan data tentang diare anak selama 3 atau 4 hari sebelumnya. Masing-masing kunjungan hanya dilakukan beberapa menit dan digunakan sebagai sebuah peluang bagi pengunjung untuk mengamati dan mencatat perilaku sehat yang dilakukan oleh anak dan ibu/pengasuh. Hasil yang ditunjukkan disini merupakan indikasi bahwa pendekatan yang digunakan memiliki kelebihan . Melalui pencatatan perilaku secara sistematis, para pengamat yang menggunakan strategi ini dapat menghindari kekurangan-kekurangan pengingatan metode yang bergantung pada kuisioner.
Metode ini juga memiliki kelebihan dibanding pengamatan memusat atau pengamatan mendalam, karena tidak terlalu menonjol dan memakan biaya yang sedikit meski tetap dapat diandalkan dibanding kedua metode lainnya karena keterulangannya selama periode waktu yang lama.
   
Kekuatan hubungan antara perilaku sehat dan rendahnya morbiditas akibat diare merupakan tanda dari validitas data pengamatan sehingga menunjukkan kelayakan strategi ini untuk mengumpulkan informasi berarti tentang perilaku sehat dengan menggunakan pendekatan oportunistik berbiaya rendah. Prevalensi diare sedang pada kelompok perilaku menengah mendukung pendapat bahwa kelompok ini adalah kelompok yang representatif dari populasi, dengan perilaku kesehatan positif dan negatif tertentu.
   
Data yang ditunjukkan disini merupakan indikasi dari pentingnya peranan perilaku kesehatan, disamping pentingnya persediaan air dan fasilitas sanitasi dalam rumahtangga, dalam terjadinya dan pencegahan penyakit diare. Risiko yang relatif signifikan dari diare, yang terkait utamanya dengan perilaku negatif sebagaimana dibandingkan dengan perilaku positif, adalah yang paling tinggi pada analisis univariat terhadap 12 faktor lingkungan dari diare.
   
Temuan utama adalah hubungan signifikan antara skor kesehatan positif dan keberadaan fasilitas jamban yang memadai dalam rumahtangga. Kelihatannya tidak mungkin bahwa keberadaan sebuah toilet adalah penyebab perbedaan perilaku, karena tak satupun dari perilaku spesifik yang memberikan kontribusi bagi skor yang berkaitan dengan praktek pembuangan feses. Meski demikian, kemungkinan ada hubungan sebab-akibat seperti ini jika air kran menyebabkan orang mempraktekkan perilaku kesehatan positif dengan menggunakan air dan jika air kran terkait dengan keberadaan sebuah jamban. Untuk memastikan apakah mungkin ada hubungan seperti ini, kami melakukan sebuah analisis serupa dengan daftar perilaku yang dibatasi pada perilaku yang terkait dengan penggunaan air. Akan tetapi, tidak ada hubungan antara skor perilaku kesehatan positif dan suplai air yang diamati jika dibatasi pada perilaku-perilaku tersebut.
   
Kami menyimpulkan bahwa hubungan sebab-akibat memiliki karakteristik lain; yakni, akan terlihat bahwa keluarga-keluarga yang rentan untuk memiliki sanitasi layak di rumah mereka memiliki kesadaran akan kesehatan yang lebih baik, sebagaimana ditunjukkan dalam perilaku mereka, dibanding keluarga yang tidak. Lebih daripada itu, perbedaan perilaku seperti ini tercermin dalam prevalensi diare diantara anak-anak mereka.
   
Tidak ada hubungan dengan perilaku seperti ini yang ditemukan untuk keberadaan saluran pembuangan terbuka di dekat rumahtangga, sebuah karakteristik pertetanggaan dimana infrastruktur komunitas kurang dan sebuah faktor yang dikendalikan oleh rumahtangga masing-masing. Ini menunjukkan bahwa perbedaan yang ditemukan ini lebih terkait dengan predisposisi masing-masing keluarga untuk memasang dan menggunakan toilet, dibanding dengan karakteristik pertetanggan dimana mereka tinggal.
   
Hubungan serupa antara fasilitas sanitasi dan perilaku kesehatan telah ditemukan dalam penelitian lain. Curtis dkkk. menemukan bahwa rumahtangga di Bodo Dioulasso, Burkina Faso, yang memiliki air kran lebih besar kemungkinannya terjada halaman rumahnya dari kontaminasi feses. Hoque dkk., menemukan di Bangladesh bahwa teknik pencucian tangan yang digunakan dalam rumahtangga yang memiliki jamban lebih merata dibanding pada rumahtangga yang tidak memiliki jamban. Pada kedua kasus ini, sifat perilaku tidak terkait dengan efek dari persediaan air atau toilet.
   
Hubungan antara sanitasi yang layak dan perilaku sehat menimbulkan keraguan tentang literatur-literatur yang menilai dampak kesehatan dari sanitas dengan penelitian-penelitian observasional terhadap penyakit diare. Penelitian seperti ini menggunakan analisis multivariat untuk mengontrol semua faktor pembaur yang mungkin, khususnya jika data terkait dengan kelompok keterpaparan yang dipilih sendiri dan risiko relatif yang terlibat cukup kecil. Jika keluarga yang memasang toilet berperilaku lebih sehat, maka fakta bahwa rumahtangga seperti ini memiliki lebih sedikit diare tidak dapat dikaitkan dengan toilet tetapi dengan karakteristik rumahtangga yang menyebabkan mereka memasang toilet.
   
Untungnya, ini tidak meragukan kesimpulan bahwa sanitasi berkontribusi bagi kesehatan di Salvador, karena penelitian lain yang dilaksanakan di luar kota telah menunjukkan bahwa hubungan antara angka diare yang tinggi dengan kurangnya sanitas lebih kuat apabila seluruh tetangga dibandingkan dibanding jika data dianalisis untuk satu rumahtangga saja.

0 comments:

Post a Comment

BlueDEX Ads
 
Bloggerized by Blogger Template