Epidemiologi dalam konflik

Saturday, January 9, 2010

Abstrak

Pada isu tema khusus yang pertama ini, Emerging Themes in Epidemiology mempublikasikan sekumpulan artikel tentang tema Epidemiologi dalam konflik. Konflik kekerasan merupakan sebuah isu dengan kesensitifan yang besar dalam kesehatan masyarakat, tetapi penelitian yang lebih terstruktur dan diskusi beralasan akan memungkinkan kita untuk mengurangi dampak peperangan terhadap kesehatan masyarakat, dan menempatkan komunitas kesehatan masyarakat pada posisi yang lebih berwawasan dalam pembahasan tentang intervensi-intervensi yang mungkin pada konflik-konflik di masa mendatang.


Mungkin perang yang baru-baru terjadi di Irak telah merusak komunitas kesehatan masyarakat lebih dari konflik-konflik yang ada sebelumnya, dengan banyaknya jurnal ilmiah dan kedokteran umum yang mengutuk basis peperangan tersebut, mengutuk mereka yang terlibat dalam perang dan mengutuk para editor yang mencoba terlibat dalam politik dengan mempublikasikan kecaman-kecaman ini. Akan tetapi, untuk semua penyiksaan diri sendiri ini, pesan kesehatan masyarakat sebagian besar tidak terdapat dalam media utama dan diskusi politik.
   
Isu peperangan sangat sensitif dalam bidang kesehatan masyarakat, beberapa orang bahkan mengatakannya hal yang tabu. Tidak dianggap tepat untuk mencela peperangan secara terbuka. Mungkin kita merasa bahwa dengan terlibat pada apa yang banyak dirasakan sebagai isu politik akan ada ancaman pada idealisme ini, ini adalah masalah objektifitas. Atau mungkin kita merasa tidak nyaman dianggap terkait dengan aktivitas-aktivitas militer. Secara khusus, penggunaan bahasa militer dalam isu kesehatan masyarakat belum disambut dengan baik. Panggilan politik untuk perang terhadap masalah-masalah sosial dari obat dan kanker seolah-olah menjadikan invididu korban sebagai tersangka dan memberikan tujuan yang tidak realistis untuk pencegahan dan pengendaliannya. Ironisinya, kita telah mendeklarasikan perang terhadap berbagai penyakit masyarakat, termasuk perang itu sendiri. Dilema yang dihadapi seorang editor ilmiah yang mencoba untuk melawan arus politik dapat dilihat dalam editorial British Medical Journal: tidak melakukan apa-apa adalah sebuah keputusan politik yang sama dengan keputusan untuk melawan sebuah isu yang sedang muncul ke permukaan.
   
Dengan lingkungan seperti ini, pembaca mungkin kaget bahwa kita harus mengatasi isu khusus pertama kita dulu yang berkaitan dengan subjek Epidemiology dalam konflik. Alasan kita untuk melakukan ini cukup sederhana: tanpa mempertimbangkan konteks politik, peperangan akan sangat buruk utnuk kesehatan anda. Politisasi perang dalam kesehatan masyarakat tidak dianggap benar; merombak pertanyaan-pertanyaan kesehatan masyarakat dalam sebuah konteks politik akan mencegah kita untuk melakukan diskusi dan mencari solusi rasionil untuk pertanyaan itu. Disini, kami menggambarkan upaya-upaya untuk mengkomunikasikan hubungan antara merokok dan kanker paru-paru. Dalam refleksinya tentang subjek ini, Ernst Wynder menyebutkan oposisi yang dia temui ketika mencoba untuk menyampaikan tema dari penelitian pertama yang membentuk hubungan epidemiologi. Oposisi datang bukan hanya dari kepentingan pemerintah yang bersilangan, media dan perusahaan rokok, tetapi juga dalam profesi kesehatan masyarakat, yang pada saat itu didominasi oleh para dokter, banyak diantara mereka yang merupakan perokok, yang tidak terpakai dalam interpretasi data epidemiologi atau yang menganggap hubungan ini tidak masuk akal. Merokok merupakan sebuah isu yang sangat berbau politik, meskipun beberapa orang membantah bahwa Doll, Hill, Wynder dan pendukung-pendukung asosiasi kanker paru-paru–merokok telah melakukan hal lain selain mempublikasikan hubungan ini. Dengan pengetahuan yang memadai tentang risiko terhadap kesehatan mereka, seseorang mungkin merasa bebas untuk memilih merokok dan menerima tanggungjawab untuk memastikan dampak kesehatan pribadinya. Demikian juga, mereka mungkin memilih untuk menghindari risiko-risiko ini dengan tidak merokok bersama. Seseorang tidak bisa memilih untuk tidak berperang atau membebankan perang kepada orang lain. Keputusan seperti ini dilakukan oleh pemerintah, pemberontak atau kelompok-kelompok lain, banyak diantaranya yang tidak akuntabel bagi diri masing-masing. Dalam skenario ini, peranan akademik dan profesional, serta asosiasi profesional dan organisasi non-pemerintah dalam menginformasikan pemerintah dan masyarakat dan melahirkan isu yang mempengaruhi masyarakat secara keseluruhan bahkan menjadi lebih penting. Kewajiban profesional kesehatan sebagai advokat untuk kesehatan masyarakat ditekankan oleh Wynder dan tetap bisa diterapkan sekarang ini dan kemungkinan lebih relevan seperti isu perang:

“...konsensus opini diantara para ahli tidak cukup untuk menghasilkan tindakan selama konsensus ini belum ditranslasi mejadi tindakan preventif atau tindakan pengendalian... Ilmuwan dan dokter tidak bisa menetapkan sebuah temuan sampai manfaatnya atau hasil protektifnya untuk populasi telah disadari sepenuhnya. Ini berarti bahwa anggota komunitas ilmiah dan medis harus menjadi lebih proaktif dalam hal-hal yang menyangkut kesehatan masyarakat.”
   
Isu konsensus ini penting, tetapi sulit. Beberapa orang akan berpendapat bahwa perang itu pada dasarnya buruk untuk kesehatan masyarakat dan harus selalu ditentang. Sementara yang lainnya akan menganggap beberapa peperangan bisa dibenarkan jika berkenaan dengan ketidakadilan atau pelecehan hak asasi manusia. Dan ada juga yang memandang perang sebagai sesuatu yang tidak terhindarkan dan ingin berfokus pada peringanan penderitaan manusa.
   
Tanpa memperhatikan sudut pandang seseorang, masing-masing dari pendapat ini perlu didukung oleh bukti dengan jawaban terhadap pertanyaan kapan, bagaimana dan mengapa perang buruk untuk kesehatan masyarakat, serta bagaimana efek kesehatan yang berbahaya dari perang bisa dicegah. Disini terdapat tantangan terbesar bagi para ahli epidemiologi. Situasi-situasi konflik menghalangi kita untuk mengakses data dan menghancurkan infrastruktur kesehatan yang merupakan sandaran kita untuk pengumpulan informasi epidemiologi. Dalam menghadapi tantangan seperti ini, para penulis artikel dalam isu khusus ini berhadapan dengan berbagai isu yang memiliki relevansi besar bagi ahli epidemiologi.
   
Mock dkk. menyebutkan bahwa titik temu HIV/AIDS dan konflik lebih kompleks dibanding yang biasa diduga. Sering dikatakan bahwa perang memperburuk epidemik HIV, tetapi bukti ekologi menunjukkan bahwa bukan ini yang selamanya menjadi masalah. Para penulis menguji kompleksitas isu ini dan menganalisis bagaimana konflik bisa memperburuk dan menghambat penyebaran HIV.
   
McDonnell dkk. mengevaluasi peranan ahli epidemiologi dalam setting konflik. Kendala yang ada sekarang berakar dari fakta bahwa para ahli epidemiolgi tidak mendapatkan pelatihan tentang isu-isu yang berkaitan dengan tugas-tugasnya dalam area-area yang dipengaruhi konflik. Mungkin yang paling penting adalah skill komunikasi yang sesuai untuk memungkinkan pada ahli epidemiologi dalam mempresentasikan pesan mereka secara jelas sebagai pesan yang terkait kesehatan dan bukan dengan politik.
   
Roberts dan Hofmann menempatkan upaya organisasi-organisasi kemanusiaan di bawah pandangan epidemiologis. Organisasi-organisasi seperti ini sering mengukur keberhasilan dalam hal proses – berapa banyak makanan yang disalurkan, berapa banyak vaksinasi yang diberikan? Dari perspektif kesehatan ini hanyalah bagian dari sebuah hal yang wajar. Apakah tindakan-tindakan ini benar-benar memiliki dampak positif terhadap kesehatan? Kesulitan-kesulitan mengumpulkan informasi seperti ini berarti bahwa intervensi kemanusiaan jarang memasukkan hasil yang ril, prioritas yang diberikan tidak tepat. Artikel ini mengusulkan sebuah kerangka-kerja untuk menilai dampak bantuan ini terhadap kesehatan.
   
Paper ini menjadi dasar yang diharapkan menjadi pedoman bagi para penulis untuk terus berkarya sehingga cakupan komprehensif dari topik-topik relevan dalam subjek ini bisa dirampungkan. Masih banyak isu yang harus harus diatasi oleh komunitas epidemiologi (lihat gambar).

Beberapa dari isu ini melibatkan tantangan yang begitu besar sehingga kita mungkin tidak memulai memikirkan tentang bagaimana kita bisa memulai mengatasinya. Kami mendorong pada penulis untuk terus mengajukan artikel-artikel tentang tema Epidemiologi dalam konflik, sehingga kita tetap mendapatkan informasi tentang perkembangan bidang ini dan mempromosikan perspektif kesehatan masyarakat dalam pembahasan tentang konflik di masa mendatang.
   
Kami berharap para pembaca mau mengambil tantangan yang akan diinformasikan ini, terinspirasi dan terdorong melakukan tindakan. Ini adalah sebuah panggilan untuk melengkapi, bukan terhadap hambatan ketidakaktifan fisik dan asupan kalori berlebihan, adaptabilitas agen-agen infeksi atau seluk beluk interaksi gen – lingkungan, tetapi terhadap kebrutalan manusia yang saling membunuh satu sama lain. Kami mendorong para pembaca untuk meneliti dan membahas dampak kemanusiaan dan dampak kesehatan masyarakat dari penyakit sosial ini. Pengetahuan yang didapatkan memungkinkan kita untuk lebih baik dalam mengurangi dampak perang, dan menempatkan komunitas kesehatan masyarakat pada posisi yang lebih mendapatkan informasi dalam diskusi tentang intervensi-intervensi yang mungkin pada konflik-konflik di masa mendatang. Pena mungkin memang terbukti lebih tajam dari pedang, tetapi hanya jika masih digunakan untuk menulis.

0 comments:

Post a Comment

BlueDEX Ads
 
Bloggerized by Blogger Template