Analisis In Vitro terhadap Permukaan-Permukaan Onlay Oklusal Yang Didesain dengan Komputer dan Yang Dibuat Di Laboratorium

Saturday, January 9, 2010

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi oklusi permukaan-permukaan onlay keramik yang dibuat dengan sistem pembuatan laboratorium (LAB) dan sistem pembuatan dengan bantuan komputer (COMP). Perawatan gigi molar pertama bawah disimulasi pada 16 cast. Sekurang-kurangnya tiga kontak statis dan lokalisasinya ditentukan terlebih dahulu (MIN3). Kontak-kontak oklusal yang didapatkan (CORR) dianalisis dan hasil bagi rata-rata (MIN3/CORR) untuk restorasi-restorasi yang diproses dengan sistem LAB dan COMP dihitung (1,06 ± 0,17 dan 1,03 ± 0,13, masing-masing). Uji Wilcoxon menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan (P < 0,05).


Apabila bahan keramik yang diproses dengan mesin digunakan untuk restorasi kontur penuh dalam pembuatan bahan restorasi yang dibantu dengan komputer (CAD/CAM), maka sangat diharapkan agar permukaan-permukaan oklusal yang dihasilkan memerlukan sesedikit mungkin koreksi setelah pemasangan, khususnya jika menggunakan teknologi cepat. Hubungan-hubungan oklusal non-fisiologis bisa mengarah pada gangguan kesehatan mulut. Telah dilaporkan bahwa software-software biogenerik bisa menghitung bentuk-bentuk oklusal yang hilang melalui perhitungan ruang vektor, yang didasarkan pada rata-rata gigi yang dapat mengalami deformasi tergantung pada karakteristik tipikal dari masing-masing tipe gigi yang akan direstorasi. Hipotesis null dalam penelitian kali ini adalah bahwa tidak ada perbedaan antara teknologi CAD/MAC yang menggunakan software biogenerik dengan sistem teknik laboratorium dalam hal jumlah kontak yang terbentuk pada permukaan-permukaan oklusal onlay.

Bahan dan Metode

Sebanyak 16 cast mandibula yang terbuat dari resin akrilik (AlphaDie Top, Schutz-Dental) dan cast maksila yang terbuat dari gipsum batu (esthetic-rock, dentona), yang mewakili gigi bebas karies dipasang dalam artikulator yang dapat disesuaikan/disetel (Contact Articulator, Lindauer Zahne) dan berfungsi sebagai model simulasi pasien. Pada salah satu molar pertama kiri bawah, sebuah siapan mahkota parsial dibuat menurut panduan untuk restorasi-restorasi silikat keramik. Sebelum preparasi dilakukan, sekurang-kurangnya tiga dari kontak oklusal stabil (MIN3) ditentukan yang diinginkan pada restorasi selanjutnya, karena pengamatan klinis pada gigi yang baik telah menunjukkan rata-rata jumlah 3 kontak pada gigi molar. Ketiganya terletak dalam fossa tengah, pada ridge distal, dan pada cusp bukal. Dua restorasi dihasilkan untuk setiap kavitas. Metode IPS Empress (Ivoclar Vivadent) diterapkan untuk menstimulasi metode laboratirum (LAB). Impresi dari cast pensimulasi diambil dan seluruh proses produksi laboratorium dicapai menurut instruksi pabrik (Gbr. 1a). Metode Cerec 3D (Sirona) diaplikasikan secara langsung pada model untuk mensimulasi perawatan (COMP) dengan mengambil gambar-gambar yang optimal dari preparasi dan dari registrasi gigitan statik yang terbuat dari material polivinil siloksana (Futar D Scan, Kettenbach). Restorasi dirancang dengan menggunakan software biogenerik, versi V 3.00 RC3 (Gbr. 1b).

Setelah diujicoba proksimal dan internal, artikulator ditutup dan kontak gigi-gigi di sekitarnya dengan antagonis diperiksa dengan foil pengartikulasi 12-um (Hanel). untuk setiap kontak yang yang hilang, restorasi harus disesuaikan dan dipoles sampai kontak antagonistik pada gigi di sekitarnya terbentuk. Secara simultan, sebuah upaya dilakukan untuk mempertahankan atau membuat kontak-kontak ini pada restorasi yang sesuai (CORR) dengan jumlah tiga kontak minimum yang telah ditentukan sebelumnya (MIN3) (Gbr 2a dan 2b). Hasil bagi berikut untuk model LAB dan COMP dihitung:


QULAB/COMPn1....,n16 = MIN3/CORR

dan dibandingkan secara berpasangan dengan uji Wilcoxon pada nilai P < 0,05.

Lebih lanjut, hasil bagi rata-rata (mean QULAB dan meanQUCOMP) untuk n = 16 dihitung.

Hasil

Uji Wilcoxon menunjukkan tidak ada perbedaan statistik antara onlay LAB dan onlay COMP. Statistik lebih lanjut ditunjukkan pada Tabel 1. Penyesuaian oklusal diperlukan pada 11 dan 12 dari 16 kasus untuk restorasi LAB dan COMP. masing-masing. Pada 1 kasus LAB dan 2 kasus CMP, jumlah minimum tiga kontak tidak dicapai.

Pembahasan

Sejauh yang penulis ketahui belum ada penelitian komparatif tentang sistem-sistem restorasi yang tersedia dalam hal oklusi. Sebuah desain in vitro dipilih karena prosedur analisis oklusal dalam lingkungan mulut terkait dengan beberapa kekurangan. Karena penggunaan model kaku yang terdiri dari artikulator dan cast, maka berbeda dengan kondisi normal, ketidakakuratan tidak dapat diimbangi oleh kelenturan jaringan oral. Harus disebutkan bahwa kesimpulan sebuah evaluasi in vitro tidak secara langsung berlaku pada situasi sebenarnya (in vivo).

Kesimpulan

Dengan kekurangan-kekurangan penelitian in vitro pendahuluan ini, kedua sistem menunjukkan bahwa kita bisa mencapai kontak oklusal yang memuaskan. Akan tetapi, lebih dipilih untuk memverifikasi temuan-temuan ini dalam sebuah penelitian in vivo.

0 comments:

Post a Comment

BlueDEX Ads
 
Bloggerized by Blogger Template