KEBUDAYAAN ORGANISASI

Saturday, January 2, 2010

Konsep kebudayaan organisasi merupakan sebuah konsep yang relatif baru. Topik ini menjadi penting di Amerika Serikat selama awal tahun 1980an, utamanya karena adanya ketertarikan dalam mempelajari mengapa perusahaan-perusahaan Amerika Serikat menganggap bahwa kebudayaan nasional dan kebudayaan perusahaan dapat menjelaskan perbedaan kinerja yang ada. Para pemimpin sekarang memahami bahwa apabila kebudayaan sebuah perusahaan cocok dengan kebutuhan lingkungan eksternal dan strategi perusahaannya, maka para karyawan bisa menciptakan sebuah perusahaan yang dianggap hidup.


Apa itu kebudayaan?

Kebudayaan bisa didefinisikan sebagai sekumpulan nilai-nilai, asumsi, pemahaman, dan cara pikir yang dimiliki bersama oleh para anggota sebuah organisasi dan diajarkan kepada anggota-anggota baru sebagai hal yang benar. Jika didefinisikan lebih husus lagi, kebudayaan merupakan sebuah pola asumsi bersama tentang bagaimana sesuatu dilakukan dalam sebuah organisasi. Pola ini ditemukan atau dipelajari ketika para anggota organisasi menangani masalah-masalah internal dan eksternal dan pada gilirannya diajarkan kepada anggota-anggota baru sebagai cara yang tepat untuk mengindera, berpikir, dan merasakan dalam kaitannya dengan masalah-masalah tersebut.

Beberapa nilai menjadi tertanam secara mendalam dalam sebuah kebudayaan yang mungkin tidak disadari oleh para anggota organisasi. Asumsi-asumsi dasar ini adalah inti yang paling dalam dari kebudayaan. Di perusahaan 3M misalnya, asumsi-asumsi ini bisa mencakup (1) bahwa masing-masing karyawan merupakan sumber dari semua inovasi, (2) bahwa masing-masing individu harus berpikir sendiri dan melakukan apa yang mereka anggap benar, bahkan jika harus menentang supervisor, dan (3) bahwa para anggota organisasi adalah bagian dari sebuah keluarga dan akan saling menjaga dan mendukung satu sama lain dalam menanggung risiko. Asumsi-asumsi pada umumnya bermula sebagai nilai-nilai yang diharapkan, tetapi dari waktu ke waktu menjadi tertanam lebih dalam dan kurang terbuka bagi pertanyaan – para anggota organisasi sering tidak menyadari asumsi-asumsi yang memandu perilaku mereka, bahasa mereka, dan pola interaksi sosial mereka.

Integrasi Internal

Kebudayaan membantu para anggota dalam mempunyai identitas kolektif dan mengetahui bagaimana bekerja bersama secara efektif. Kebudayaanlah yang memandu hubungan kerja harian dan menentukan bagaimana orang berkomunikasi dalam organisasi, perilaku apa yang berterima atau tidak berterima, dan bagaimana kekuasaan dan status dialokasikan. Kebudayaan bisa menanamkan sekumpulan aturan tidak tertulis dalam pikiran para karyawan, yang bisa sangat ampuh dalam menentukan perilaku, sehingga mempengaruhi kinerja organisasi. Penelitian-penelitian komparatif tentang praktik-praktik manajemen Amerika tradisional dan metode-metode manajemen Jepang menunjukkan bahwa keberhasilan perusahaan-perusahaan Jepang di tahun 1980an bisa dijelaskan sebagian dengan kebudayaan perusahaan yang kuat di perusahaan-perusahaan Jepang yang menekankan kolaborasi tim berdasarkan partisipasi karyawan, komunikasi terbuka, keamanan, dan keadilan.

Adaptasi Internal

Kebudayaan juga menenetukan bagaimana organisasi memenuhi tujuan dan mengatasi orang luar. Nilai-nilai kebudayaan yang tepat bisa membantu organisasi merespons dengan cepat terhadap kebutuhan konsumen atau pergerakan para pesaing. Kebudayaan dapat mendorong komitmen karyawan terhadap tujuan inti organisasi, tujuan-tujuan khususnya, dan sarana-sarana dasar yang digunakan untuk mencapai tujuan.
    Kebudayaan menjadi penting karena sama-sama mengikat karyawan, sehingga membuat sebuah organisasi sebagai komunitas dan bukan sekadar kumpulan individu-individu yang terisolir. Akan tetapi, agar organisasi tetap sehat dan dapat menghasilkan keuntungan, kebudayaan harus mendorong adaptasi terhadap lingkungan eksternal. Seperti yang akan kita bahas pada bagian berikut, kebudayaan organisasi yang kuat bisa memiliki dampak positif dan negatif.

MEMBENTUK KEBUDAYAAN

Para pemimpin menggunakan beberapa teknik untuk membentuk dan mempertahankan kebudayaan yang kuat dan sehat yang memberikan integrasi internal yang mulus serta memungkinkan organisasi untuk beradaptasi dengan kebutuhan-kebutuhan lingkungan eksternal. Para pemimpin dapat menggunakan ritual-ritual organisasi dan upacara-upacara, cerita-cerita, sibol-simbol, dan bahasa khusus untuk menanamkan nilai-nilai kebudayaan. Disamping itu, mereka dapat menekankan pemilihan dan sosialisasi karyawan baru untuk menjaga kebudayaan agar tetap kuat. Mungkin yang paling penting, para pemimpin mensinyalir nilai-nilai kebudayaan yang ingin mereka tanamkan dalam organisasi melalui tindakan keseharian mereka.

Seremonial

Seremonial merupakan sebuah aktivitas terencana yang membentuk sebuah peristiwa khusus dan umumnya dilakukan untuk para audiens. Para pemimpin bisa menjadwalkan seremonial untuk memberikan contoh-contoh dramatis tentang apa nilai-nilai perusahaan.

PEMBENTUKAN NILAI-NILAI

Para pemimpin sekarang ini mengenali pentingnya nilai-nilai bersama dengan menghabiskan banyak waktu dalam memikirkan dan membahasnya. Nilai adalah keyakinan yang berlangsung terus menerus, yang memiliki harga, kebaikan, dan urgensi bagi organisasi. Perubahan sifat-sifat pekerjaan, serta meningkatnya keanekaragaman tenaga kerja, telah menjadikan topik nilai sebagai pertimbangan utama bagi para pemimpin. Mereka dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti, “Bagaimana saya menentukan nilai-nilai kebudayaan apa yang penting? Apakah beberapa nilai “lebih baik” dibanding yang lainnya” Bagaimana kebudayaan organisasi membantu kita untuk lebih kompetitif?”

Kebudayaan Adaptasi. Kebudayaan adaptasi ditandai dengan pemimpin-pemimpin stratejik yang mendorong nilai-nilai yang mendukung kemampuan organisasi untuk menginterpretasi dan menerjemakan sinyal-sinyal dari lingkungan menjadi respons perilaku baru. Para karyawan memiliki hak otonomi untuk membuat keputusan dan bertindak secara bebas untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan baru, dan daya respons terhadap konsumen sangat dihargai.
Kebudayaan Pencapaian. Kebudayaan pencapaian ditandai dengan visi tujuan organisasi yang jelas, dan para pemimpin berfokus pada pencapaian target khusus seperti pertumbuhan penjualan, profitabilitas, atau pangsa pasar. Sebuah organisasi yang melayani konsumen spesifik dalam lingkungan eksternal tetap tanpa kebutuhan akan fleksibilitas dan perubahan cepat cocok bagi kebudayaan pencapaian.

Kebudayaan Klan. Kebudayaan klan memiliki fokus internal terhadap keterlibatan dan partisipasi karyawan untuk secara cepat memenuhi ekspektasi yang terus berubah dari lingkungan eksternal.
Kebudayaan Birokratik. Kebudayaan birokratik memiliki fokus internal dan orientasi konsistensi untuk lingkungan yang stabil. Kebudayaan ini mendukung cara metodlogis, rasionil, dan teratur dalam melakukan bisnis. Mengikuti aturan-aturan dan berhemat sangat dihargai. Organisasi sukses karena sangat terpadu dan efisien.

0 comments:

Post a Comment

BlueDEX Ads
 
Bloggerized by Blogger Template