Efikasi krim pimekrolimus 1% pada pasien dewasa yang mengalami dermatitis perioral (POD): Sebuah penelitian acak, samar-ganda, dan terkontrol placebo

Saturday, January 9, 2010

Abstrak

Latar belakang: Dermatitis perioral (POD) merupakan sebuah dermatitis umum yang belum memiliki terapi baku.

Tujuan: Untuk mengevaluasi krim pimekrolimus 1% pada POD.

Metode: Kami melakukan sebuah penelitian multisenter, acak, samar-ganda, dan kelompok-paralel  pada paisen dewasa yang menderita PID diobati dua kali dengan krim pimekrolimus 1% setiap hari atau placebo sampai bersih selama sampai 4 pekan. Follow-up terjadi 4 dan 8 pekan setelah pengobatan.

Hasil: Pasien yang diobati dengan pimekrolimus memiliki skor Indeks Keparahan POD rata-rata 2,6 dibandingkan dengan 3,6 untuk pasien yang diobati dengan placebo. Kedua kelompok memiliki skor awal 5,2. Perbedaan antar kelompok adalah 0,9 (95% CI 0,4, 1,4, P = 0,0011). Pasien yang memiliki riwayat pemakaian kortikosteroid topikal mendapatkan manfaat pengobatan yang paling baik. Pasien yang diobati dengan pimekrolimus melaporkan perbaikan kualitas hidup yang lebih besar. Tidak ada perbedaan diantara kedua kelompok berkenaan dengan keamanan penggunaan obat.

Kekurangan: Zat yang digunakan pada kelompok kontrol bukan placebo murni.

Kesimpulan: Pimekrolimus cepat memulihkan gejala-gejala klinis dan memperbaiki kualitas hidup pasien POD, paling efektif pada POD yang ditimbulkan kortikosteroid.


    Dermatitis perioral (POD), yang juga disebut dermatitis periorifisial, merupakan sebuah erupsi acneiform umum yang asalnya belum diketahui, paling sering mengenai wanita muda dan wanita setengah baya. POD paling sering ditemukan pada daerah perioral tetapi dapat juga mengenai daerah periorbital dan perinasal serta pipi. Pola klinisnya terdiri dari papula-papula erythematous atau papulopustula, biasanya tidak lebih dari 2 mm. Seringkali disertai dengan erythema difusif dan scaling. Luka bakar lebih sering dilaporkan oleh pasien ketimbang gatal-gatal. Kualitas hidup sangat berkurang pada banyak pasien.

    Mekanisme patogenik masih belum jelas, tetapi ada banyak faktor yang dianggap relevan. Overhidrasi kulit yang disebabkan karena sering menggunakan penghalus kulit yang melembabkan berujung pada iritasi dan gangguan fungsi perlindungan kulit. Disamping itu, disposisi atopik cukup sering ditemukan pada pasien-pasien ini. Agen-agen infeksi juga dianggap berdampak dalam patogenesis POD, proliferasi flora kulit (seperti bakteri fusiform) yang kemungkinan didukung oleh penggunaan produk kosmetik secara berlebihan. Penyalahgunaan kortikosteroid topikal bisa menjadi faktor pemicu lain pada beberapa kasus.

    Sekarang ini belum ada kesepakatan umum tentang pengobatan baku untuk POD. Terapi biasanya terdiri dari penghentian penggunaan kosmetik dan kortikosteroid topikal. Karena memburuknya penyakit ini setelah penghentian terapi, beberapa pasien mencoba menggunakan kembali kortikosteroid topikal. Ini bisa meredakan penyakit dalam jangka pendek tetapi kemudian diikuti dengan memburuknya gejala-gejala. Metronidazol dan erythromycin topikal atau tetrasiklin sistemik juga efektif. Beberapa ahli kulit menyarankan tidak melakukan terapi. Pilihan-pilihan yang ada sekarang ini untuk mengobati POD masih terbatas dan tidak terlalu efektif.

    Pimekrolimus (krim Elidel, Novartis Pharmaceuticals, East Hanover, NJ), sebuah inhibitor kalsineurin, memiliki efek terhadap beberapa unsur sistem kekebalan alami dan adaptif, utamanya adalah pencegahan aktivasi sel-T. Dengan terikat ke makrofilin-12 dan selanjutnya menghambat fosfatase kalsineurin dependen-Ca, pimekrolinus menghambat produksi sitokin sel-sel T-helper tipe 1 (interleukin 2, interferon gamma) dan sel T-helper tipe-2 (interleukin 4, interleukin 10). Akibatnya, obat ini menghambat proliferasi sel T setelah stimulasi yang spesifik-antigen atau stimulasi nonspesifik. Krim pimekrolimus 1% memiliki keampuhan yang telah teruji untuk pengobatan dermatitis atopik pada bayi, anak-anak, remaja, dan dewasa. Krim pimekrolimus tidak menyebabkan atropi kulit sehingga berpotensi digunakan untuk daerah-daerah kulit yang sensitif.

    Karena efek anti-inflammatorynya, pimekrolimus tampaknya menjadi kandidat yang potensial untuk pengobatan POD. Sebuah penelitian pendahuluan single-center, acak, samar-ganda, dan terkontrol-placebo yang melibatkan 40 pasien POD dan beberapa laporan kasus menunjukkan efek bermanfaat dari pimekrolimus pada POD. Penelitian kali ini dilakukan untuk mengevaluasi keampuhan dan keamanan krim pimekrolimus 1% dalam sebuah penelitian multi-center, acak, dan terkontrol.

METODE

    Penelitian ini (studi PERIDEL)dilakukan sesuai dengan Good Clinical Practice dan Deklarasi Helsinki (2000). Protokolnya disetujui oleh komite fakultas kedokteran Universitas Kiel, Jerman. Izin tertulis didapatkan dari setiap pasien.

Rancangan penelitian

    Penelitian ini adalah penelitian multicenter, acak, samar-ganda dan terkontrol-placebo, dilakukan selama 4 pekan pada pasien dewasa (usia ≥8 tahun) yang menderita POD diikuti 8 pekan fase pengamatan bebas pengobatan untuk mengevaluasi frekuensi rekurensi. Penilaian selama penelitian dilakukan pada kunjungan terjadwal di hari ke-8, 15, dan 29. Para responden ditemui kembali 4 dan 8 pekan setelah akhir pengobatan.

Pasien dan demografi

    Hanya pasien dengan skor Indeks Keparahan POD (PODSI) lebih besar atau sama dengan 4 yang dimasukkan. Pasien yang pernah menggunakan obat antiinflammatory atau antimikroba topikal atau sistemik dalam 4 pekan terakhir dikeluarkan. Pasien yang diacak diobati dengan krim pimekrolimus atau placebo selama maksimal 4 pekan. Jika pembersihan sempurna telah dicapai, pengobatan dihentikan dan tidak dilanjutkan selama periode 4 pekan. Pasien akan mengoleskan obat penelitian dua kali sehari dengan lapisan tipis. Deutscher Arzneimittel Codex Basiscreme dibolehkan sebagai penghalus kulit. Setelah fase pengobatan selesai, para responden memasuki periode bebas pengobatan selama 8 pekan.

Penilaian hasil

    Variabel efikasi utama adalah perubahan rata-rata skor PODSI dari awal penelitian sampai pekan ke-1, 2, dan 4 pengobatan. Skor ini mencakup gejala-gejala tipikal dari POD, yang berupa erythema, papula, dan scaling, masing-masing memiliki skor antara 0 sampai 3. Lesi-lesi vesikular dan pustular, edema wajah, dan gejala-gejala subjektif seperti perasaan tegang atau gatal-gatal tidak dimasukan dalam skor. Hanya lesi kulit yang tidak diobati selama sekurang-kurangnya 6 jam yang cocok untuk penilaian PODSI. Skoring dengan nilai tidak bulat (0,5, 1,5, dan 2,5) diperbolehkan. PODSI didefinisikan sebagai skor jumlah dari 3 sifat dengan rentang 0 sampai 9. Gejala-gejala yang menghasilkan skor PODSI antara 0,5 sampai 2,5 dianggap ringan, dari 3,0 sampai 5,5 dianggap sedang, dan dari 6,0 sampai 9,0 dianggap parah. Untuk membandingkan keparahan PID antar kelompok pasien, pengurangan skor PODSI dihitung sebagai persentase dari skor awal. Penilaian dilakukan oleh orang yang sama untuk satu pasien dan dilakukan pelatihan pengamat sebelum dimulainya penelitian selama pertemuan para pengamat.

    Variabel-variabel sekunder adalah penilaian global keparahan penyakit dengan skala 6-poin dari bersih sampai sangat parah (bersih, sangat ringan, ringan, sedang, parah, sangat parah), waktu sampai rekurensi penyakit (yang didefinisikan sebagai peningkatan skor PODSI sebesar ≥50% nilai awal), efek terapi terhadap kualitas hidup pasien (dengan menggunakan Indeks Dermatology Life Quality [DLQI] dari Finlay dan Khan), dan efek terapi terhadap persepsi pasien mengenai keparahan penyakit (penggunaan skala analog visual [VASI]).

Penilaian keamanan

    Penilaian keamanan sebagian besar didasarkan pada tipe, frekuensi, dan keparahan kejadian berbahaya (AE).

Analisis statistik

    Analisis utama dilakukan dengan membandingkan pengobatan  berkenaan dengan variabel keampuhan primer dalam sebuah analisis model kovarians dengan faktor pengobatan, tempat, dan skor gejala dasar kovariat. Analisis subkelompok dilakukan pada sekelompok pasien yang diketahui menggunakan kortikosteroid topikal sebelumnya dan memiliki riwayat atopik. Kurva kelangsungan hidup untuk respon dan kejadian penyakit dianalisis dengan metode Kaplan-Meier dan dibandingkan dengan menggunakan uji log rank. Kualitas hidup dan variabel VAS dianalisis dengan analisis kovarians juga.

HASIL

Demografi

    Secara keseluruhan, 124 pasien didaftarkan dalam 21 rumah sakit di Jerman, 60 dalam kelompok pimkerolimus dan 64 pada kelompok placebo. Tidak ada perbedaan signifikan  antara kedua kelompok dalam hal usia, jenis kelamin, ras, riwayat penggunaan kortikosteroid topikal, riwayat atopik (Tabel 1), dan riwayat medis. Periode pembersihan untuk steroid topikal tidak ditentukan. Lebih lanjut, penentuan waktu dan golongan-golongan kortikosteroid topikal yang digunakan tidak dicatat. Secara keseluruhan, 33% dari pasien yang memiliki riwayat pengobatan steroid memiliki riwayat atopi. Ini sama seperti prevalensi riwayat atopi dalam seluruh populasi penelitian (27%).

    Sebanyak 112 pasien (56 masing-masing dalam kelompok pimekrolimus dan kelompok placebo) menyelesaikan fase pengobatan. Sebanyak 12 pasien (4 dalam kelompok pimekrolimus dan 8 dalam kelompok placebo) menghentikan trial selama fase pengobatan. Alasan berhenti adalah AE (salah seorang pasien pada kelompok pimekrolimus dan 4 pasien dalam kelompok placebo), efek terapi yang tidak memuaskan (dua pasien dalam kelompok pimekrolimus dan satu pasien pada kelompok placebo), dan membatalkan izin (tidak ada dalam kelompok pimkerolimus dan dua dalam kelompok placebo). Satu pasien dalam masing-masing kelompok tidak mengikuti follow-up.

Fase pengobatan

    Durasi pengobatan adalah 29,1 hari pada kelompok pimekrolinus dan 27,3 hari pada kelompok placebo. Pasien dalam kelompok pimekrolimus memiliki skor PODSI awal 5,2 dan menunjukkan respon cepat selama fase pengobatan. Pada hari 29, skor PODSI berkurang menjadi 2,1, dengan penurunan terbesar pada hari ke-8 (-2,0) (Gbr. 1). Jika dibandingkan dengan pasien pada kelompok placebo yang juga memiliki skor PODSI awal 5,6, responnya lebih lambat terhadap pengobatan, dan memiliki skor PODSI yang berkurang 1,0 pada hari ke-8 dan skor PODSI rata-rata 2,5 pada hari 29 (Gbr. 1). Skor PODSI rata-rata selama periode pengobatan adalah 2,6 pada kelompok pimekrolinus berbanding 3,5 pada kelompok placebo, perbedaan antar-kelompok dengan nilai mean disesuaikan adalah 0,9 (95% tingkat kepercayaan 0,4, 1,4, P = 0,0011).

    Pengobatan menimbulkan respon terapeutik (didefinisikan sebagai penurunan skor PODSI > 50% dibanding skor awal) pada 24 dari 60 (40%) pasien yang diobati dengan pimekrolimus pada hari ke-8 dan pada 39 pasien (65%) pada hari ke-29 (Gbr. 2). Pada kelompok placebo hanya 7 pasien (10,9%) yang bisa dianggap merespon pada hari ke-8. Pada akhir pengamatan di hari ke-29, 38 pasien dalam kelompok placebo (59,4%) menunjukkan penurunan skor PODSI yang lebih dari 50% (Gbr. 2). Kurva Kaplan-Meier untuk yang merespon secara signifikan berbeda antara krim pimekrolimus dan placebonya (P = 0,01) dengan waktu rata-rata untuk merespon 14 hari pada kelompok pimekrolimus dan 28 hari pada kelompok placebo (Gbr. 3). Empat pasien (6,7%) pada kelompok pimekrolimus dan 3 pasien (4,7%) pada kelompok placebo menunjukkan remisi lengkap dengan mencapai penurunan skor PODSI 0 selama fase pengobatan.

    Penilaian umum para pengamat menunjukkan perbedaan signifikan antara kedua kelompok perlakuan. Pasien dalam kelompok pimekrolimus menunjukkan penurunan keparahan penyakit lebih cepat, dengan 9 pasien (15,0%) yang didefinisikan hampir bersih pada hari ke-8. Jika dibandingkan, hanya satu pasien pada kelompok placebo (1,6%) yang didiagnosa hampir bersih pada hari ke-8. Dengan menggunakan penilaian umum para pengamat ini, 6 pasien (10,0%) mengalami remisi lengkap di hari ke-29 pada kelompok pimekrolimus berbanding 5 pasien (7,8%) pada kelompok placebo.

    Perbandingan pasien yang memiliki riwayat atopi (m=33) menunjukkan hasil yang mirip dengan analisis keseluruhan populasi penelitian. Pasien menunjukkan perbaikan lesi wajah yang substansial selama pekan pertama pengobatan (kelompok pimekrolimus dengan penurunan skor PODSI 5,1-3,6, kelompok placebo 5,1-4,2) dan pemulihan lebih lanjut sampai hari ke-29 (kelompok pimekrolimus dengan skor PODSI akhir 2,6, kelompok placebo 3,6).

    Imbas POD terhadap kualitas hidup pasien dinilai dengan menggunakan VAS (rentang 0-100 mm) dan DLQI Finlay dan Khan. Nilai VAS rata-rata berkurang pada kedua kelompok selama berlangsungnya penelitian, perbedaan dengan skor awal secara signifikan lebih tinggi pada kelompok pimekrolimus (Tabel II). Nilai awal rata-rata untuk DLQI pada kedua kelompok pengobatan adalah 9,5. Pasien dalam kelompok pimekrolimus mengalami penurunan DLQI sampai 3,3 pada hari ke-29 dibanding dengan 4,2 pada kelompok placebo. Nilai DLQI rata-rata selama periode pengobatan menunjukkan perbedaan signifikan antara kedua kelompok, dengan menunjukkan rata-rata 4,2 pada kelompok pimekrolimus berbanding 6,2 pada pasien yang diobati dengan placebo (selisih 2,1, CL 0,6m 3,5, P = 0,0071).
POD yang terkait steroid dan yang tidak terkait steroid

    Manfaat maksimal diamati pada pasien POD yang memiliki riwayat penggunaan kortikosteroid topikal. Sub-kelompok pasien (n=35), dengan POD terkait kortikosteroid dopikal memiliki skor PODSI rata-rata 5,4 pada awal penelitian dan berkurang menjadi 3,3 selama 8 hari pengobatan (-2,1) dan mencapai skor PODSI 2,3 pada hari ke-29 (-3,1) (Gbr. 4). Kelompok POD terkait-steroid yang diobati dengan placebo memiliki skor PODSI awal yang sama (5,4), tetapi berkurang hanya sampai 4,7 (-0,7) pada hari ke-8 dan 4,2 pada hari ke-29 (-1,2). Perbedaan antar-kelompok untuk nilai mean yang disesuaikan adalah 1,9 (95% CL 0,6, 3,1 P = 0,0070).

    Berbeda dengan itu, untuk pasien POD yang tidak menggunakan kortikosteroid topikal sebelumnya, efek pengobatan lebih kecil (baik untuk pimekrolimus maupun placebo). Kelompok pimekrolimus menunjukkan penurunan skor PODSI dari 5,1 menjadi 3,4 (1-7) pada hari ke-8 dan menjadi 2,8 (-2,3) pada hari ke-29, dibanding dengan pasien yang diobati placebo dengan penurunan dari 5,1 menjadi 4,0 pada hari ke-8 (-1,1) dan menjadi 3,1 (-2,0) pada hari ke-29 (Gbr. 5). Perbedaan antar-kelompok untuk nilai mean yang disesuaikan pada kasus ini adalah 0,3 (95% CL 0,3, 0,9, P=0,3380).

Fase follow-up

    Sebanyak 112 pasien berpartisipasi sampai tahap follow-up, 79 diantaranya menyelesaikan fase ini (39 pada kelompok pimekrolimus dan 40 pada kelompok placebo). Alasan berhenti dari 33 pasien (17 dalam kelompok pimekrolimus dan 16 pada kelompok placebo) adalah efek terapi yang tidak memuaskan (4 pasien pada kelompok pimekrolimus dan satu pasien dalam kelompok placebo) dan pencabutan izin (satu pasien pada kelompok pimekrolimus dan dua pasien dalam kelompok placebo). Salah seorang pasien dalam kelompok placebo berhenti karena masalah pemberian obat. Tujuh pasien (4 dalam kelompok pimekrolimus dan 3 dalam kelompok placebo) tidak mengikuti follow-up.

    Nilai mean skor PODSI yang disesuaikan adalah 1,12 pada hari ke-85 dalam kelompok pimekrolimus dan 1,10 pada kelompok placebo. Sebanyak 8 pasien memiliki skor PODSI 0 pada hari ke-85 dalam kelompok pimekrolinus dan 9 pada kelompok placebo. Rekurensi (didefinisikan sebagai peningkatan skor PODSI sebesar 50% atau lebih penurunan skor PODSI dari skor awal) terlihat pada 10 dari pasien yang diobati dengan pimekrolimus dan pada 6 dari pasien yang diobati dengan placebo. Perbedaan ini tidak signifikan. Waktu rata-rata untuk rekurensi tidak bisa dihitung karena jumlah kejadian yang cukup rendah. Penilaian kualitas tetap stabil selama fase follow-up pada kedua kelompok.

Kejadian-kejadian berbahaya

    Secara keseluruhan, 158 AE pada 77 pasien ditemukan selama berlangsungya penelitian. Pada semua, 66 AE terjadi pada 32 pasien kelompok peimekrolimus berbanding 92 AE pada 45 pasien dari kelompok placebo. AE di daerah wajah dan leher dengan hubungan obat diduga ditunjukkan pada tabel III. Salah seorang pasien dalam kelompok pimekrolimus melaporkan konjungtivitis dan lakrimasi meningkat. Ini hanyalah pasien yang memiliki AE di luar daerah pengobatan wajah yang dianggap kemungkinan terkait pengobatan. Tidak ada perbedaan signifikan antara kedua kelompok pengobatan dan tidak ada indikasi untuk infeksi kulit yang lebih besar pada kelompok pimekrolimus. Ini juga berlaku bagi infeksi herpes simplex.

PEMBAHASAN

    Sebuah penilaian klinis terbaru terhadap laporan-laporan tentang pengobatan POD secara jelas telah menunjukkan bahwa pengobatan POD masih memberikan tantangan. Sampai 2005, hanya satu percobaan berkualitas tinggi, acak, samar-ganda, terkonrol-placebo dengan hasil akhir diketahui yang telah dipublikasikan. Efek positif secara konsisten ditemukan berkenaan dengan pengobatan menggunakan tetrasiklin oral (kecuali 1 laporan) setelah menghentikan kortikosteroi topikal dan kosmetik. Penghentian terapi topikal pada akhirnya memperbaiki gejala POD, tetapi beberapa pasien akan mentrolerir pendekatan klinis ini karena sensasi luka bakar dan dampak serius terhadap kualitas hidup mereka. Penggunaan kortikosteroid topikal sebelumnya pada pasien-pasien ini sering meredakan gejala secara langsung, diikuti dengan memburuknya penyakit ketika kortikosteroid topikal dihentikan. Penggunaan kortikosteroid topikal yang sering pada daerah kulit yang sensitif ini bisa menghasilkan penyakit kronis dan hilangnya daya respon terhadap kortikosteroid topikal. Terapi non-kortikosteroid, khususnya dalam bentuk krim atau formulasi kosmetik yang berterima lainnya, menjadi alternatif pengobatan yang menarik pada kasus-kasus ini.

    Temuan-temuan ini sejalan dengan sebuah penelitian acak, samar ganda, terkontrol placebo yang dilakukan sebelumnya, yang mencakup jumlah pasien yang lebih kecil. Pada penelitian ini yang mencakup 40 pasien dewasa dengan POD (38 perempuan dan 2 laki-laki), besarnya pasien yang merespon setelah 2 pekan (>50% pengurangan skor gejala total) adalah 50% dengan krim pimekrolimus dan 25% dengan placebo. Pada pekan ke-1, 2, dan 4 nilai mean skor gejala secara signifikan lebih rendah dengan krim pimekrolimus. Setelah 8 hari pengobatan, 40% yang diobati dengan pimekrolimus mengalami perbaikan pesat pada gejala kulit dibanding dengan 10% pada kelompok placebo. Dengan demikian, untuk skor PODSI jumlah pasien yang merespon, hasil penelitian Oppel dkk. dan penelitian kami hampir sama. Kedua penelitian ini menunjukkan perbaikan gejala juga dengan placebo setelah 4 pekan, sehingga menguatkan bahwa kebanyakan kasus POD membaik atau bahkan sembuh tanpa terapi khusus. Akan tetapi, fase kritis adalah 2 pekan pertama, karena kebanyakan pasien dalam periode ini tidak puas dengan kondisi mereka, dan dalam periode inilah dimana kebanyakan pasien menggunakan kembali kortikosteroid, sehingga memperlama proses penyakit. Pengaplikasian krim pimekrolimus selama periode ini menyebabkan perbaikan signifikan. Ini tidak hanya terbukti ketika menggunakan PODSI sebagai skor evaluasi, tetapi juga berlaku untuk DLQI dan VAS. Ini menunjukkan bahwa pasien sendiri sangat puas dengan pengaplikasian krim pimekrolimus. Karena ada juga perbaikan pada kelompok placebo, maka mungkin perlu ditambahkan kelompok non-perlakuan. Akan tetapi, pada kondisi-kondisi ini penelitian samar-ganda tidak akan berjalan dengan baik.

    Sejalan dengan hasil di atas, toleransi pimekrolimus tampak baik. Sensasi-sensasi luka bakar, yang bisa diamati pada pasien dengan pengobatan atopik yang memulai terapi dengan pimekrolimus, jarang dilaporkan dalam penelitian ini. Demikian juga, tidak ada efek berbahaya serius terkait obat yang diamati pada kedua kelompok.

    Penghentian pengobatan dengan krim pimekrolimus tidak terkait dengan kekambuhan gejala kulit pada kebanyakan pasien yang mengikuti fase follow-up. Ini bisa mencegah pasien dari menggunakan kortikosteroid topikal kembali. Karena efek menguntungkan dari pimekrolimus tampaknya lebih besar pada pasien yang mengalami POD terkait steroid, maka ini adalah kelompok pasien yang secara pasti akan mendapatkan manfaat paling banyak dari pimekrolimus sebagai terapi yang aman dan efisien.

    Patogenesis POD belum diketahui seluruhnya, tetapi fungsi proteksi kulit yang terganggu pada daerah kulit sensitif kelihatannya berkontribusi. Krim pimekrolimus baru-baru ini telah dibuktikan memiliki efek positif terhadap regenerasi pembatas kulit pada pasien yang memiliki dermatitis atopik berbeda dengan kortikosteroid topikal. Data pendahuluan menunjukkan bahwa pimekrolimus meningkatkan pembentukan badan-badan lamellar dalam keratinosit, yang selanjutnya membentuk lipid interseluler. Temuan-temuan ini konsisten dengan pengamatan-pengamatan klinis, yang menunjukkan penormalan ketebalan epidermal dibanding dengan kortikosteroid topikal.

    Salah satu kekurangan penelitian ini adalah bahwa hanya satu durasi pengobatan yang diuji. Karena manfaat krim pimekrolimus dibanding dengan placebo paling terlihat dalam 2 pekan pertama pengobatan, maka durasi pengobatan yang kurang dari 4 pekan sudah bisa cukup. Ini masih perlu diteliti pada penelitian-penelitian di masa mendatang. Dari perspektif klinis, bisa disimpulkan bahwa krim pimekrolimus 1% menghasilkan perbaikan gejala klinis yang cepat dan memperbaiki kualitas hidup pasien POD, ditolerir dengan baik dan paling efektif pada pasien yang mengapai POD terinduksi kortikosteroid. Krim pimekrolimus bisa menjadi pilihan pengobatan yang menarik untuk POD, khususnya pada pasien yang memiliki riwayat pemakaian kortikosteroid topikal.
Efikasi krim pimekrolimus 1% pada pasien dewasa yang mengalami dermatitis perioral (POD): Sebuah penelitian acak, samar-ganda, dan terkontrol placebo

0 comments:

Post a Comment

BlueDEX Ads
 
Bloggerized by Blogger Template