Diagnosis aspirasi benda asing yang tertunda pada anak-anak

Friday, January 29, 2010

Abstrak

Aspirasi bedan asing pada anak-anak umum terjadi dan biasanya terjadi didahului dengan episode tersedak lalu diikuti dengan gejala-gejala respirasi. Anak-anak bisa batuk, mendesah, atau stridor, dengan suara napas yang berkurang atau abnormal pada pemeriksaan. Akan tetapi, aspirasi benda asing bisa menyerupai penyakit lain dan menyebabkan kesulitan dalam diagnosis. Pemeriksaan radiologi bisa membantu mendiagnosa aspirasi tetapi tidak boleh digunakan untuk menafikan kondisi ini. Kasus yang disajikan disini merupakan sebuah presentasi aspirasi benda asing dengan penundaan diagnosis dan salah didiagnosa sebagai asma bronchial. Diyakini bahwa penundaan diagnosis bisa dihindari dengan pendekatan yang lebih cermat terhadap riwayat dan penggunaan pemeriksaan yang sesuai. Kasus ini menunjukkan penggunaan CT scan dengan rekonstruksi dalam diagnosis benda asing.

Kata kunci: benda asing, aspirasi, anak-anak, Sudan


Di masa lalu, aspirasi benda asing (FBA) telah menjadi penyebab kematian dan kecacatan yang cukup signifikan. Telah dilaporkan penurunan angka kematian untuk FBA dari 24% menjadi 2% dengan penggunaan teknik-teknik endoskopi dalam pengeluaran benda asing. Sebagian besar penyakit ini mengenai anak-anak yang berusia < 4 tahun (55-57% kasus) dan dewasa yang berusia >50 tahun. Penyakit ini menyebabkan gejala-gejala pernafasan seperti desahan dan batuk setelah episode menelan. Pemeriksaan riwayat dan pemeriksaan klinis yang cermat bisa mengidentifikasi anak-anak yang memerlukan pemeriksaan tambahan seperti bronkoskopi. FBA bisa menyerupai kondisi-kondisi lain dan hubungan antara tersedak dan gejala-gejala selanjutnya tidak bisa diketahui oleh orang tua atau tenaga profesional lainnya.

Laporan Kasus

Seorang anak perempuan berusia 5 tahun dirujuk ke instalasi rawat darurat dengan masalah berupa batuk dan desahan. Gejala-gejalanya dimulai dua bulan yang lalu dengan batuk dan bunyi desahan. Episode bunyi desahan yang dialami berulang-ulang dan telah beberapa kali di bawah ke rumah sakit. Diagnosis asma bronkial ditegakkan dan pasien mendapatkan bronkodilator beberapa kali. Orang tua anak ini menyangkal adanya riwayat aspirasi benda asing. Pada pemeriksaan, anak itu terlihat sulit bernapas dengan laju respirasi 100. Radiograf dada diinterpretasi sebagai normal dan dia diberikan bronkodilator hirup dan dia sedikit membaik. Dia terus mengalami bunyi desahan dan batuk. Hari berikutnya dia mengalami bunyi desahan ekspirasi yang lebih keras pada sisi kiri dadanya. FBA diduga dan dilakukan CT scan. CT menunjukkan sebuah benda asing dalam trakea (gambar 1, 2, dan 3). Dia kemudian dirujuk untuk evaluasi bronkoskopi. Sebuah cincin plastik dikeluarkan dengan bronkodilator. Dia selanjutnya sembuh tanpa kesulitan dan dipulangkan ke rumah pada hari ketiga.

Pembahasan

Aspirasi benda asing oleh anak-anak di Sudan bukan merupakan kejadian yang tidak umum, khususnya mereka yang berusia di bawah 5 tahun. Anak-anak berisiko mengalami aspirasi benda asing karena sifat mereka yang selalu ingin tahu, kecenderungan oral yang kuat dan kurangnya gigi molar. Kondisi ini biasanya mengenali laring dan trakea dan terkadang paru-paru. Secara statistik, aspirasi benda asing (FBA) melibatkan hipofaring (5%), laring/trakea (12%) dan bronchi (83%). Dari benda-benda asing bronkial, kebanyakan (43%) berada pada mainstem kanan, diikuti dengan mainstem kiri (24%), bronchi segmental kanan (22%) dan bronchi segmental kiri (11%). Penyakit ini lebih sering terjadi dengan riwayat episode tersedak dan batuk diikuti gejala-gejala respirasi. Ini mencakup batuk, bunyi desahan, stridor, atau penumonia. Tanda fisik yang paling umum adalah suara napas yang menurun atau abnormal. Kebanyakan benda asing yang terhirup pada anak-anak adalah makanan.

Akan tetapi, diagnosis sering tertunda. Pada salah satu laporan kasus tundaan lebih dari tiga hari antara aspirasi dan pengeluaran benda asing dilaporkan pada hampir 30% anak-anak. Aspirasi benda asing bisa salah didiagnosa sebagai asma, infeksi saluran pernapasan atas, pneumonia, atau batuk sesak napas. Tundaan diagnosis terkait dengan morbiditas yang meningkat, khususnya infeksi pernapasan. Dalam salah satu penelitian, waktu untuk mendignosa dibagi sebagai berikut: 0 sampai 1 hari (45%); 1 sampai 7 hari (22%); 7 sampai 30 hari (14%); dan >30 hari (17%). Kebanyakan benda asing pada anak-anak memiliki karakteristik radiolusen, tetapi bisa terkait dengan hiperinflamasi, atelektasis, atau konsolidasi. Dalam sebuah studi kasus yang terdiri dari 189 anak yang mengalami aspirasi benda asing, 90 kasus (47,6%) memiliki radiograf dada yang normal. Diagnosis dan pengobatan tergantung pada laringoskopi langsung dan bronkoskopi. Di rumah sakit kami, opsi bronkoskopi yang fleksibel dan baik tidak tersedia. Yang baru dalam presentasi kali ini adalah penggunaan dan interpretasi CT scan dengan rekonstruksi. Ini, pada beberapa laporan kasus telah terbukti memberikan informasi yang sama baiknya pada anak-anak yang suspek FBA dan mencegah pemeriksaan baronkoskopi konvensional yang tidak perlu.
   
Anak-anak yang memiliki onset tersedak tiba-tiba dan batu harus ditindaki secara serius. Yang paling penting adalah riwayat menyeluruh tentang episode awal dan jika ada gejala-gejala yang terus menerus maka anak-anak harus dirujuk ke pemeriksaan bronkoskopik.

0 comments:

Post a Comment

BlueDEX Ads
 
Bloggerized by Blogger Template