Condyloma Acuminata Giant Perianal (Tumor Buschke Lowenstein) – Laporan Kasus Pertama dari Lembah Kashmir

Wednesday, December 30, 2009

Abstrak

Tumor Buschke Lowenstein atau condyloma acuminata giant merupakan entitas penyakit yang langkan dengan hanya kurang dari 50 kasus yang dilaporkan dalam literatur sejauh ini. Belum ada kasus seperti ini yang telah dilaporkan dari lembah Kashmir. Penyakit ini dianggap sebagai lesi-lesi intermediet/peralihan antara condyloma acuminata sederhana dan karsinoma sel skuamous invasif. Seorang pria heteroseksual berumur 57 tahun datang dengan keluhan condyloma perianal giant. Lesi ini dieksisi secara bedah dengan sempurna. Pasca-operasi pasien diberikan salep 5-FU topikal. Pasien tidak mengalami rekurensi 6 bulan setelah bedah. Condyloma acuminata giant merupakan sebuah tumor agresif dengan kecenderungan mengalami rekurensi dan perubahan menjadi tumor ganas. Eksisi bedah merupakan perawatan yang dipilih. Kasus langka yang disajikan disini akan dibahas dengan telaah literatur.

Kata kunci: Condyoma acuminata, Buschke Lowenstein, Perianal


Pendahuluan

Condyloma acuminata giant perianal jarang ditemukan dengan hanya kurang dari 50 kasus telah dilaporkan sejauh ini. Penyakit ini mulai terjadi sebagai plak keratotik dan perlahan-lahan berekspansi menjadi massa yang mirip kol kembang, dengan membentuk tonjolan non-metastasis dan invasif yang hampir bisa menghilangkan kanal anal. Gejala yang paling umum adalah nyeri pelvis, luah (discharge) perianal, perdarahan anorektal atau gangguan buang air besar. Penyakit ini memiliki kecenderungan untuk pembentukan fistula, infeksi dan transformasi menjadi ganas. Kejadian transformasi menjadi ganas telah dilaporkan mencapai 52 persen yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan 1,82 persen pada condyloma acuminata biasa. Kasus pertama dengan patologi seperti ini dari lembah Kashmir dilaporkan dengan review singkat terhadap literatur-literatur yang ada.

Laporan Kasus

Seorang pria heteroseksual berumur 57 tahun, yang juga seorang perokok, datang dengan keluhan pembengkakan pada daerah perianal. Dua bulan yang lalu dia menemukan massa polypoid kecil yang terletak secara posterior dalam daerah perianal pada saat buang air besar. Perlahan-lahan pembengkakan meningkat ukurannya dan melibatkan seluruh daerah di sekitar anus. Ada riwayat konstipasi dan kesulitan duduk. Tidak ada riwayat  perdarahan per rektum, sakit saat buang air besar, luah perianal, penyalahgunaan obat i/v atau kontak seksual dengan banyak pasangan. Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan sistemik secara umum menunjukkan hasil yang baik. Pemeriksaan lokal menunjukkan massa berkutil (warty) yang mengelilingi seluruh lingkar anus dan bahkan menutupi luen (Gbr. 1,2). Tidak ada ulserasi atau cairan yang keluar. Tidak ada limfodenopati inguinal. Sigmoidoskopi menunjukkan asil normal. Laporan dari biopsi edge adalah papilloma skuamous. Pasien negatif HIV, HBsAg dan serologi HCV.

Pasien menjalani prosedur eksisi condyloma giant diikuti dengan penutupan primer – mukosa ke kulit dengan menggunakan catgut 2'o' (Gbr. 3). Periode pasca-operasi tidak begitu sulit dijalani pasien. Pasien selama follow-up ditemukan memiliki beberapa lesi rekuren seukuran biji yang terisolir. Pasien diberikan 5-Fluorourasil yang diaplikasikan secara lokal dimana dia menunjukkan respons disertai hilangnya lesi. Histopatologi spesimen yang diangkat menunjukkan tidak ada tanda-tanda transformasi menjadi tumor ganas.

Pembahasan

Condyloma acuminata giant atau tumor Buschke Lowenstein dianggap sebagai lesi intermediet/peralihan antara condyloma acuminata dan karsinoa sel skuamous invasif karena etiologi HPV yang umum. Meskipun condyloma acuminata giant dan condyloma biasa memiliki histologi jinak, namun condyloma acuminata giant berbeda dari condyloma biasa karena stratum korneum yang lebih tebal, proliferasi papillary yang jelas dan kecenderungan untuk menginvasi lebih dalam dan menggeser jaringan di bawahnya tetapi dengan membran dasar yang utuh.

Faktor-faktor yang terlibat dalam menyebabkan penyakit ini adalah:

a)Infeksi dengan virus HPV khususnya tipe 6 dan 11.
b)Efek iritasi dari hubungan seks anoreseptif jangka-panjang.
c)Merokok memegang peranan dalam transfromasi lesi anoreaktal dengan cara yang sama seperti yang diketahui menyebabkan displasia servikal.
d)Imunosupresi yang ditandai dengan terjadinya condyloma agresif pada pasien-pasien AIDS.

Eksisi bedah luas merupakan perawatan yang dipilih pada lesi-lesi ini. Yang tampak mempengaruhi kelangsungan hidup secara keseluruhan adalah pengendalian penyakit secara dini dengan bedah radikal. Kita tidak bisa menentukan apakah penggunaan Reseksi Abdominoperineal mewakili keagresifan dini atau perkembangan yang lambat. Follow-up yang cermat dan apabila terjadi rekurensi atau transformasi menjadi tumor ganas, Reseksi Abdominoperineal dapat memberikan harapan untuk penyembuhan. Bedah radikal akan memerlukan rekonstruksi perineum. Luka-luka kulit yang kecil bisa ditutupi dengan graf kulit mesh, sedangkan cacat yang lebih besar mungkin memerlukan flap myocutaneous. Flap Gracilis myocutaneous lebih dipilih karena mudah, memberikan rekonstruksi perineal langsung dalam satu tahapan operasi, memungkinkan rehabilitas yang baik dengan morbiditas minimum dan defisit fungsional dengan manfaat tambahan membiarkan dinding abdominal tetap utuh sehingga memungkinkan pengamatan stoma yang aman.

Imunoterapi sebagai sebuah perawatan alternatif pada lesi-lesi yang besar ini memiliki tingkat keberhasilan 94 persen. Vaksin individual dibuat dari masing-masing pasien dan diinjeksikan kembali kedalam tubuh pasien.

5-Fluorourasil bermanfaat dalam pencegahan rekurensi setelah ablasi condyloma. Pengobatan ini harus dimulai dalam 4 pekan khususnya pada pasien yang terganggu sistem kekebalannya. Obat ini harus diberikan sebagai krim 5% setiap dua pekan selama 10 pekan. Obat ini telah dianggap sebagai pilihan terbaik untuk mencegah rekurensi pada pasien yang terganggu sistem kekebalannya.

Pengaplikasian topikal podophyllin meskipun bekerja dengan baik pada condyloma biasa, namun menghasilkan hasil yang buruk pada condyloma acuminata giant. Penggunaannya juga bisa menyebabkan perubahan-perubahan histologis yang menyerupai karsinoma dan dengan demikian menyebabkan kesulitan diagnostik.

Peranan radioterapi dan kemoterapi dalam mengobati lesi-lesi giant ini tidak pasti. Penelitian ekstensif yang telah dilakukan terkait dengan tingginya rekurensi dari bedah radikal karena insiden-insiden yang terjadi selama operasi. Dengan mengurangi lesi-lesi ini sebelum operasi dengan kemoradioterapi situasi ini bisa dicegah. Jadi kemoradiasi pra-operasi perlu diujicoba. Kekhawatiran tentang efek karsinogenik kemoradioterapi neo-adjuvant tidak diperhitungkan, begitu yang berkaitan dengan gangguan bidang jaringan, karena lesi sendiri mendistorsi dan merusak anatomi lokal.

Karbon dioksida dan laser Nd-YAG juga digunakan untuk mengeksisi lesi-lesi ini dan menyebabkan lebih sedikit nyeri pasca-bedah dan penyembuhan luka beda yang lebih baik. Bleomycin intralesional atau interferon juga telah diujicoba pada lesi-lesi semacam ini. Interferon cukup mahal dan memerlukan kunjungan yang sering ke dokter.

Kasus ini mengilustrasikan kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam penatalaksanaan codyloma acuminata gint karena kelangkaan penyakit dan kurangnya trial-trial klinis. Eksisi bedah agresif dini menjadi pilih perawatan. Pengaplikasian 5-FU topikal kelihatannya penting dalam mencegah rekuresi. Lebih lanjut, kebutuhan akan surveilans yang teliti pasca-operasi tidak bisa terlalu ditekankan.

0 comments:

Post a Comment

BlueDEX Ads
 
Bloggerized by Blogger Template